Pengamat: Teroris tak Lihat Waktu untuk Bangkit

Editor: Koko Triarko

203

SOLO – Dr. Amir Mahmud, pengamat sekaligus cendekiawan muslim yang pernah mengenyam pendidikan militer di Afganistan pada 1987, menyebut maraknya aksi teror di Tanah Air setidaknya disebabkan oleh dua hal.

Melalui bukunya berjudul ‘Fenomena Gerakan Jihad’, Dr. Amir Mahmud,  menerangkan, ada berbagai teori dan permasalahan yang menyebabkan adanya gerakan jihad di Indonesia. Ada dua kemungkinan yang melandasi adanya aksi teroris akhir-akhir ini.

“Yakni, tanpa kelompok dan berkelompok. Tanpa kelompok karena ada pihak (pelaku) yang menyimpan dendam kuat dan menyakitkan lalu muncul aksi tersebut. Sedangkan yang kelompok bisa jadi kelompok yang sudah lama, selnya mulai aksi lagi dengan adanya pemicu. Bisa jadi ada otak di belakangnya,” papar Amir Mahmud, dalam bedah buku yang dihadiri puluhan mahasiswa Univet Bantaran, Sukoharjo, Solo, Jawa Tengah, Kamis (17/5/2018).

Adanya indikasi jaringan baru muncul atau jaringan yang telah ada, karena menurutnya teroris tidak melihat waktu untuk bangkit kembali atau melancarkan aksinya.

Karena itu, Dosen Univet ini menyakini jika serentetan aksi teror di Indonesia ini bukan pengalihan isu atau by desain. “Menurut saya, ini bukan pengalihan isu atau by desain. Karena teroris tidak melihat waktu untuk bangkit kembali,” tegasnya.

Pria yang sempat dikaitkan dengan ISIS karena membentuk Forum Pendukung Daulah Islamiyah (FPDI) di Solo pada Juli 2014 dan telah diluruskan ini, menjelaskan, dalam buku yang ditulisnya juga berisikan berbagai informasi fenomena gerakan jihad di Indonesia. Sehingga, baik aparat maupun pemerintah dapat mengantisipasi adanya kasus teror-teror lainnya.

“Saya mengarang buku ini berangkat dari keprihatinan maraknya aksi terorisme di Indonesia, dengan berbagai model. Khsusus bagi kalangan intelektual, kami berharap buku ini mampu memberikan informasi fenomena gerakan jihad di Indonesia. Agar mereka memahami bagaimana mengantisipasi, cara menyikapi dan menindak kasus-kasus teroris yang muncul,” terangnya.

Menurutnya, buku yang diluncurkan pada 2017 disambut baik berbagai instansi, baik pemerintah maupun swasta. Sebab, buku tersebut dinilai mampu memberi pencerahan terkait gerakan jihad yang ada di Indonesia.

“Dalam waktu dekat, saya diundang acara bedah buku di Jakarta dan sejumlah institusi kepolisian,” tandasnya.

Sementara itu, dalam seminar dan bedah buku itu turut diikuti dengan ikrar anti hoak dan anti radikalisme serta mendukung Polri untuk melawan terorisme di Indonesia.

Pihak Univet juga menegaskan, jika kampusnya menolak masuknya berbagai paham radikal maupun yang bertentangan dengan ideologi bangsa.

“Kami mendukung adanya pencerahan tentang gerakan jihad yang baik dan benar untuk para mahasiswa. Karena mereka adalah generasi penerus bangsa, jadi harus mendapatkan informasi yang benar. Kalau gerakan radikal jelas kita tolak,” pungkas Rektor Univet Prof. Ali Mursyid.

Lihat juga...

Isi komentar yuk