Mimpi Masyarakat Desa Bangket Parak Lombok Miliki Bendungan Pertanian

Redaktur: ME. Bijo Dirajo

197

LOMBOK — Srinate, lelaki paruh baya 60 tahun, petani lahan tadah hujan, Desa Bangket Parak, Kabupaten Lombok Tengah, Nusa Tenggara Barat nampak sibuk memasukkan lumpur ke dalam setiap lubang congkelan tanah menggunakan potongan botol plastik air mineral.

Aktivitas tersebut dilakukan sebagai salah satu cara menyiasati kelangkaan ketersediaan air irigasi pertanian untuk menanam tanaman tembakau di areal lahan miliknya.

Dengan cara tersebut lobang tanah congkelan cangkul sebagai tempat menanam bibit tembakau bisa langsung ditanami dan tidak perlu disiram agar tanah gembur, mengingat ketersediaan air terbatas dan banyak embung mulai kering.

“Kalau mau siram areal lahan persawahan pakai air supaya tanah gembur, mau dapat dari mana, embung dan DAM sudah pada kering, makanya memasukkan lumpur sebagai salah satu cara menyiasati,” kata Srinate, ketika ditemui Cendana News, Senin (14/5/2018).

Kalaupun ada beberapa embung warga yang masih memiliki air, debitnya sedikit, jelas tidak mencukupi dan hanya bisa dipakai untuk kebutuhan pemupukan tanaman tembakau dan sedikit pengairan.

Kalau tidak dengan cara seperti itu menyiasati, maka petani Desa Bangket Parak akan sulit bisa menanam tembakau dan cara tersebut sudah biasa dilakukan petani hampir setiap tahunnya.

Sementara untuk kebutuhan pemupukan, petani biasa membeli dari agen yang berkeliling menggunakan mobil pickup, dimana satu tangki bisa dibeli dengan harga 100 ribu rupiah.

“Ini saja sudah tiga bulanan lebih tidak pernah turun hujan, sejak masa panen musim hujan usai dilakukan, makanya air embung dan DAM mulai mengering,” katanya.

Dikatakan, Desa Bangket Parak sendirin termasuk kawasan lahan tadah hujan yang kerap dilanda kekeringan setiap tahun, dengan intensitas hujan lebih sedikit dibandingkan kawasan lain Pulau Lombok bagian selatan.

Mimpi Miliki Bendungan Irigasi

Upaya mengatasi kekeringan lahan pertanian bukan tidak pernah dilakukan Srinate bersama masyarakat lain, dengan membendung DAM Ameng secara swadaya sejak tahun 2000, dimana warga difasilitasi camat dan Desa waktu itu secara bergotong royong melakukan urunan dana dan material pembangunan bendungan.

Tapi karena keterbatasan anggaran hasil urunan tidak seberapa ditambah tidak kompaknya semua warga dari desa lain ikut membangun, membuat hasil kerja membendung DAM Ameng tidak seberapa.

Keinginan membendung sebagian besar dari masyarakat Desa Bangket Parak, sementara masyarakat desa tetangga kurang respon, sehingga hasil pembangunan tidak maksimal, belum lagi proses pendangkalan DAM terus terjadi, akibat endapan tanah yang dibawa aliran sungai dari hulu, makanya airnya cepat kering.

“Padahal kalau DAM Ameng bisa dibendung dengan besar dan endapan sedimentasi bisa dikeruk, makan tidak hanya petani Desa Bangket Parak yang akan terdampak kemakmuran air, tapi juga beberapa desa lain seperti Desa Truai, Desa Kidang, Desa Marong dan Desa Bilelando,” katanya.

Dengan kondisi kekeringan yang terus terjadi setiap tahun, Srinate bersama masyarakat lain berharap kepada pemerintah bisa dibangunkan bendungan supaya kebutuhan irigasi pertanian seperti musim kemarau sekarang bisa dipenuhi.

Amaq (bapak) Tunim, petani yang juga Ketua pengumpul dana pembangunan DAM Ameng, Desa Bangket Parak mengenang bagaimana perjuangan dirinya bersama masyarakat mengumpulkan dana secara swadaya demi satu impian memiliki DAM atau bendungan yang bisa menampung air untuk kebutuhan irigasi pertanian.

Srinate, petani lahan tadah hujan, Desa Bangket Parak, Kabupaten Lombok Tengah. Foto : Turmuzi

Ia mengenang bagaimana dirinya bersama warga lain setiap kepala keluarga (KK) mengeluarkan uang Rp. 500.000 setiap satu hektar dan batu lima kubik setiap KK, tapi karena dana terkumpul tidak seberapa, hasil pembangunan juga tidak maksimal.

“Terkait kondisi ini Pemerintah Kabupaten Lombok Tengah pernah menjanjikan untuk dibangunkan, tapi sampai sekarang tidak pernah kunjung terealisasikan, kami merasa tidak pernah diperhatikan,” katanya.

Dikatakan, Kepala Desa yang diharapkan bisa membangunkan melalui Dana Desa, ternyata tidak bisa diharapkan. Padahal kalau saya lihan di televisi pak Presiden pernah bilang, setitik air harus dimanfaatkan sebaik mungkin bagi kebutuhan petani.

Dengan kondisi seperti ini, apakah selama ya kita sebagai petani akan tetap miskin, dilanda kekeringan dan hasil panen diproleh pun tidak mencukupi hingga masa panen tiba, belum lagi kebutuhan anak sekolah.

Tunim pun mengenang bagaimana masa Presiden Soeharto tahun 80-an, dimana petani tidak pernah mengalami kesulitan air seperti sekarang, karena intensitas hujan turun lebih sering sebab hutan tetap terjaga.

“Presiden Soeharto juga memberikan bibit padi berumur pendek secara gratis, tidak harus beli,” katanya.

Lihat juga...

Komentar Anda

Alamat email anda tidak akan disiarkan.