Melanjutkan Perjuangan Pak Harto, Berkarya Targetkan 80 kursi di DPR

Redaktur: ME. Bijo Dirajo

553
Sekjen Partai Berkarya, Priyo Budi Santoso. Foto: Ist

JAKARTA — Partai Berkarya menyambut gembira hasil survei Indo Barometer yang menempatkan Pak Harto sebagai Presiden yang paling berhasil memimpin Indonesia. Seperti diprediksi, akan tiba suatu masa dimana masyarakat luas akan terkenang kembali jasa dan prestasi para pemimpinnya, termasuk era Presiden Soeharto. Beberapa tahun belakangan ini, telah terjadi demam kerinduan enaknya zaman pak Harto di berbagai daerah di tanah air.

“Kini kami tidak ragu-ragu mengatakan bahwa salah satu strategi Partai Berkarya adalah mengangkat kembali memori masyarakat pada zaman Pak Harto dengan tagline yang sudah beredar luas ‘luwih enak zamanku to?’ bersama foto pak Harto dengan senyum khasnya,” sebut Priyo Budi Santoso, Sekjen Partai Berkarya melalui keterangan tertulis yang diterima Cendana News, Senin (21/5/2018).

Namun, tambahnya, pihaknya juga nenyerukan kepada seluruh elemen bangsa untuk bersama-sama merajut sejarah kebaikan-kebaikan semua zaman: Orde Lama, Orde Baru, maupun Orde Reformasi.

“Kita serap kebaikan-kebaikan, prestasi dan capaian masing-masing Orde tanpa harus berlebihan mencela para pemimpin pada zamannya. Bangsa ini akan besar kalau berdamai dengan sejarah dan tidak lagi tenggelam dalam kebencian sejarah,” tandasnya.

Priyo Budi Santoso bersama Tommy Soeharto. Foto: Ist

Disebutkan, mengatakan bahwa Pak Harto adalah tokoh bangsa yang hebat merupakan hak semua orang. Bapak Pembangunan yang besar jasanya. Demikian pula Bung Karno adalah Bapak pendiri bangsa yang hebat. Mereka berdua adalah putra-putra terbaik yang pernah dilahirkan bangsa ini. Presiden-presiden setelahnya diharapkan merupkan resultante dari kebaikan-kebaikan pendahulunya.

Sementara terkait perbedaan Partai Berkarya dengan Golkar, Priyo Budi Santoso menjelaskan, platform hampir sama dengan Golkar dan partai-partai nasional besar lainnya tentang ke-Indonesiaan, kebangsaan, Bhinneka Tunggal Ika, Pancasila, UUD 1945, NKRI.

“Yang membedakan, Partai Berkarya kini dipimpin langsung Hutomo Mandala Putra yang adalah trah Soeharto. Kami juga tidak ragu-ragu mengusung kembali ajaran Soeharto tentang Tri Logi Pembangunan sebagai solusi terhadap karut-marut situasi bangsa sekarang ini,” terang Priyo Budi Santoso.

Trilogi yang diperbarui yang intinya adalah pertumbuhan ekonomi yang tinggi, pemerataan pembangunan dan stabilitas nasional yang mantap.

“Tanpa panduan yang jelas, arah pembangunan kita akan melewati lorong yang gelap,” tambahnya.

Sementara untuk capres, Partai Berkarya belum bersikap apapun dan belum tertarik untuk ikut-ikutan gerakkan tagar #2019gantipresiden.

“Kami juga belum putuskan untuk mendukung siapapun. Kami masih menunggu siapa tahu muncul sosok pemimpin yang mampu selamatkan bangsa dari situasi pancaroba ini. Tokoh mumpuni yang diyakini bisa menjamin stabilitas keamanan dan sekaligus bisa membawa perbaikan ekonomi,” sebutnya.

Dijelaskan, saat ini, pihaknya lebih fokus untuk pemenangan pileg, karenanya tagar partai berkarya yakni #2019gantilegislatif. Ketua Umum Tommy Soeharto sudah memerintahkan untuk ambil sekurangnya 80 kursi DPR RI.

“Orang bilang ini ambisius? Jawabannya adalah ini kalkulasi yang matang. Kami tidak ingin hanya sekedar lolos dari lubang threshold 4 persen,” tambahnya.

Pihaknya menargetkan, jelas Priyo, Berkarya menjadi partai pemenang pemilu 2019 atau paling tidak masuk lima besar.

“Jika dipercaya rakyat, kami siap mengambil alih kekuasaan politik di parlemen an kami akan abdikan untuk Indonesia yang lebih baik. Kami melihat tanda-tanda bakal ada perubahan peta politik yang dramatis pada pemilu 2019 ini,” jelasnya.

Pemilu di Malaysia telah memulainya, Barisan Nasional yang dipimpin PM Najib yang disokong partai-partai mapan telah rontok dikalahkan partai baru yang dipimpin tokoh lama Tun Mahathir yang segenerasi dengan Pak Harto.

“Efek bola saljunya sudah berasa dan akan segera berimbas disini,” pungkas Priyo Budi Santoso.

Baca Juga
Lihat juga...