Naiknya Harga tak Surutkan Warga Belanja Kebutuhan Ramadan

Editor: Koko Triarko

114

LAMPUNG – Semakin dekatnya bulan Ramadan, kenaikan harga sejumlah komoditi bahan dapur mulai terjadi di sejumlah pasar tradisional di Lampung Selatan.

Salah satu pedagang komoditas sayuran, bumbu dapur, Rohmah, menyebut, sejumlah harga barang kebutuhan meningkat, meski sebagian ada yang masih stabil dan bahkan cenderung turun.

Sejumlah komoditi yang naik berupa kebutuhan dapur untuk persiapan prapekan Ramadan, antara lain cabai merah yang semula Rp35.000 per kilogram menjadi Rp37.000. Cabai caplak semula Rp25.000 menjadi Rp27.000 per kilogram, cabai keriting hijau semula Rp22.000 menjadi Rp24.000 per kilogram, bawang merah semula Rp26.000 menjadi Rp30.000 per kilogram.

Rohmah, salah satu penjual sayuran dan bumbu di pasar tradisional Pasuruan kecamatan Penengahan Lamsel, menjual kebutuhan sayuran yang mulai meningkat jelang Ramadan [Foto: Henk Widi]
Lalu, harga bawang putih semula Rp18.000 menjadi Rp24.000 per kilogram. Sejumlah harga sayuran juga naik, di antaranya tomat yang semula Rp4.000 menjadi Rp6.000 per kilogram dan bumbu dapur jenis jahe, lengkuas, kunyit naik rata-rata Rp1.000 hingga Rp2.000 per kilogramnya.

Kenaikan harga komoditas lain berupa daging ayam, ikan laut, telur dan daging sapi juga terlihat mulai meningkat. Harga daging ayam utuh dengan ukuran 1,5 kilogram berikut jeroan semula dijual Rp35.000, naik menjadi Rp45.000 per kilogram.

Daging sapi semula Rp110.000 naik menjadi Rp130.000 per kilogram dan telur semula Rp25.000 naik menjadi Rp28.000 per kilogram.
Mahmud, salah satu pedagang daging sapi menyebut, kenaikan sudah terjadi sejak dua pekan terakhir. “Pedagang daging ayam dan sapi umumnya mengambil barang dagangan dari pemasok besar dan harga sudah cenderung naik, sehingga pengecer ikut menaikkan harga, meski banyak konsumen mengeluh,” terang Mahmud, pedagang daging sapi di pasar tradisional Desa Pasuruan, Selasa (15/5/2018).

Namun, kata Mahmud, meski harga naik, daya beli para ibu rumah tangga masih tinggi. Total daging sapi yang dijualnya sejak subuh hari sebanyak 200 kilogram, pada menjelang siang hanya tersisa 30 kilogram.

Kebutuhan akan daging sapi disebutnya menjadi salah satu bahan kuliner untuk pembuatan rendang sapi atau soto menu berbuka puasa. Kenaikan berkisar Rp10.000 hingga Rp20.000 per kilogram diakuinya terbilang masih wajar.

Sarti, ibu rumah tangga asal Desa Banjarmasin, mengaku sengaja membeli daging sapi untuk kebutuhan prapekan dan tradisi punggahan jelang Ramadan.

Kegiatan makan bersama tersebut dilakukan dengan keluarga serta tetangga dengan menu makanan yang istimewa. Pembelian daging sapi juga direncanakan untuk dibuat menjadi rendang dan soto menu santapan pada saat berbuka dan sahur puasa.

Sarti menyebut, meski awal Ramadan belum ditetapkan, namun diperkirakan akan jatuh pada Kamis (17/5) membuatnya sudah melakukan persiapan.

Selain itu, adanya pasar tradisional yang buka setiap hari Selasa, Jumat dan Minggu membuatnya sudah berbelanja sejak awal. Persiapan dua hari sebelum Ramadan dengan membeli daging sapi serta kebutuhan bumbu dapur menjadi tradisi setiap tahun yang dilakukannya.

“Saya belanja minimal dua hari sebelum puasa. Meski harga naik, tetap kami beli dan tetap kami tawar”, cetus Sarti.

Selain di pasar tradisional Desa Pasuruan, kenaikan harga berbagai komoditas jelang Ramadan juga terjadi di Pasar Bakauheni. Pantauan Cendana News, sejumlah harga komoditas masih stabil, namun sebagian sudah naik.

Harga jual gula pasir yang semula Rp10.000 dijual seharga Rp12.000 per kilogram, beras biasa Rp9.500 per kilogram, tepung tapioka Rp10.000 per kilogram dari semula Rp8.00 dan gula merah Rp15.000 per kilogram dari semula Rp12.000.

Kenaikan harga di antaranya disebabkan meningkatnya jumlah kebutuhan. Beberapa pembuatan kuliner, terutama menu untuk takjil atau menu berbuka puasa mendorong kenaikan harga sejumlah komoditas.

Meski harga naik, berdasarkan informasi Dinas Perdagangan dan Perindustrian Lamsel, akan menyelenggarakan operasi pasar murah pada 17 Mei hingga 4 Juni mendatang di 17 kecamatan.

Baca Juga
Kemarau, Petani Pesisir Rajabasa Alih Profesi Jadi... LAMPUNG - Sejumlah petani di wilayah pesisir Lampung Selatan di antaranya Desa Way Muli, Desa Kunjir dan sejumlah desa lain beralih mencari sumber pen...
Usaha Tungku Tanah Liat di Lamsel Terus Berkembang LAMPUNG - Lebih dari enam produsen tungku tanah liat di Dusun Blora, Desa Sukamulya, Kecamatan Palas, Kabupaten Lampung Selatan, terus melakukan ekspa...
Kebutuhan Pertanian dan Budidaya Ikan, Dorong Meni... LAMPUNG - Potensi tanaman bambu di Lampung Selatan jenis bambu hijau (Bambusa tuldoides), bambu petung (Dendrocalamus strictur), bambu hitam/wulung (G...
Harga Material Baja Ringan di Lamsel, Naik LAMPUNG – Dampak melemahnya rupiah belakangan ini, mulai dirasakan  pula oleh sejumlah pelaku usaha kontruksi bangunan berbahan baja ringan di Lampung...
Harga Pakan Ikan dan Ternak di Lamsel Masih Tinggi LAMPUNG - Pemilik usaha peternakan unggas dan budi daya ikan air tawar di Lampung Selatan, masih harus bertahan dari tekanan dampak pelemahan rupiah t...
Kayu Bahan Bangunan di Lamsel Mulai Berkurang LAMPUNG - Penggunaan material kayu untuk pembuatan bangunan, masih dipertahankan oleh masyarakat, terutama di wilayah pedesaan. Namun, akibat semakin ...
Sistem ‘Yarnen’, Solusi Kredit Peralatan Warga di ... LAMPUNG - Keinginan untuk memperoleh sejumlah perabotan rumah tangga, khususnya peralatan memasak, kerap terkendala ketiadaan uang tunai. Memanfaatkan...