Pemerintah dan IKAPI Harus Serius Tanggapi Pembajakan

Editor: Mahadeva WS

125
(1) Novita Indra, (kiri) Editor Buku Penerbit Salemba, Foto M. Fahrizal

JAKARTA – Pembajakan hasil karya tidak hanya terjadi pada dunia industri musik, tetapi di dunia penerbitan buku pun mengalami hal yang serupa. Kendala yang menjadi pekerjaan rumah bagi para penerbit karena Pemerintah belum sepenuhnya menangani persoalan tersebut.

Persoalan lain yang dihadapi penerbit adalah, minat baca masyarakat yang semakin berkurang. Gerakan pemerintah mengajak masyarakat gemar baca buku belum juga terlihat geliatnya.

Editor Penerbit Salemba Novita Indra mengatakan, pergerakan atau perkembangan buku cetak masih terbilang stabil di era digital sekarang ini. Maraknya e-book tidak membuat penerbitan buku cetak berkurang, namun yang disayangkan hanya minat baca buku masyarakat yang mulai berkurang.

Perkembangan digitalisasi dengan aplikasi e-book tidak mengangkat minat baca. Minat masyarakat masih relative sedikit menggunakan teknologi tersebut. Untuk perkembangan e-book Novita menilai masih stag tidak bergerak naik. Di awal 2010 hampir seluruh penerbit merasakan ketakutan karena semua akan berpindah ke buku digital. Namun hingga saat ini bahkan sampai negara maju pun untuk buku cetak masih sangat dibutuhkan.

“Yang merasakan dampak atau pengaruh dari e-book itu adalah penerbit buku-buku jenis novel, buku praktis, majalah dan koran. Sedangkan untuk buku teks masih sangat dibutuhkan terlebih dikalangan mahasiswa. Intinya buku teks masih sangat dibutuhkan sedangkan e-book sebagai penunjang, masih dipergunakan disebagian negara seperti Amerika, Jepang, e-book itulah yang menjadi penunjang buku-buku cetak yang ada,”Jelasnya, Kamis, (17/05/2018).

Menurutnya walaupun para mahasiswa dengan mudahnya mengambil atau mendapatkan buku melalui e-book namun tidak semuanya mereka menggunakan melalui teknologi itu, untuk mata kuliah pegangan utamanya tetap menggunakan buku teks. Untuk menghadapi masa era digital, kita memberikan tambahan-tambahan materi buku tersebut melalui e-book, bisa dikatakan yang menunjang buku pegangan utama.

Pada dasarnya ada  buku yang memang tidak bisa dipasarkan dalam bentuk digital dan memang harus dalam bentuk fisik atau tercetak. “Jika dibilang dampak era digital membuat buku cetak menjadi terpuruk, saya rasa tidak. Justru buku cetak pelajaran tetap stabil, yang terasa dampaknya justru yang seperti saya katakan tadi seperti komik dan sebagainya,” jelasnya.

Untuk pergeseran ke era digital justru kita rasakan di pembajakannya. Namun sebenarnya yang kita rasakan selain masalah pembajakan juga memang pada dasarnya minat baca dan minat beli buku masyarakat itu masih rendah. Terlebih mahasiswa sekarang lebih senang beli kuota dibandingkan untuk membeli buku.

Pembaca melalui digital pada dasarnya tidak dapat dipakai untuk memenuhi apa yang dibutuhkan dalam perkuliahan. Digital hanya sebatas memperkaya wawasan dalam pemenuhan kebutuhan dalam buku utama.

Harapan di dihari Buku Nasional, pembajakan buku segera ditindak. Kemudian gerakan minat baca buku ditingkatkan kembali. “Kita berharap ada tindakan hukum yang nyata dari Pemerintah terhadap para pembajak buku karena selama ini memang dari para penerbit bergerak sendiri dalam memberantas pembajakan buku,” jelasnya.

Intinya Pemerintah yang melakukan razia para pembajak, terjun langsung ke lapangan untuk memberantas para pembajak buku. Penegakan hukum yang kuat, bukan hanya sekedar tulisan undang-undang hak cipta. Penerapan dengan pasal yang menjerat apabila seseorang melakukan pembajakan atau sejenisnya. “Yang kita inginkan yakni tindakan nyata dari pemerintah dalam memberantas pembajakan buku. Dan sudah saatnya di Negara ini diterapkan budaya membeli yang asli bukan bajakan,” pungkasnya.

Lihat juga...

Komentar Anda

Alamat email anda tidak akan disiarkan.