Nelayan Keluhkan Pengeboman Ikan di Pantai Selatan Sikka

Redaktur: ME. Bijo Dirajo

259

MAUMERE — Aksi pengeboman ikan di perairan pantai selatan kabupaten Sikka masih terjadi meski persoalan ini sudah sering disampaikan dalam Musyawarah Perencanaan Pembangunan (Musrembang) kecamatan Lela setiap tahunnya.

“Pengeboman ikan oleh nelayan dari luar daerah ini sering terjadi dan selalu disampaikan dalam Musrembang namun hingga sekarang aksi ini masih saja terjadi. Harusnya ada kapal khusus yang melakukan patrol di pantai selatan,” sebut Kepala desa Sikka, Igansius Riwu da Lopez di Maumere, Senin (28/5/2018).

Dikatakan Ignasius, para nelayan lokal dan masyarakat tidak bisa melawan karena takut dan bila mendekat mereka akan melemparkan bom. Ini yang membuat nelayan lokal meminta aparat keamanan menempatkan sebuah kapal patrol di pantai selatan.

“Kalau mengharapkan masyarakat dan nelayan di pantai selatan saja untuk melakukan perlawanan tentu tidak bisa sebab para pengebom ikan yang dari luar kabupaten biasanya datang dengan beberapa kapal dan bergerombol,” sebutnya.

Ignasius juga mengeluhkan bantuan yang diberikan kepada nelayan di desa Sikka tidak lengkap dan kurang berkualitas. Ada yang hanya dapat kapalnya saja sementara alat tangkapnya tidak ada serta kapal yang diberikan tidak cocok dengan kondisi pantai selatan yang ombaknya besar.

“Nelayan mengalami kesulitan melaut karena ganasnya ombak sehingga bantuan dari pemerintah harusnya kapal berukuran besar dan alat tangkap yang memadai. Desa Sikka memiliki sumber daya laut yang bagus, hanya kurang dimanfaatkan peluang itu karena rendahnya sumber daya manusia,” ungkapnya.

Igansius-Riwu-da-Lopez
Kepala desa Sikka kecamatan Lela, Igansius Riwu da Lopez. Foto :Ebed de Rosary

Selain itu tambah Ignasius, nelayan Nangahale sering melakukan penangkapan gurita di perairan desa Sikka dan tanpa izin. Sehingga diperlukan diskusi dan komitmen bersama antara dua desa ini agar tidak terjadi salah paham.

Hal senada juga disampaikan Direktur Wahana Tani Mandiri (WTM) Carolus Winfirdus Keupung, permasalahan pengeboman ikan memang masih sering terjadi baik di pantai selatan maupun pantai utara kabupaten Sikka.

Langkah tegas oleh aparat kepolisian dan pemerintah harus terus dilakukan agar para pengebom ikan sadar dan jera. Bahkan beberapa kawasan laut di daerah konservasi juga sering jadi lokasi pengeboman.

“Pemerintah harus tindak tegas dan rutin lakukan patroli laut agar pengeboman tidak terjadi. Kelompok nelayan yang melakukan pengeboman ikan jangan diberikan bantuan alat tangkap dan lainnya,” harapnya.

Baca Juga
Sarana Prasarana Perikanan di Sumba Timur Masih Tr... KUPANG - Potensi perikanan tangkap di Kabupaten Sumba Timur, Nusa Tenggara Timur (NTT), saat ini belum digarap optimal untuk peningkatan kesejahteraan...
Konsumsi Ikan Masyarakat Sikka Setiap Tahun Mening... MAUMERE – Kebutuhan ikan di Kabupaten Sikka, setiap tahun mengalami peningkatan. Hal itu dipengaruhi pola konsumsi ikan masyarakatnya yang selalu meni...
Laporan Hasil Tangkapan Ikan, Butuh Tambahan Petug... KUPANG - Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan Provinsi Nusa Tenggara Timur, Ganef Wurgiyanto, mengatakan untuk mendapatkan laporan hasil tangkapan ikan...
Potensi Budidaya Rumput Laut di NTT, Mencapai Lebi... KUPANG --- Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT), Ganef Wurgiyanto, mengemukakan provinsi setempat sudah memiliki tig...
Sekjen KKP Sesalkan Laporan Penangkapan Ikan tak A... KUPANG - Sekretaris Jenderal Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP), Nilanto Perbowo, menyesalkan laporan hasil tangkapan ikan yang tidak akurat dar...
Nelayan Solor Barat Minta Bantuan Alat Tangkap LARANTUKA – Kesadaran nelayan di kabupaten Flores Timur (Flotim), untuk menjaga kelestarian ekosistem laut, dan hewan serta biota laut semakin meningk...
Australia Segera Pulangkan Lima Nelayan Indonesia KUPANG - Pemerintah Australia akan memulangkan lima nelayan Indonesia yang ditangkap otoritas negara itu, atas tuduhan memasuki wilayah perairan negar...