Pak Harto Lengser Keprabon dan Firasat Ibu Tien

Editor: Satmoko

947

JAKARTA – Cinta Ibu Negara Hajjah Fatimah Siti Hartinah atau Ibu Tien kepada sang suami, Haji Muhamad Soeharto, begitu mendalam. Saking cintanya, sampai-sampai meminta agar Pak Harto jangan didorong-dorong menjadi presiden lagi.

Permintaan Bu Tien Soeharto tersebut diutarakan melalui Mien Sugandhi, Menteri Negara Urusan Peranan Wanita periode 1993-1998 dalam suatu acara Golkar. Mien Sugandhi saat itu tengah duduk bersama Ibu Tien dan Sekretaris Negara, Rini Soeroyo.

Dalam buku Pak Harto: The Untold Stories (2012), Mien menyebut, Ibu Tien tiba-tiba berkata dan meminta tolong dirinya untuk menyampaikan pesan kepada salah seorang petinggi Golkar agar Pak Harto jangan menjadi presiden lagi. Kata Ibu Tien, sudah cukup.

“Lho Bu, kalau begitu siapa yang mumpuni (mampu) untuk menggantikan beliau?” tanya Mien ke Bu Tien karena terkejut. “Biarlah itu diserahkan dan ditentukan oleh Pemilu saja. Aku sudah tidak mau lagi. Aku mau pergi, aku lungo (pergi), pokoke aku lungo,” jawab Ibu Tien.

Pesan Ibu Tien pun disampaikan Mien Sugandhi kepada orang yang dimaksud Ibu Tien. Tetapi rupanya orang yang menerima pesan itu tidak percaya jika Ibu Tien berpesan seperti itu.

“Saya bersikeras […]. Tetapi mereka tetap tidak percaya, ya sudah. Mereka malah mengatakan bahwa lebih dari seratus juta rakyat Indonesia tetap menginginkan Pak Harto menjadi presiden,” tutur Mien.

Akhirnya, Pak Harto memang kembali menjadi presiden. Namun tak lama setelah itu, situasi politik menjadi tidak kondusif yang berujung pada saat Pak Harto menyatakan berhenti.

Pak Harto bersama Ibu Tien menjadi panutan dalam memaknai kehidupan yang penuh suka dan duka. -Foto: Repro koleksi Mbak Tutut, dalam buku Pak Harto The Untold Stories/ Makmun Hidayat

Seperti apa suasana detik-detik menjelang Pak Harto menimbang untuk mengundurkan diri sebagai presiden?

Kepala Protokol Kepresidenan, Maftuh Basyuni, mengungkapkan kisahnya di buku yang sama, saat-saat bersama Pak Harto sebelum akhirnya Presiden Soeharto menyatakan berhenti.

Tanggal 18 Mei 1998, kata Maftuh, adalah hari terakhir kunjungan Pak Harto di Mesir. Acara tinggal satu, jamuan makan malam oleh Presiden Husni Mubarok.

“Namun karena situasi Tanah Air semakin gawat, saya usul agar Pak Harto mempercepat kepulangan,” imbuhnya, seraya mengatakan tepat pukul 14.00 waktu Mesir, pesawat tinggal landas menuju Jakarta dan mendarat di Bandara Halim Perdana Kusuma persis azan Subuh berkumandang.

Maftuh menyebut akibat meningkatnya suhu politik membuat dirinya tidak dapat meninggalkan Cendana sejak rombongan kembali dari Kairo pada tanggal 19 Mei 1998. Pada tanggal 20 Mei sore Pak Harto memanggil mantan Wakil Presiden Sudharmono, dan Wapres Habibie tidak lama kemudian datang.

Beberapa menit kemudian datang Nugroho, utusan khusus Ketua Bappenas saat itu, Ginanjar Kartasasmita, untuk menyampaikan surat kepada Pak Harto. Surat diterima ajudan dinas, Kolonel Penerbang Teddy Sumarno.

Surat tersebut ternyata berisi pernyataan 14 menteri yang tidak bersedia bergabung lagi dalam kabinet baru yang sedang disusun. Menteri Sekretaris Negara Sa’adilah Mursjid pun segera melapor kepada Pak Harto.

Mengetahui hal itu, Pak Harto lantas memerintahkan Sa’adilah untuk memberitahukan Habibie bahwa dirinya berhenti sebagai presiden. “Beritahu Pak Habibie, saya berhenti dan serah terima jabatan dilakukan besok pagi di Istana Merdeka,” kata Pak Harto kepada Sa’adilah yang diingat Maftuh.

Menurut Maftuh, sebenarnya di hari itu, sejak pagi Sa’adilah telah mengumpulkan lima atau enam pejabat teras Setneg, antara lain Bambang Kesowo, Sunarto Suwarno, dan Yusril Ihza Hahendra di Cendana, untuk menyiapkan draf pidato Pak Harto pada pelantikan Kabinet Reformasi yang sedang dirumuskan.

“Karena situasi berubah, mereka pun ditugasi untuk menyusun pidato berhenti dan serah terima jabatan kepada B.J. Habibie,” imbuh Maftuh.

Sekira pukul 03.00 dini hari, draf pidato tersusun rapi dan telah disetujui Pak Harto, kemudian diserahkan kepada Sa’adilah Mursjid, sementara Maftuh diminta menyusun skenario upacara serah terima jabatan Presiden.

Menjelang pukul 09.00, Pak Harto tiba di Istana. Pak Harto langsung menuju Ruang Jepara menemui pimpinan DPR. Pagi itu, di ruang berbeda tanpa pimpinan DPR, di Ruang Credential, Pak Harto menyampaikan pidato perihal berhentinya dirinya dari jabatan sebagai Presiden RI.

Pak Harto menyampaikan permintaan maaf atas kekurangan selama memimpin negara, dan meminta rakyat mendukung pemerintah yang baru.

Setelah itu, pengucapan sumpah jabatan oleh B.J. Habibie disaksikan oleh Ketua Mahkamah Agung. Selesai acara, Pak Harto istrihat sebentar di ruang kerja lalu pulang ke kediaman dengan kendaraan pribadi.

Dalam buku yang sama, terkait mundurnya Pak Harto pada 21 Mei 1998 itu, menurut Fadli Zon banyak orang salah persepsi.

“Memang terjadi krisis moneter yang berubah menjadi krisis ekonomi lantas meningkat menjadi krisis sosial politik. Namun krisis ekonomi yang terjadi di Indonesia, sama sekali bukanlah karena KKN, melainkan karena global capital movement (perpindahan modal raksasa),” tandasnya.

Fadli Zon melanjutkan, krisis itu bermula di Thailand kemudian menular ke Indonesia, Korea Selatan, dan negara-negara lain. “Efek perpindahan modal raksasa global itu menjalar ke mana-mana. Inilah krisis kapitalisme,” sebutnya.

Dia menegaskan bahwa Pak Harto dijatuhkan oleh IMF (Dana Moneter Internasional), sebuah lembaga donor internasional yang sengaja salah memberikan diagnosis.

“Seharusnya obat yang diberikannya, tetapi IMF justru menyuntikkan racun. Belakangan, Direktur IMF Michel Camdessus sendiri menyatakan dalam suatu pidato resmi ‘We created the conditions that obliged President Soeharto to leave his job‘ (Kami menciptakan kondisi agar Soeharto meletakkan jabatannya). Krisis ekonomi telah dijadikan alat oleh IMF untuk melakukan pergantian rezim,” kata Fadli Zon.

Senada dengan Fadli Zon, dalam buku yang sama, Mahathir Mohamad yang kini kembali menjadi Perdana Menteri Malaysia dalam usia 92 tahun, menyebut tekanan terhadap Pak Harto amat berat pada saat terjadi krisis mata uang di tahun 1998.

Pak Harto mengatakan dirinya tidak dapat tidur karena pada saat itu sudah maju sehingga akhirnya menerima usulan IMF untuk campur tangan dalam penanganan keuangan dan ekonomi negara.

“Saya sangat sedih melihat gambar Michael Camdessus, Direktur IMF pada saat itu yang menunjukkan seolah-olah dia mendapat kekuasaan yang besar. Pak Harto tidak dapat menolak karena tekanan sangat besar. Saya tidak bisa melupakan peristiwa itu dan sangat sedih karenanya,” kata Mahathir.

Dia berkesimpulan bahwa badai perekonomian yang melanda Asia Tenggara pada tahun 1998 itu memang dirancang untuk menjatuhkan pemerintahan Pak Harto. Seharusnya, kata Mahathir, Pak Harto yang telah memerintah dengan bijak dan berhasil membawa kemajuan bagi Indonesia dan ASEAN, tidak pantas mendapat perlakuan seperti itu.

“Di ASEAN, Pak Harto memainkan peranan yang sangat penting. Para pemimpin negara ASEAN mendudukkan Pak Harto sebagai orangtua. Kejatuhan Pak Harto merupakan kerugian yang sangat besar di Asia Tenggara karena beliau sangat dihormati oleh para pemimpin ASEAN lainnya,” imbuhnya.

Dalam menghadapi tekanan-tekanan yang melingkupinya, Pak Harto tidak menggunakan kekuasaan yang dimilikinya, dan memilih transisi damai. Ia tak mau memaksakan kehendak, mengalah dan menyatakan berhenti.

Menurut Fadli Zon, itu sama sekali tak terduga. Pak Harto tidak menggunakan kekuasaan yang hebat, tetapi lebih memilih proses transisi damai. “Itulah jalan sejarah yang telah mengantarkan kita ke era baru yang disebut reformasi,” imbuhnya.

Senada dengan Fadli Zon, Teguh Juwarno menyebut dirinya sempat berdiskusi dengan Mbak Tutut dan adik-adiknya terkait pengunduran diri Pak Harto. “Kami membahas mengapa Pak Harto memilih berhenti sebagai kepala negara, padahal sangat banyak masukan yang menguatkan agar Pak Harto bertahan, mengingat di tangannya masih tergenggam kekuasaan yang besar,” kata Teguh.

Namun, Teguh melanjutkan, Pak Harto mematahkan semua itu hanya dengan satu kalimat, “Saya tidak mau ada lagi darah mahasiswa yang tertumpah.” Kalau saja Pak Harto bersikukuh untuk tetap berkuasa pada waktu itu, pasti akan jatuh banyak sekali korban.

“Ternyata Pak Harto jauh lebih mencintai rakyatnya. Di sisi lain beliau juga menghargai mereka yang tidak menghendaki kepemimpinannya. Cinta dan penghargaan itu ditunjukkannya dengan mundur dari kursi kepresiden. Pak Harto memilih menjadi negarawan,” tuturnya.

Sementara itu, Sofyan Wanandi menyatakan dirinya adalah salah satu di antara banyak orang yang menyesal keputusan Pak Harto berhenti dari jabatannya pada 21 Mei 1998, akibat desakan mahasiswa. Terlepas dari kekurangannya, kata Sofyan, begitu banyak jasa Pak Harto untuk bangsa dan negara Indonesia.

“Kita harus menghormati dan menghargai jasa-jasa yang sudah diberikan Pak Harto semasa hidupnya,” ujar mantan pimpinan Komite Aksi Mahasiswa Indonesia (KAMI) Jaya Raya di tahun 1965 itu, dalam buku Pak Harto: The Untold Stories.

Pak Harto telah terpilih untuk ketujuh kalinya sebagai Presiden RI pada Maret 1998, tanpa disangka membuat situasi dalam negeri semakin bergejolak saat itu. Pria yang dijuluki “The Smiling General” ini pun menyatakan niatnya untuk mundur.

Pada Kamis, 21 Mei 1998 sekitar pukul 09.00, Pak Harto mengenakan safari warna gelap dan berpeci. Presiden Soeharto dengan nada suara yang datar, tanpa emosi, menyampaikan pidato pengunduran diri sebagai presiden sekira 10 menit.

Assalamual’aikum warahmatullahi wabarakatuh

Sejak beberapa waktu terakhir, saya mengikuti dengan cermat perkembangan situasi nasional kita, terutama aspirasi rakyat untuk mengadakan reformasi di segala bidang kehidupan berbangsa dan bernegara.

Atas dasar pemahaman saya yang mendalam terhadap aspirasi tersebut, dan terdorong oleh keyakinan bahwa reformasi tersebut perlu dilaksanakan secara tertib, damai dan konstitusional demi terpeliharanya persatuan dan kesatuan bangsa serta kelangsungan pembangunan nasional, saya telah menyatakan rencana pembentukan Komite Reformasi dan mengubah susunan Kabinet Pembangunan VII.

Namun demikian, kenyataan hingga hari ini menunjukkan Komite Reformasi tersebut tidak dapat terwujud karena tidak adanya tanggapan yang memadai terhadap rencana pembentukan komite tersebut.

Dalam keinginan untuk melaksanakan reformasi dengan cara yang sebaik-baiknya tadi, saya menilai bahwa dengan tidak dapat diwujudkannya Komite Reformasi maka perubahan susunan Kabinet Pembangunan VII menjadi tidak diperlukan lagi.

Dengan memperhatikan keadaan di atas, saya berpendapat sangat sulit bagi saya untuk dapat menjalankan tugas pemerintahan negara dan pembangunan dengan baik.

Oleh karena itu dengan memperhatikan ketentuan Pasal 8 UUD 1945, dan setelah dengan sungguh-sungguh memperhatikan pandangan pimpinan Dewan Perwakilan Rakyat dan pimpinan fraksi-fraksi yang ada di dalamnya, saya memutuskan untuk menyatakan berhenti dari jabatan saya sebagai Presiden Republik Indonesia, terhitung sejak saya bacakan pernyataan ini pada hari ini, Kamis 21 Mei 1998.

Pernyataan saya berhenti dari jabatan sebagai Presiden Republik Indonesia, saya sampaikan di hadapan Saudara-saudara pimpinan Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia yang juga adalah pimpinan Majelis Permusyawaratan Rakyat.

Selanjutnya Pak Harto membacakan tulisan tangannya sebagai berikut.

Sesuai dengan Pasal 8 UUD ’45, maka Wakil Presiden Republik Indonesia Prof. H. BJ Habibie yang akan melanjutkan sisa waktu jabatan Presiden Mandataris MPR 1998-2003.

Atas bantuan dan dukungan rakyat selama saya memimpin negara dan bangsa Indonesia ini, saya ucapkan terima kasih dan minta maaf bila ada kesalahan dan kekurangannya. Semoga Bangsa Indonesia tetap jaya dengan Pancasila dan UUD 45-nya.

Mulai ini hari Kabinet Pembangunan ke VII demisioner dan pada para menteri saya ucapkan terima kasih.

Oleh karena keadaan tidak memungkinkan untuk menyelenggarakan pengucapan sumpah di hadapan Dewan Perwakilan Rakyat, maka untuk menghindari kekosongan pimpinan dalam menyelenggarakan pemerintahan negara, kiranya Saudara Wakil Presiden sekarang juga agar melaksanakan pengucapan sumpah jabatan presiden di hadapan Mahkamah Agung Republik Indonesia.

Pak Harto kemudian menandatangani naskah usai B.J. Habibie diangkat sumpah oleh Mahkamah Agung, dan menyalami BJ Habibie. Setelah itu, Pak Harto langsung meninggalkan ruangan Credentials dan menemui pimpinan DPR/MPR yang menunggu di Ruang Jepara.

Pak Harto menyampaikan sudah menyatakan pengunduran dirinya sekaligus serah terima jabatan presiden kepada B.J. Habibie. Sesudah menyampaikan itu, Pak Harto keluar dari Istana Merdeka dan menuju ke kediamannya di Jalan Cendana No. 8-10 bersama Mbak Tutut dengan mobil yang sudah dicopot pelat nomor RI-1-nya.

20 tahun yang lalu, pada tanggal 21 Mei, Pak Harto resmi lengser keprabon: mengundurkan diri atau turun tahta secara sukarela dari kedudukan presiden. Dan, madeg pandhito ratu.

Baca Juga
Lihat juga...