Nasionalisme, Globalisasi, dan Etnonasionalisme

OLEH TJAHJONO WIDARMANTO

371
Tjahjono Widarmanto. Foto: Istimewa

NASIONALISME sebagai sebuah konsep ideologi selalu berkait erat dengan fenomena sosial-budaya, politik, dan ekonomi.

James G. Kellas (1998) memaparkan bahwa sebagai sebuah ideologi, nasionalisme membangun kesadaran rakyat sebagai sebuah bangsa serta memberi seperangkat sikap dan program tindakan. Tingkah laku seorang nasionalis selalu didasarkan pada perasaan menjadi bagian dari suatu komunitas bangsa. Nasionalisme mendorong terjadinya sentimen dan gerakan.

Sentimen, seperti yang dikemukakan Ernest Gellner merupakan sebuah ekspresi psikologis, merupakan bentuk antipati, ungkapan marah, kecewa dan sebagainya sebagai respon atas sebuah penindasan. Wujud konkret dari munculnya sentimen adalah sebuah gerakan atau perlawanan sebagai upaya nyata mewujudkan reaksi dan respon dari adanya penindasan.

Ben Anderson memahami kekuatan dan kontinuitas dari sentimen dan gerakan sebagai cikal bakal mewujudkan identitas nasional. Sebuah bangsa (nation) adalah sebuah konstruksi ideologis yang tampak sebagai bentuk garis antara atau definisi diri kelompok budaya serta state (negara).

Keduanya membentuk sebuah komunitas abstrak berdasarkan perbedaan dari negara atau komunitas berdasarkan kekerabatan yang mendahului pembentukan mereka.

Agak berbeda, Kohn mendefinisikan nasionalisme sebagai suatu state of mind an act of consciousness. Nasionalisme, bagi Kohn, harus dilihat sebagai suatu history of idea yang menempatkan ide, pikiran, motif dan kesadaran dalam sebuah keterkaitan dengan lingkungan yang nyata dari sebuah situasi sosial-historis.

Nasionalisme bisa pula dipandang social soul atau mental masyarakat yang dibangun dari sejumlah perasaan dan ide-ide yang mendorong masyarakat untuk memiliki atau a sense of belonging.

Pengertian-pengertian di atas merujuk bahwa nasionalisme merupakan sebuah bentuk respon atau reaksi atau tanggapan yang bersifat sosio-psikologis akibat peristiwa yang melatarbelakangi yaitu imperialisme dan kolonialisme. Latar belakang inilah yang menjadikan nasionalisme sangat bersifat subjektif, lebih merupakan reaksi dari berbagai fakta mental.

Nasionalisme memiliki tiga aspek yaitu cognitive, value orientation, dan affective. Aspek cognitive merujuk pada adanya pemahaman mengenai situasi atau fenomena, misalnya situasi kolonial. Aspek value orientation menunjukkan keadaan yang dianggap berharga bagi pelakunya, misalnya cita-cita untuk merdeka, bersatu, keinginan bebas atau perasaan menjadi ratu adil. Sedangkan aspek affective adalah situasi yang diakibatkan dari tindakan kelompok.

Nasionalisme Menuju Nation State

Nation building berkait erat dengan konsep nasionalisme. Nasionalisme merupakan sebuah konsep gagasan yang bersentuhan dengan kebangsaan dan kenegaraan. Nasionalisme selalu bermuara pada penyebaran kesadaran berbangsa atau keinginan untuk membentuk sebuah negara atau nation state.

Nasionalisme melahirkan upaya-upaya yang bertujuan membentuk bangunan kebangsaan dan negara. Upaya-upaya tersebut tersusun secara terencana dan sistematis untuk menanamkan kesadaran bahwa walaupun mungkin terdiri dari keanekaragaman ras, etnik, agama ataupun budaya, namun yakin bahwa mereka satu bangsa.

Nasionalisme bisa dipandang dari dua sisi, yaitu di satu sisi sebagai sebuah gagasan dan di sisi lain sebagai sebuah kebijakan. Pada sisi gagasan, nasionalisme dipandang sebagai perwujudan kesadaran nasional dari anggota-anggota suatu bangsa. Ada pun pada sisi kebijakan, nasionalisme dipahami sebagai sebuah strategi politik.

Bertolak dari sisi gagasan, Ben Anderson menjelaskan konsep nasionalisme yang berkait dengan konsep bangsa. Bangsa, bagi Anderson, adalah sesuatu yang imajiner karena para anggota bangsa tidak harus saling mengenal, namun di benak mereka ada keyakinan bahwa mereka memiliki cita-cita bersama yang harus diwujudkan.

Nasionalisme merupakan sebuah fenomena historis yang muncul sebagai jawaban terhadap kondisi-kondisi kesejarahan, politik, sosial, dan ekonomi tertentu. Kondisi-kondisi tersebut muncul sebagai akibat dari kolonialisme negara atas negara yang lain. Oleh karena itulah tidak mengherankan bahwa nasionalisme lahir dan tumbuh sebagai sebuah reaksi terhadap tindakan kolonialisme.

Gerakan nasionalisme di Indonesia juga sebagai wujud dari reaksi terhadap praktik kolonialisme. Indonesia pada masa-masa kolonialisme jelas merupakan bangsa yang tertindas. Realita itu memunculkan sebuah kesadaran bersama untuk melepaskan diri dari ketertindasan tersebut.

Bentuk kesadaran itu pada akhirnya bermuara pada satu ikatan sentimen dan solidaritas sosial berupa rasa nasionalisme. Dalam situasi tersebut, jelas terlihat perlawanan nasionalisme terhadap kolonialisme. Pada situasi kolonial, nasionalisme dianggap sebagai sebuah kekuatan sosial yang besar yang berorientasi ke masa depan.

Awal perkembangan nasionalisme di Indonesia adalah kesadaran terhadap situasi ketertindasan yang melahirkan keinginan untuk hidup bebas dan merdeka. Kesadaran tersebut melahirkan gerakan-gerakan, yang uniknya justru bermula dari rasa primordial, baik kesukuan atau kelas sosial tertentu seperti gerakan Boedi Oetomo, Gerakan Pribumi (inlandsche beweging), Syarikat Islam, Jong Java, Jong Celebes, Jong Sumatera, dan sebagainya, yang kemudian mengkristal menjadi gerakan yang mengacu pada identitas bangsa.

Pengkristalan itu memuncak pada saat dicetuskan Sumpah Pemuda, pada tanggal 28 Oktober 1928.

Kenyataan sejarah itu menunjukkan bahwa nasionalisme Indonesia tumbuh dari perasaan etnis yang berkembang kepada kesadaran identitas nasional. Kesadaran etnik yang mengubah diri menjadi identitas nasional ini muncul karena adanya beberapa pemikiran pokok yaitu (1) pentingnya persatuan dan kesatuan nasional, (2) solidaritas bersama, (3) non-kooperatif dalam melawan kolonialisme, dan (4) swadaya atau kekuatan sendiri.

Pencapaian identitas nasional mencapai puncaknya pada momentum proklamasi kemerdekaan, 17 Agustus 1945, yang berarti telah terbentuk negara-bangsa, namun itu bukan berarti nasionalime pupus.

Nasionalisme Indonesia bermetamorfosis atau berubah bentuk menjadi tak sekedar perlawanan terhadap bentuk kolonialisme, namun muncul dalam komitmen untuk mempertahankan kedaulatan bangsa dan negara untuk mewujudkan cita-cita kesejahteraan bersama.

Tarik-menarik Globalisme dengan Etnonasionalisme
Nasionalisme menghadapi tantangan besar dari pusaran globalisasi. Nasionalisme sebagai basic drive bangsa Indonesia sedang diuji ketangguhan dan fleksibilitasnya, dalam arti kemampuannya untuk berubah atau beradaptasi sehingga tetap akurat dalam menghadapi tantangan zaman.

Nasionalisme dituntut untuk bermetamorfosis saat globalisasi memaksa individu-individu melepaskan diri dari keterikatan dengan nation state.

Globalisasi telah melahirkan proses deteritorialisasi yang menghapus keterikatan individu dengan wilayah dan negaranya. Identitas budaya yang bisa menjadi perangkai identitas komunal yang merekat keterikatan dengan negara-bangsa telah retas karena muncul kebudayaan baru yang tidak lagi berangkat dari identitas sendiri.

Setiap individu menjadi dan mengonsumsi identitas yang lain sehingga identitas nasional menjadi kabur. Nasionalisme pun sebagai sebuah ideologi menjadi sangat kabur sejalan mengaburnya identitas nasional digantikan identitas global. Boleh dikatakan telah muncul nasionalisme global yang tak lagi dibatasi teritorial bangsa-negara.

Uniknya, di tengah proses mengglobal ini muncullah kesadaran baru yang berlawanan bahkan antitesis dengan proses mengglobal ini, yaitu penguatan identitas lokal yang semakin intensif. Muncullah nasionalisme baru yang merupakan tandingan atau perlawanan terhadap nasionalisme global, yaitu etnonasionalisme.

Etnonasionalisme ini muncul sebagai kesadaran lokal yang mengarus-utamakan kepentingan lokal dibanding kepentingan nasional. Etnonasionalisme di Indonesia semakin mendapat jalan lapang saat munculnya isu otonomi daerah yang mau tak mau mendorong kesadaran lokal.

Tentu saja, tulisan ini tidak pada tempatnya untuk menilai apakah nasionalisme global dan etnonasionalisme itu merupakan virus yang berbahaya atau tidak. Namun yang jelas, kedua fenomena tersebut tak dapat dihindari dan harus dihadapi oleh semua bangsa, pun tak terkecuali Indonesia.

Maka, tampaklah bahwa nasionalisme Indonesia berada dalam dua himpitan besar yang saling tarik menarik dengan kuat yaitu, globalisasi dan etnonasionalisasi.

Di tengah himpitan dan ketegangan tarik-menarik ini, mau tak mau konsep nasionalisme harus dirumuskan ulang. Paling tidak, nasionalisme harus memiliki penafsiran baru yang terus menerus berkembang.

Demikian juga nasionalisme Indonesia, tak lagi bisa muncul sebagai perangkai identitas nasional seperti pada masa awal-awal terbentuknya kesadaran atas identitas nasional dan cita-cita mewujudkan negara-bangsa yang merdeka.

Juga tak mungkin lagi muncul sebagai heroisme patriotik dalam mempertahankan kemerdekaan dan kedaulatan bangsa, namun harus muncul sebagai kesadaran bersama yang bersumber dari etos dan dasar sumpah pemuda yaitu pada perjuangan dan pembelaan kemanusiaan, keadilan dan kesejahteraan, yang berorientasi pada peniadaan segala bentuk eksploitasi manusia, siapa pun dan dalam bentuk apa pun.

Perlu disadari bahwa nasionalisme dan etnonasionalisme tak dapat dihindari sebagai dampak dunia global karena merupakan proses sejarah yang tak terelakkan. Nasionalisme Indonesia baru, tak bisa memaksakan diri memilih di antara keduanya. Yang bisa dilakukan adalah menjaga nasionalisme agar tidak berada dalam tarikan ekstrem kedua proses sejarah tersebut yang dapat menjadikannya alat untuk mengeksploitasi manusia.

Tugas kita adalah mengawal bahwa bentuk nasionalisme baru kita adalah berorientasi pada pemuliaan harkat dan pemuliaan manusia. ***

Tjahjono Widarmanto, guru SMAN 2 Ngawi Jawa Timur

Redaksi menerima tulisan opini dengan tema tidak mengandung SARA dan memperkukuh tegaknya kedaulatan bangsa. Kirim ke editorcendana@gmail.com

Baca Juga
Lihat juga...