Motor Pustaka Kopi Robusta Khas Lampung

Editor: Mahadeva WS

268

LAMPUNG – Potensi perkebunan kopi di wilayah Lampung Selatan dan Pesisir Barat mendorong warga Lampung Selatan Sugeng Hariyono (34) menciptakan oleh-oleh kopi bubuk khas Lampung.

Ide tersebut berawal dari kunjungan Sugeng Hariyono ke Way Haru kecamatan Bengkunat kabupaten Lampung Barat. Hasil dari perkebunan kopi di wilayah tersebut kerap dijual dalam kondisi kering giling dengan harga perkilogram mencapai Rp25.000.

Selama ini produksi kopi di wilayah tersebut sebagian diolah menjadi kopi bubuk dan dominan dijual dalam bentuk kopi kering siap giling. Potensi kopi robusta tersebut mendorongnya membawa sebagian biji kopi asal Lampung Barat untuk diolah menjadi kopi bubuk. Kopi bubuk orisional tanpa campuran tersebut disangrai dengan menggunakan mesin roasting di Kecamatan Penengahan. Pemilihan pembuatan kopi tanpa campuran disebutnya untuk memperlihatkan kopi khas Lampung.

“Sebagian kopi asal Lampung Barat saya jemur, giling menjadi kopi bubuk asli yang akan saya jadikan oleh-oleh untuk kerabat serta kenalan sekaligus menciptakan produk hasil perkebunan yang memiliki nilai jual lebih dibanding saat dijual dalam kondisi kering,” terang Sugeng Hariyono saat ditemui Cendana News, Selasa (22/5/2018).

Selain mengolah kopi asal Pesisir Barat, Sugeng Hariyono mengembangkan usahanya dengan mencari jenis kopi robusta yang tumbuh di kaki Gunung Rajabasa. kopi robusta hasil produksi petani di beberapa desa mulai dijajal untuk dibuat menjadi kopi bubuk. Beberapa diantaranya Desa Hargo Pancuran dan Desa Kerinjing, Kecamatan Rajabasa. Meski belum mengolah dalam jumlah banyak, kekhasan rasa kopi asal Gunung Rajabasa mendorong dirinya untuk mengolah menjadi bubuk kopi siap seduh.

Kopi bubuk tersebut dikemas dalam kemasan 250 gram dengan ciri khas Moka Coffee atau Motor Pustaka Kopi. Pemberian nama Moka Coffee atau motor pustaka sesuai dengan semangat perjalanan yang kerap dilakukan oleh Sugeng Hariyono ke sejumlah wilayah di kabupaten Lampung Barat, Tanggamus dan beberapa wilayah lain. Berangkat dari potensi kopi di Lampung Dia mulai mengolah kopi robusta yang sebagian dijadikan oleh oleh untuk kawan kawannya.

Sugeng Hariyono (kanan) dan Merizart Alhafiz menyiapkan display untuk promosi di media sosial [Foto: Henk Widi]
“Awalnya konsep untuk membuat kopi bubuk ini merupakan bagian dari pengembangan perpustakaan yang bisa memberdayakan masyarakat,” tandasnya.

Kopi yang sudah menjadi bubuk selanjutnya dikemas menggunakan kemasan plastik stand up pounch berkolaborasi dengan Merizart Alhafiz (28) pemilik victory vector. Merizart Alhafiz mendesain kemasan kopi yang sebagian berkonsep bisa dilihat secara langsung. Pembuatan desain bertujuan agar penampilan lebih menarik dengan logo menarik.

kopi dengan kualitas yang bagus akan semakin menarik jika dikemas dengan desain yang menarik. Khusus desain Moca Coffee menampilkan logo motor pustaka, alam, cangkir yang menyimbolkan sejarah dan semangat motor pustaka. Peranan kemasan selain untuk menjaga kualitas produk, sekaligus untuk meningkatkan nilai jual produk kopi yang diolah oleh Moca Coffee khas Motor Pustaka.

Kemasan untuk kopi tersebut juga akan menjadi daya tarik untuk penjualan secara online diantaranya melalui media sosial Instagram dan Facebook. “Tren penjualan saat ini lebih menekankan pada sisi eksterior atau sisi penampilan terutama dengan adanya tren penjualan online,” terang Merizart.

Selain mendesain kemasan kopi,Merizart juga menyebut membuat beberapa kemasan produk diantaranya produk egg roll,selain itu beberapa kebutuhan distro. Produk kemasan tersebut ikut meningkatkan nilai jual sebuah produk. Khusus untuk kopi bubuk ia menyebut sebagian memperlihatkan kualitas kopi yang akan disajikan diperlihatkan dengan kemasan yang menarik.

Baca Juga
Lihat juga...