Menikmati Sate Kere yang Harganya Murah Meriah

Editor: Satmoko

312

SOLO – Untuk bisa menikmati kuliner di Solo tidak semuanya harus mengeluarkan uang yang banyak. Ada salah satu menu kuliner yang nikmat serta penuh dengan cerita sejarah yang ada di Kota Bengawan. Salah satunya adalah sate kere.

Salah satu sejarawan di Solo, Heri Priyatmoko menyebutkan, keberadaan sate kere sudah ada sejak zaman kolonial Belanda. Adanya sate kere tak lepas dari potret buram masyarakat miskin yang tak kuat membeli daging dengan kualitas baik tanpa bercampur gajih.

“Gajih disingkirkan. Lantas diopeni wong cilik yang tak sanggup belanja daging serta gagal menikmati sate daging yang biasa dilahap kalangan elite maupun saudagar,” papar alumnus Universitas Sebelas Maret Surakarta (UNS) tersebut, Sabtu (25/5/2018).

Sejarawan muda di Solo, Heri Priyatmoko. Foto Harun Alrosid

Lebih lanjut dia mengatakan, kantong cekak (tipis) membuat masyarakat miskin hanya mampu menelan ludah. Dengan segenap kreativitas dan merawat angan-angan menyantap sate, bahan buangan (gajih) bersama gembus (ampas kedelai) diolah di pawon (dapur).

“Hasil olahan orang kelas ‘kere’ inilah yang kemudian jamak disebut ‘sate kere'” urainya.

Dibuangnya gajih ini tak lepas dari aturan yang dikeluarkan kolonial Belanda sebagai kebijakan. Tempo dulu, di perkotaan besar di Jawa lazim ditemukan abattoir (tempat penyembelihan hewan).

Bangunan tersebut didirikan pemerintah kolonial Belanda bersama penguasa lokal  guna menjamin kualitas konsumsi kaum Eropa akan daging sapi. “Demi menjaga kesehatan konsumen, pengelola abattoir pantang menjual daging bercampur gajih (gemook),” terang dia.

Maka, sejak 1849 ditelurkan kebijakan perihal pemotongan sapi dan kerbau. Isinya: binatang njang dipotong, baik antero atawa potong-potongannya tiada bolee di toetoop sama gemook, tetapi misti ditinggalken begimana adanja, dan lagi tiada bolee potong binatang njang sakit, atawa djoewal dagingnja binatang njang mati.

Bahkan, agar aturan itu tidak kandas di tengah jalan, petinggi kolonial membagikan buku pedoman resmi ke perusahaan koran. Harapannya, jurnalis turut mengabarkan ke khalayak. Misalnya, Redaksi Djawi Hisworo menerima pemberian buku Slachtbelasting No. 6/F terbitan Departement Binnenlandsch Bestuur tahun 1918 supaya turut mengumumkan kepada segenap pembaca soal aturan tersebut.

Dengan judul artikel ‘Aturan Potong Gurung (Tenggorokan)’, redaksi menulis bahwa buku berbahasa Belanda dan disisipi bahasa Melayu tersebut memuat regulasi tentang pajak menyembelih sapi, kerbau, dan babi yang berlaku di Hindia Belanda.

“Kaum bumi putera maupun asing yang berdiam di tanah jajahan, bila punya buku ini akan memperoleh pengetahuan perihal pajak dan belanja daging,” tandas Dosen Sejarah, Fakultas Sastra, Universitas Sanata Dharma Yogyakarta itu.

Di Solo sendiri, keberadaan sate kere sangat mudah dijumpai. Bahkan, sejak Presiden Joko Widodo mantu, sate kere “naik daun” karena orang nomor satu di Indonesia itu memesan khusus makanan yang erat dengan sejarah kaum miskin untuk jamuan tamu-tamu penting. Salah satunya adalah produk Mujiati, penjual sate kere yang ada di Kampung Nglondo, Baki, Sukoharjo.

Mujiati, salah satu pedagang sate kere di Sukoharjo. Foto Harun Alrosid

Perempuan ini mengaku sudah lebih 30 tahun menjual sate kere. “Sudah sejak perawan saya jualan sate kere. Jualan hanya manggrok (menetap) di depan rumah,” katanya saat ditemui Cendana News.

Meski tergolong sudah lama, setiap ada gelaran pementasan wayang, perempuan 53 tahun ini selalu mendatangi lokasi tersebut. Hal ini salah satu upaya mendekatkan kepada pecinta sate kere.

“Kalau ada wayangan biasa ikut datang. Sampai jauh juga, kadang sampai Cokro Klaten, sampai Boyolali juga,” imbuhnya.

Sate kere pun dijual dengan harga yang sangat murah. Satu porsi hanya dijual Rp5 ribu. Dirinya juga tidak membatasi berapa pun yang ingin membeli. Bahkan di bawah Rp5 ribu juga tetap dilayani.

“Tidak mahal-mahal Mas, orang jualan di desa,” pungkasnya.

Lihat juga...

Komentar Anda

Alamat email anda tidak akan disiarkan.