Pekan Budaya Batak Muslim Digelar di TMII

Editor: Satmoko

336

JAKARTA – Kain ulos tampil elegan dipadukan dengan kebaya warna cerah dan kain batik coklat, menjelma keanggunan tiga bocah dengan lenggok indah di atas panggung.

Pemandangan itu terlihat pada pagelaran Pekan Budaya Batak Muslim bertema “Keindahan Budaya Batak Berbingkai Islam” di Anjungan Sumatera Utara Taman Mini Indonesia Indah (TMII), Jakarta, Sabtu (12/5/2018).

Ketua Panitia Pekah Budaya Batak Muslim, Muhammad Arifin Marpaung menjelaskan, tema tersebut mengandung arti budaya Batak tidak keluar dari konsep Islam. Sehingga indahnya budaya Batak juga bisa dibingkai dengan nilai Islam maka akan terlihat Islam yang kaffah.

“Islam itu tidak membatasi seni, asal tidak keluar dari aturan dan sunnah. Artinya, ketika kita berpakaian budaya Batak yang Islami, tidak keluar dari hukum Allah SWT dan Rasulullah,” kata Arifin kepada Cendana News, saat ditemui di sela-sela acara di Anjungan Sumatera Utara TMII.

Ketua Panitia Pekan Budaya Batak Muslim, Muhammad Arifin Marpaung. Foto: Sri Sugiarti.

Contohnya, sebut dia, lomba fashion show busana Muslim Batak yang pesertanya anak-anak. Mereka mengenakan busana Muslim dengan model beragam, tapi kain ulos khas Batak tetap mereka padukan. Bahkan, rok yang mereka kenakan ada juga yang berbahan ulos.

Dipilihnya TMII untuk menyukseskan pagelaran ini, menurut Arifin, karena TMII adalah wahana pelestarian seni budaya bangsa. Sehingga sangat penting Pekan Budaya Batak Muslim digelar di miniatur Indonesia ini.

Jadi jelas dia, tujuannya untuk mengenalkan kepada masyarakat, bahwa budaya Batak itu bersifat Islami. Batak juga punya etika yang baik dalam mengamalkan syariat-syariat Islam. Apalagi TMII ini pusat informasi budaya bangsa.

“Tampil di TMII, kami ingin mengenalkan kepada masyarakat bahwa Batak Muslim juga eksis dalam pelestarian budaya Sumatera Utara (Sumut). Orang pun bisa lebih mengenal secara dalam,” jelasnya.

Adapun visi dan misi pagelaran ini adalah, ungkap Arifin, untuk menyatukan persepsi masyarakat Nusantara bahwa Batak bukan identik dengan non-Muslim.

“Batak itu sejarahnya adalah Muslim. Sejarah menyatakan bahwa seluruh opung-opung kita di Toba Kabupaten Simalungun itu adalah Muslim. Dulu ya,” kata Arifin.

Misi lainnya dari pagelaran ini adalah, tambah dia, menggerakkan tali silaturahmi antar-Muslim Batak yang tersebar di Nusantara. Tujuannya untuk bersama-sama membangun ukhuwah Islamiyah dan membangun ekonomi syariah.

Jadi masing-masing pengurus Batak Muslim ini diberi ruang usaha untuk saling berbagi, dari kita, oleh kita, dan untuk kita. “Itulah visi misi Batak Muslim Nusantara,” ujarnya.

Menurutnya, pekan budaya ini sekaligus menyambut bulan suci Ramadhan. Sehingga ditampilkan ragam lomba, di antaranya fashion show busana Muslim, lomba adzan, lomba lagu Batak, catur, dan pameran makanan khas Batak.

Selain itu, ada pula kegiatan berupa sumbangan anak yatim sebagai wujud sosial Batak Muslim kepada masyarakat. Juga ada pembagian sembako kepada korban bencana gunung Sinabung dan pembagian mukena kepada umat Muslim di Papua.

Arifin menjelaskan, kegiatan yang dihadiri ratusan komunitas Batak Muslim se-Nusantara ini pada Sabtu-Minggu, yakni dari tanggal 12-13 Mei 2018 di halaman Anjungan Sumatera Utara TMII

Dalam kegiatan tersebut, pada Minggu besok, Pengurus Pusat Perkumpulan Batak Muslim akan mengukuhkan dan mengenalkan kepegurusan periode 2017-2020 sekaligus menjabarkan dan menyosialisasikan program kegiatan.

“Insha Allah program Batak Muslim tersusun rapi. Kita agendakan secara rutin. Terpenting eksistensi Batak Muslim semakin dikenal masyarakat Indonesia,” tutupnya.

Lihat juga...

Komentar Anda

Alamat email anda tidak akan disiarkan.