Menurut Pengamat, Ini Alasan Kenapa Polisi Jadi Target Teroris

Editor: Mahadeva WS

349
Arya Sandhiyudha, pengamat politik internasional - Foto: Sultan Anshori

DENPASAR – Terorisme umumnya diasumsikan sebagai serangan terhadap publik tidak bersenjata atau warga sipil yang tidak berdaya. Dan bukan serangan terhadap mereka yang melindungi masyarakat.

Namun demikian, saat ini telah terjadi pergeseran asumsi. Pengamat Politik Internasional Arya Sandhiyudha menyebut, serangan teroris yang menargetkan Polisi menurut Global Terrorism Database (GTD) antara 1970 hingga 2017, mencapai hampir 12%. “Polisi menjadi urut kelima jenis target paling populer, mereka telah menjadi fokus teroris hampir sebanyak militer, pemerintah, dan entitas bisnis,” ujar Arya, Senin (14/5/2018).

Penerima Cerficate in Terrorism Studies (CTS) dari International Center for Political Violence and Terrorism Research (ICPVTR) Singapore tersebut menilai, ada beberapa alasan mengapa Polisi saat ini menjadi sasaran aksi terorisme. Yang paling pertama adalah alasan simbolis.

Polisi dianggap target proksi untuk target lain yang diinginkan seperti pemerintah atau negara. Kemudian alasan praktis, yaitu polisi bisa dijadikan beberapa target sekaligus, seperti mendapatkan senjata atau bahan lain yang dibutuhkan. Alasan selanjutnya adalah, polisi dianggap penghalang rencana serangan.

Kemudian alasan demonstratif, atau untuk menunjukkan daya kekuatan dan komitmen teroris untuk mewijudkan tujuan mereka. Alasan keempat karena target yang mudah diakses. “Mereka bagai buah yang tergantung paling dekat digapai atau cukup mudah diserang,” tandasnya.

Pemilik gelar Doktor di bidang Hubungan Internasional dari Istanbul University, Turki, tersebut menilai, target teroris umumnya bisa kombinasi dari beberapa alasan tersebut.

Baca Juga
Lihat juga...