Pengusiran Warga JAI, Gubernur NTB Minta Warga Tahan Diri

Editor: Mahadeva WS

199

LOMBOK TIMUR – Gubernur Nusa Tenggara Barat (NTB), Zainul Majdi meminta masyarakat Dusun Grepek Tanak Eat, Desa Greneng, Kabupaten Lombok Timur bisa menahan diri. Masyarakat diminta tidak mudah terpancing emosi dalam menyikapi perbedaan.

Permintaan tersebut disampaikan Majdi saat mengunjungi Jamaah Ahmadiyah Indonesia (JAI) di Polres Lombok Timur dan berdialog dengan warga setempat. Himbauan tersebut disampaikan menyikapi kasus perusakan permukiman dan pengusiran warga JAI di Desa Greneng Kabupaten Lombok Timur oleh masyarakat setempat.

“Meminta masyarakat bisa menahan diri serta bisa menjaga hal-hal baik yang tumbuh dan berkembang di masyarakat seperti, semangat persaudaraan, kekeluargaan dan kekerabatan, kalau kita tidak bisa menjaga persaudaraan dan kekeluargaan, maka yang muncul adalah kebencian” ungkap Majdi, Senin (21/5/2018).

Kehadiran Majdi di Lombok Timur, selain untuk mengajak secara langsung warga menahan diri. Juga untuk menindaklanjuti penyelesaian kasus perusakan sejumlah rumah dan pengusiran warga Ahmadiyah oleh sekelompok warga pada Sabtu 19 Mei 2018 lalu.

Majdi mengaku merasa prihatin atas kejadian tersebut. Lebih-lebih peristiwa yang melibatkan delapan rumah yang terdiri dari tujuh Kepala Keluarga Ahmadiyah tersebut terjadi di bulan Ramadhan, bulan penuh kesucian yang seharusnya setiap warga, bisa menahan diri untuk tidak mudah terpancing emosi. “Dalam menyikapi perbedaan harus bijak, kalau ada yang kurang pas warga diminta menempuh cara-cara baik dalam menyelesaikannya, seperti melakukan musyawarah atau saling menasehati,” pintanya.

Majdi berharap kejadian serupa tidak terulang lagi. Terkait penyelesaian persoalan tersebut, Pemda NTB akan mencarikan solusi terbaik dengan mengundang sejumlah tokoh masyarakat untuk duduk bersama, bermusyawarah menyelesaikan permasalahan tersebut. Pemda Lombok Timur juga meminta agar anak-anak Warga Ahmadiyah dipastikan bisa bersekolah serta mendapatkan trauma healing.

Himbauan sama disampaikan Kapolda NTB Brigjen Achmad Juri saat memantau lokasi dan mengunjungi warga Ahmadiyah. Polisi berpangkat bintang satu tersebut meminta warga agar bisa menahan diri dan tidak melakukan main hakim sendiri. Masyarakat diminta bijak menyikapi setiap perbedaan, tanpa harus melakukan kekerasan dan aksi pengerusakan. “Masyarakat supaya tidak mudah terprovokasi, kalau ada permasalahan atau perbedaan pandangan, semua bisa didialogkan” katanya.

Sebelum sekelompok warga pada Sabtu (19/5/2018) melakukan perusakan dan pengusiran warga Ahmadiyah yang berada di Desa Greneng Lombok Timur. Akibat peristiwa tersebut, enam rumah milik warga Ahmadiyah rusak berat berikut benda perabotan rumah dan kendaraan bermotor. Sementara itu delapan keluarga diungsikan ke Polres Lombok Timur sampai saat ini.

Lihat juga...

Isi komentar yuk