Omzet Tenun Ikat Garut Turun 60 Persen

Editor: Mahadeva WS

715

JAKARTA – Produk kerajinan Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM) menghiasi kemeriahan Kowani Fair 2018 yang digelar 25-27 Mei 2018 di Smesco Exhibition Hall Gedung Smesco Indonesia, Jakarta Selatan.

Tebun Ikat Garut menjadi salah satu stand yang memiliki banyak pengunjung. “Alhamdulillah pembeli ada saja,  hingga siang ini sudah dapat Rp30 juta. Semoga omzet bisa bertambah,” kata Perajin Tenun Ikat Garut Santi Rosiyanti kepada Cendana News, Kamis (25/5/2018).

Tenun Ikat Garut. Foto : Sri Sugiarti

Santi berharap hingga empat hari kedepan banyak pengunjung yang membeli Tenun Ikat Garut produksi suaminya Hendar Rogesta. Tenun Ikat Garut adalah kain tradisional yang memiliki desain motif penuh filosofi dan cerminan kearifan lokal.

Sebagai pengusaha UMKM, Santi berharap pemerintah memberi peluang seluas-luasnya kepada perajin kecil. Diantaranya, dengan membantu pemasaran atau promosi. Mengingat saat ini daya beli masyarakat terhadap tenun ikat Garut menurun drastis.

“Pada pameran Inacraft tanggal 25-29 April 2018 lalu, omzet yang didapat kisaran Rp90 juta. Sedangkan Inacraft tahun 2017 omzet tercatat Rp100 juta. Padahal omzet mengikuti Inacraft tahun-tahun sebelumnya menjulang di kisaran Rp200 juta-Rp250 juta. Turunnya 60 persen, terasa banget. Masih ada untung sih, tapi tipis,” ungkap perempuan kelahiran 32 tahun lalu tersebut.

Penurunan daya beli tersebut tidak hanya dirasakannya. Tetapi dirasakan oleh semua perajin. Selain penurunan omzet, persoalan lain yang dihadapi adalah harga bahan baku tenun yang kian meroket. Apalagi bahan bakunya harus impor dari China. “Bahan baku naik, penjualan tetap nggak bisa naik. Jadi untungnya menipis karena pendapatan  turun 60 persen,” ujarnya.

Hanya saja, masih ada pengunjung yang mendatangi galeri dan worshopnya di di Kampung Penawunan Kelurahan Sukaraja, Kecamatan Tarogong Kidul, Kabupaten Garut. Dalam seminggu ada sekira 15 potong lebih tenun ikat Garut yang terjual di galerinya.

Selain itu, dirinya kerap mengirim pesanan tenun ini kepada pelanggannya di luar kota, diantaranya Yogyakarta dan Bali. Bahkan ke luar negeri, seperti Kamboja, Inggris dan negara lainnya. Kisaran harga tenun ikat Garut mulai Rp900 ribu hingga Rp5,5 juta perpotongnya. “Ya omzet perminggu kisaran Rp20 jutaan lebih. Harga tenun juga variasi tergantung motif,” ujarnya.

Dengan karyawan 13 orang, dalam seminggu bisa memproduksi 30-50 potong tenun ikat dengan ragam motif. Produksi lebih banyak dikelola oleh suami yang memang piawai menenun hingga sukses merintis bisnis ini dari nol setelah sebelumnya terpuruk.

“Orang tua suami itu pembisnis tenun, karena bangkrut kemudian diteruskan suami saya pada 2009. Ya istilahnya bangkit. Alhamdulillah rintangan bisa dihadapi,” pungkasnya.

Baca Juga
Lihat juga...