Mengenal Ragam Anggrek Nusantara di TMII

Editor: Mahadeva WS

853

JAKARTA – Taman Anggrek Indonesia Permai (TAIP) Taman Mini Indonesia Indah (TMII) memiliki pesona keindahan yang menarik untuk dikunjungi. Suasana area wisatanya memberikan sensasi keharuman wangi bunga nusantara yang bisa membuat betah pengunjung. 

Kepala Laboratorium Taman Anggrek Indonesia Permai Budi Rustanto mengatakan, TAIP diresmikan oleh Presiden Soeharto pada 20 April 1993. Lokasinya di Jalan Raya TMII, Jakarta Timur. Taman ini merupakan pengganti dari TAIP sebelumnya yang terletak di Slipi, Jakarta Barat dan dibangun Yayasan Harapan Kita pada 1974.

Namun TAIP di Slipi sejak berdiri di 1974 hingga 1990, kondisinya sepi seperti tak bertuan tanpa kehadiran petani, hobies, dan kolektor, akhirnya ditutup.  “Atas perakarsa Ibu Tien Soeharto, TAIP-pun dibangun di Jalan Raya TMII, sebagai penggantinya dengan pertimbangan agar dekat TMII dan bisa menjadi wahana pariwisata nasional,” kata Budi kepada Cendana News ditemui, Kamis (31/5/2018).

TAIP kini berdiri di atas lahan seluas 4,5 hektar. Bangunannya dirancang dengan dasar pemerataan dan pemasaran anggrek secara memadai agar mampu mendukung peningkatan mutu peranggrekan nasional. TAIP juga dilengkapi dengan sarana prasana yang terdiri kantor pengelola, laboratoriun, green house, ruang kursus, dua puluh kavling pergangrekan, mushola, dan show room.

Dengan sarana yang lengkap tersebut TAIP diharapkan mampu melakukan fungsi dan kegiatannya. Yaitu sebagai pusat peragaan anggrek nasional, pusat pemasaran anggrek dan tanaman hias beserta sarananya. Juga sebagai objek agro wisata dan rekreasi, penelitian dan pengembangan penganggrekan, serta pusat informasi peranggrekan. “Seperti pesan Ibu Tien, TAIP ini untuk melestarikan, pengembangan dan pembudidayaan penganggrekan Indonesia,” ujar Budi.

Dalam perkembangannya, Ibu Tien juga berpesan agar TAIP memberikan ruang khusus bagi petani, pedagang, hobies, dan kolektor anggrek di nusantara. Sehingga keberadaanya bisa membantu terjalinnya ikatan kuat pelestarian bunga anggrek di Indonesia.

Kepala Laboratorium Taman Anggrek Indonesia Permai Budi Rustanto – Foto : Sri Sugiarti

Menurut Budi, ada sekira 3.000 jenis (spesies) lebih anggrek nusantara menghiasi TAIP. Ragam jenis anggrek itu berasal dari Papua, Kalimantan, Sulawesi, Jawa, dan provinsi lainnya. Namun demikian,  bunga anggrek yang mendominasi TAIP adalah bunga anggrek spesies  anggrek bulan  atau phalaenopsis amabilis.

Selain keindahannya, anggrek bulan merupakan anggrek asli Indonesia yang telah ditetapkan pemerintah Orde Baru (Orba) sebagai Puspa Pesona atau salah satu Bunga Nasional Indonesia. Yang dimaksud bunga nasional adalah bunga yang dapat mewakili karakteristik sebuah bangsa dan negara.

Indonesia sendiri memiliki tiga bunga nasional yang ditetapkan melalui Keputusan Presiden No.4/1993. Tiga bunga nasional tersebut jelas adalah bunga melati putih (jasminum sambac) sebagai puspa bangsa, bunga anggrek bulan (Phalaenopsis amabilis) sebagai puspa pesona, dan bunga padma raksasa (Rafflesia arnoldii) sebagai puspa langka.

Puspa bukan bahasa serapan, puspa adalah bahasa asli Indonesia merupakan bentuk lain dari Puspita yang berarti bunga atau perempuan. Dalam bahasa Jawa, Puspa dibaca dengan Puspo yang berarti kembang atau bunga. “Jadi puspa bangsa, puspa pesona dan puspa langka adalah bentuk penghargaan pemerintah pada masa itu kepada kaum perempuan di seluruh Indonesia melalui bunga,” jelas Budi.

Penghargaan kepada kaum perempuan Indonesia melalui TAIP TMII tidak berlebihan, mengingat pemilik ide cemerlang pemrakarsa TMII adalah Ibu Tien Soeharto. Anggrek bulan menebarkan keharuman yang khas dan waktu mekarnya cukup lama, mewakili nusantara. “Yang oleh Ibu Tien diwujudkan dalam TMII yang masih mekar dan harum pelestarian seni budaya, fauna dan flora nusantara,” tandasnya.

Anggrek adalah bunga dari semua raja bunga. Karena semakin kedepan bunga anggrek itu makin bagus dan indah berkat modifikasi, tidak seperti bunga yang lain. Contohnya adalah anggrek dendrobium ungu yang disilangkan dengan amabilis putih. Warna dan jenis keduanya sudah beda, lalu disilangkan hasilnya seperti apa dilakukan di laboratorium dibawah pengawasan para ahli.

Melalui modifikasi warna, anggrek yang tinggi bisa dibuat jadi sedang atau pendek. Sebaliknya anggrek yang pendek bisa jadi sedang dan tinggi.”Modifikasi perkawinan itu ada saving, sampling, dan crossing. Perkawinan silang ini untuk mencari jenis anggrek baru,” ujarnya.

Proses pembibitan anggrek di laboratorium TAIP TMII. foto: Sri Sugiarti.

Kedua, dengan cara kultur jaringan, yaitu satu tanaman anggrek bisa dibuat menjadi ribuan bahkan jutaan dengan waktu telatif singkat tapi perpusat dengan induknya. Laboratorium TAIP berfungsi sebagai pendukung pengembangan budidaya anggrek yang dilengkapi dengan sarana yang canggih.

Di dalam laboratorium dapat dilakukan perbanyakan tanaman anggrek, baik melalui penyebaran biji hasil silangan dengan metode konvensional maupun vetatif dengan kultur jaringan. “Hasil pengembangan bibit anggrek diharapkan dapat memenuhi harapan konsumen, dalam hal ini petani, pedagang, hobies, dan kolektor,” kata Budi.

Menurut Dia, pengunjung TAIP utamanya para pelajar dan mahasiswa serta masyarakat umum sangat antusias. Mereka tidak hanya berwisata melihat keindahan bunga anggrek. Tetapi  juga menimba ilmu seputar peranggrekan Indonesia.

Dengan cara ada yang pengikuti kursus pembudidayaan anggrek dan merangkai anggrek. Atau sekedar tentang jenis-jenis anggrek. Seperti halnya siswa TK yang ingin mengenal jenis anggrek dan warnanya. Di antaranya,  C.chocolate drop, Den.sonia exsokul, Den.dark blue, Blulb.echinolabium, V.tricolor, Onc. Izumi, Gram.scriptum, dan jenis lainnya.

“TAIP ini kan pusat informasi dan penelitian serta pembudidayaan anggrek. Maka kewajiban kami membimbing anak sekolah itu biar tahu ragan anggrek nusantara. Bahkan ada mahasiswa yang magang di sini, belajar,” pungkasnya.

Baca Juga
Lihat juga...