Merapi Waspada, Warga Cangkringan Hentikan Aktivitas

Editor: Koko Triarko

256

YOGYAKARTA – Sebagian warga Dusun Glagaharjo, Cangkringan, Sleman, memilih menghentikan aktivitasnya sehari-hari pascaletusan freatik Gunung Merapi pada Senin (21/5) malam. 

Peningkatan status gunung Merapi dari level I (Normal) ke level II (Waspada), membuat sebagian warga lereng Gunung Merapi, memilih tetap berada di rumah masing-masing sambil memantau kondisi dan situasi.

Suparjan (40) salah seorang warga Glagahmalang, Glagaharjo, Cangkringan, Sleman. –Foto: Jatmika H Kusmargana

Meski dampak letusan kecil berupa hujan abu tak terlalu dirasakan, namun sebagian warga yang masih trauma dengan peristiwa erupsi tahun 2010 lebih memilih untuk lebih waspada dan berhati-hati.

Seperti dilakukan Suparjan (40), warga Glagahmalang, Glagaharjo, Cangkringan, Sleman. Warga lereng gunung Merapi yang tinggal di hunian tetap (huntab) Glagahmalang ini, memilih tidak bekerja pada Selasa (22/5) pagi.

“Sejak semalam kita di sini tidak tidur, berjaga memantau situasi. Sebagian ada yang mengungsi. Sebagian lagi tetap tinggal. Hari ini saya juga memilih tetap di rumah, tidak bekerja karena mengantisipasi jika sesuatu terjadi,” ujar lelaki yang sehari-hari bekerja sebagai penambang pasir di Kali Gendol itu.

Meski jarak rumahnya cukup jauh dari puncak Merapi, Suparjan mengaku tetap khawatir jika erupsi besar Merapi kembali terjadi. Pasalnya, berdasarkan pengalaman erupsi tahun 2010, tak sedikit rumah yang jaraknya cukup jauh dari puncak ikut terkena dampak letusan Merapi.

“Sebenarnya warga di sini sudah biasa. Tidak takut atau apa. Namun sejak letusan besar tahun 2010 itu, warga semakin berhati-hati dan waspada. Karena dampaknya luar biasa. Kita tidak ingin hal semacam itu terulang kembali,” katanya.

Baca Juga
Lihat juga...