Pedagang Layangan Khas Bali Sepi Pembeli

Editor: Mahadeva WS

284
Wayan rimpuk, pedagang layangan Bali yang berjualan di Jalan Raya Kuta, Bali Rabu, (23/5/2018).-Foto: Sultan Anshori

DENPASAR – Sejumlah pedagang layang-layangan khas Bali mengalami sepi pembeli. Meski cuaca di Denpasar dan dekitarnya mendukung untuk bermain layang-layang, hal tersebut tidak lantas berpengaruh terhadap penjualan layangan khususnya di Kota Denpasar dan sekitarnya.

Salah seorang pedagang layangan di Jalan Kuta Denpasar Wayan Rimpuk mengaku, selama berjualan layang-layang sejak sebulan lalu, hanya ada beberapa yang laku terjual. Menurutnya hal ini berbeda dengan penjualan layangan pada tahun sebelumnya dibulan yang sama.

“Saya tidak tau kenapa pembelinya sepi seperti ini mas. Kalau tahun lalu penjualan dengan bulan yang sama ramai mas, sehari bisa 20 layangan laku terjual,” ucap Wayan Rimpuk saat ditemui dilapaknya, Rabu (23/5/2018).

Berbagai jenis layang-layang yang terbuat dari kain ia jual. Beberapa diantaranya merupakan khas Bali, seperti Bebean, Pecuk dan Janggar. Namun yang paling diminati masyarakat jenis Bebean. Hal itu dikarenakan mempunyai ciri khas yang berbeda dari pada layang-layang lainnya.

Dalam sehari Dia mengaku bisa membuat layang-layang 2 buah, total yang dibuat dan dipajang pada Rabu (23/5/2018) sebanyak 75 buah. “Harga layangan mulai dari Rp10 ribu hingga Rp150 ribu dengan ukuran 1,30 meter,” imbuh kakek tiga anak dan lima cucu tersebut.

Pembeli layangan tidak hanya dari Denpasar dan sekitarnya, namun ada yang datang dari luar daerah. Diharapkan, sepinya pembeli ini cepat berakhir dan penjualan layangan kembali normal sebelum tiba musim penghujan.

Di Maret hingga Agustus, cuaca di Bali sangat mendukung untuk bermain layang-layang karena musim kemarau. Di Bali, layang-layang sudah menjadi permaian kesukaan masyarakat. Bahkan permaian yang menggunakan tali serta bergantungan penuh terhadap angin saat memainkannya ini diperlombakan oleh masyarakat Bali.

Baca Juga
Lihat juga...