Mimpi yang Membawa Pak Harto Bertemu Lurah Cikaroya

Oleh Mahpudi, MT

1.130

Catatan redaksi:

Dalam catatan berseri ini, Redaksi cendananews.com selain menurunkan sejumlah tulisan dan liputan berbagai acara, juga menampilkan berbagai aktivitas. Salah satunya, catatan ekspedisi Incognito Pak Harto tahun 2012. Ekspedisi yang dilakukan oleh sebuah tim dari YHK yang terdiri dari Mahpudi (penulis), Bakarudin (jurnalis), Lutfi (filatelis), Gunawan (kurator museum), serta salah satu saksi sejarah peristiwa itu, yaitu Subianto (teknisi kendaraan pada saat incognito dilaksanakan). Meski sudah cukup lampau ekspedisi itu dilakukan, dan hasilnya pun sudah diterbitkan dalam buku berjudul Incognito Pak Harto –Perjalanan Diam-diam Seorang Presiden Menemui Rakyatnya (2013) dan Incognito – The President Impromptu Visit (2013) serta Ekspedisi Incognito Pak Harto –Napak Tilas Perjalanan DIam-diam Seorang Presiden Menemui Rakyatnya (2013) , namun hemat kami catatan ekspedisi yang ditulis oleh Mahpudi dalam beberapa bagian ini tetap menarik untuk disimak. Sebab, seperti disimpulkan oleh penulisnya, peristiwa blusukan ala Pak Harto yang terjadi pada tahun 1970 ini sangat patut dijadikan salah satu tonggak sejarah nasional Indonesia.

Selamat Membaca.

Incognito pak harto
Pak Harto menyambangi rumah kepala desa R. Antiko dan bertutur tentang mimpinya untuk bertemu dengan sang kepala desaCikaroya, Warungkondang, Cianjur (9/4/1970)). Foto: Ist

Bagian 12 Catatan Ekspedisi Incognito Pak Harto

Entah mimpi apa Lurah R. Antiko, Kepala Desa Cikaroya, Warungkondang, Cianjur, pada awal April 1970 itu. Tanpa dinyana, pada 9 April 1970, rumah Lurah R. Antiko yang tepat berada di sisi jalan antara Cianjur-Sukabumi dikunjungi tamu istimewa, yaitu Presiden Soeharto.

Dalam rangkaian Incognito-nya, Pak Harto sengaja singgah ke rumah R. Antiko. Tentu saja, kunjungan Presiden RI kedua ini tak diduga sebelumnya. Rumah R. Antiko sama sekali tak sempat dibersihkan, suguhan pun apa adanya. Dalam kesempatan berbincang di ruang tamu, Pak Harto bertutur bahwa dirinya mampir ke sini karena mengikuti mimpinya.

Penuturan Pak Harto tersebut seperti diceritakan kepada Tim Ekspedisi Incognito Pak Harto pada 13 Mei 2012 oleh Dada Sasmita Wira (kerabat dekat Antiko yang kini menjadi  kepala desa Cikaroya). ”Pak Harto sebelumnya bermimpi mengunjungi  rumah kediaman seorang lurah yang lokasinya di tepi jalan antara Cianjur dan Sukabumi,” kata Dada.

Terlepas dari alasan kunjungan  Pak Harto yang bermuatan spiritual itu, sebagai Kepala Desa, R. Antiko memang tergolong istimewa. Menurut keterangan Dada Sasmita, R. Antiko merupakan kepala desa yang sangat berwibawa dan dihormati pada semasa hidupnya. Setidaknya, dari prestasi yang telah diperlihatkan semasa hidupnya, R, Antikoterpilih sebagai kepala desa terbaik se-Kabupaten Cianjur.

Incognito pak harto
Tim Ekspedisi Incognito Pak Harto berfoto bersama pimpinan pondok pesantren Darul Falajh, KH Buldan Komarudin

Antiko juga dikenal mampu meyakinkan para pejabat pemerintah untuk memberikan bantuan pembangunan di desanya. Berbagai proyek pembangunan seperti perbaikan jalan, pembangunan gedung sekolah, dan sarana lain, berhasil dilakukan di desa ini. Tak heran, bila ia menjadi  panutan bagi kepala desa Cikaroya berikutnya. Ketika Tim mengunjungi lokasi tempat tinggal Kepala Desa Antiko, rumah tersebut sudah tak ada lagi, bahkan sudah beralih fungsi menjadi sebuah kantor bank yang ramai.

Bagi Pak Harto, blusukan ke daerah Cianjur memiliki makna penting. Selain karena Cianjur dikenal sebaga salah satu lumbung padi nasional, di kabupaten yang berada di bagian tengah Provinsi Jawa Barat ini, terdapat banyak pesantren maupun tokoh-tokoh masyarakat yang berpengaruh.

Pada masa itu, mereka menjadi benteng kemasyarakatan dalam menangkal pengaruh komunisme yang begitu digelorakan oleh PKI bersama underbouw-nya. Untungnya, ketika akhirnya PKI melakukan usaha kudeta melalui G30S/PKI pada 1965, Pak Harto–yang saat itu berpangkat Mayor Jenderal dan menjadi Panglima Komando Strategis Angkatan Darat (Kostrad)–berhasil menggalang kekuatan-kekuatan anti komunis, termasuk para ulama dan tokoh masyarakat, untuk menumpasnya. Episode berikutnya, bangsa Indonesia menyaksikan tampilnya Pak Harto sebagai pemimpin bangsa dan negara era baru dalam kehidupan bangsa Indonesia, tepatnya menjadi Presiden Republik Indonesia kedua pada 27 Maret 1968.

Incognito pak harto
Pak Harto sedang melakukan kunjungan ke Pesantren Darul Falah (9/4/9/4/1970 didampingi sejumlah petinggi di pesantren terkenal di CIanjur). Foto: Ist

Incognito yang dilakukan kali pertama ini dimanfaatkan Pak Harto untuk menyambangi para tokoh masyarakat maupun ulama yang telah bahu membahu menangkal bahaya komunisme saat itu.

Salah satu ulama yang dikunjungi dalam rangkaian incognito adalah Kyai Haji Aang Endang Muchyidin, pemimpin Pesantren Darul Falah, Jambudipa, Warungkondang, Cianjur. Pesantren ini letaknya cukup terpencil. Dari perempatan jalan pasar Warungkondang, tim ekspedisi harus menempuh jalan perkampungan beberapa kilometer jauhnya, masih berbatu-batu pada beberapa bagiannya. Pesantren Darul Falah termasuk salah satu pesantren yang cukup penting di wilayah Cianjur. Saat tim berkunjung ke pesantren tersebut, telah dipimpin oleh putera kedua kyai Aang, yakni KH Buldan Komaruddin (76 tahun).

“Ya, Pak Harto sangat bersahabat dengan ayah kami,” demikian ungkap Kyai Buldan kepada tim. Kyai lalu masuk ke dalam rumah dan kembali keluar sambil membawa sebuah figura.

Ia memperlihatkan sebuah foto Pak Harto sedang bersama-sama seorang ulama, yang tiada lain ayahanda Kyai Buldan. Bagi Kyai Buldan, foto ini bersama sejumlah foto lainnya menjadi petunjuk bahwa Pak Harto memang akrab dengan ayahandanya.

Kami pun diajak berkeliling pesantren yang pagi itu sedang ramai dengan berbagai aktivitas. Beberapa bangunan pesantren segera dapat dikenali tim, karena masih sama seperti yang diperlihatkan pada foto dokumentasi Incognito Pak Harto tahun 1970. Beberapa lagi merupakan bangunan yang lebih baru.

“Tak lama setelah kunjungan waktu itu, datang utusan dari Jakarta. Mereka ditugasi Pak Harto untuk memperbaiki masjid dan membangun asrama buat para santri,” kataKyai Buldan.

Incognito pak harto
Pak Harto berfoto bersama dengan keluarga pimpinan pesantren Darul Falah, Jambudipa, Warungkondang, Cianjur (9/4/1970)). Foto: Ist

Tali silaturahmi antara ayahnya dan Pak Harto tak berhenti hanya sampai saat itu saja. Persahabatan keduanya terus berlanjut. “Ayah kami sampai akhir hayatnya sering diundang Pak Harto ke Jakarta,” kata Kyai Buldan.

Pengakuan tersebut melengkapi pengakuan-pengakuan para ulama yang dikunjungi oleh tim ekspedisi sebelumnya yang meneguhkan keyakinan, bahwa Pak Harto sejak awal pemerintahannya sudah sangat dekat dengan para ulama.***

Baca Juga
Lihat juga...