MUI: Jadikan Ramadhan Sebagai Kebangkitan Keimaman

Redaktur: ME. Bijo Dirajo

143

JAKARTA — Menjelang Ramadhan 1439 hijriyah, Dewan Pimpinan Majelis Ulama Indonesia (MUI) Pusat mengeluarkan beberapa imbauan kepada ummat Muslim. Salah satunya menjadikan bulan suci sebagai momentum kebangkitan keimaman.

“Jadikan bulan Ramadhan sebagai kebangkitan spritual berdasarkan iman, ilmu, dan amal sholeh dewi mewujudkan kemaslahatan ummat dan bangsa,” kata Ketua Komisi Informasi dan Komunikasi MUI, KH Masduki Baidowi saat tausyiah menyambut datangnya Ramadhan di Gedung MUI Pusat, Jakarta, Selasa (15/5/2018).

Selain itu, ummat Islam diimbau menjalaninya dengan penuh keimanan dan keiklasan serta senantiasa mengharapkan ridho Allah SWT.

Tentu, kata Masduki, dalam suasana hati yang sejuk dan damai dengan mengedepankan sikap toleransi atau tasamuh dalam menjalankan agama. Ini agar tidak terjebak pada pertentangan dan perselisihan termasuk perbedaan faham keagamaan.

Juga lanjut dia, menghindari perbuatan yang sia-sia (tabdzir) dan pemborosan atau konsumtif (isyraaf). Serta hal lain yang mendatangkan kemudharatan bagi diri sendiri dan orang lain.

 

MUI juga mengimbau agar media massa tidak menayangkan siaran bersifat pornografi, pornoaksi, bermuatan ramalan, kekerasan, lawakan berlebihan, dan cara berbusana yang tak sesuai dengan ahlak.

Dalam Ramadhan 1439 Hijriyah ini, MUI tetap melakukan pemantauan terhadap berbagai siaran media massa.

“Pemantauan siaran ini sebagai salah satu bentuk tanggungjawab ulama dalam mengawal dan menjaga ahlak bangsa,” kata Masduki.

Dalam pemantauan ini, jelas dia, MUI melibatkan masyarakat dengan cara mengirim tanggapan atau komentar tentang konten siaran televisi .Yakni melalui email : aduan@mui.or.id dan mui.pusat51@gmail.com.

Pemantauan akan dilakukan pada jam-jam prime time yakni sebelum dan sesudah sahur. Serta sebelum dan sesudah berbuka puasa.

“Tim pemantau MUI akan merekam program TV apakah ada pelanggaran atau tidak. Ini kerja sama dengan Komisi Penyiaran Indonesia,” jelasnya.

MUI juga menyampaikan aspresiasi kepada stasiun televisi dan radio yang menyiarkan berbagai acara Ramadhan yang bernilai al-akhlaq al-karimah. Sehingga kata Masduki, tercipta Ramadhan yang khusyuk dan khidmat.

Selain itu, sebut dia, MUI juga mengajak lembaga pendidikan untuk mengisi Ramadhan dengan kegiatan bernilai khazanah dan maghfiroh. Seperti tadarus Al-Quran, pesantren kilat, perkemahan Ramadhan dan lainnya.

Terpenting lagi, ungkap Masduki, MUI mengajak kalangan mampu untuk meningkatkan ibadah dan amal shaleh dengan membantu kaum dhuafa.

“Yakni bisa melalui penyaluran zakat, infak, shadaqah, wakaf, dan amal sosial lainnya,” ujarnya.

Sementara itu, untuk usaha milik negara maupun swasta baik nasional maupun asing untuk menegakkan pembangunan tata sosial kehidupan masyarakat. Ini merupakan refleksi dari nilai saling berbagi antar sesama.

Terkhusus kepada aparat penegak hukum, MUI juga meminta agar menindak tegas berbagai bentuk pelanggaran yang dapat menganggu kekhusyuan dan kekhidmatan menjalankan ibadah puasa.

“Ya, seperti peredaran minuman keras atau miras, tempat hiburan malam, dan praktek prostitusi. Ummat juga jangan main hakim sendiri dengan bertindak kekerasan,” tutup Masduki.

Lihat juga...

Komentar Anda

Alamat email anda tidak akan disiarkan.