Penjualan Nanas Madu di Lamsel, Meningkat Tajam

Editor: Koko Triarko

440
LAMPUNG — Petani buah nanas di Lampung Selatan, mulai mendapatkan keuntungan berlipat selama bulan Ramadan, ini. Penjualan meningkat hingga lima kali lipat.
Petani nanas madu di kecamatan Sragi, Lampung Selatan, Karsim (30), menyebut, penjualan buah nanas di bulan Ramadan ini meningkat hingga lima kali lipat, jika dibandingkan hari biasa.
Pada hari biasa, rata-rata per hari hanya 50 buah. Namun, selama Ramadan ini, ia bisa menjual 80 hingga 100 buah nanas per hari.
Karsim, salah satu petani nanas madu di pasar Bakauheni menjajakan hasil panen untuk kebutuhan warga selama ramadan dan hari raya Idul Fitri [Foto: Henk Widi]
“Penjualan buah nanas meningkat, karena selain untuk buah segar juga untuk pembuatan berbagai jenis minuman,” terang Karsim,  petani sekaligus pedagang buah nanas madu di Pasar Bakauheni, Senin (28/5/2018).
Karsim menyebut, tanaman nanas yang bisa dipanen saat usia 11 hingga 12 bulan ditanam dengan sistem waktu berselang, agar bisa dipanen berurutan memenuhi pasokan pasar. Khusus di kebun miliknya, ia menanam sekitar 500 batang nanas. Sementara pasokan untuk penjualan didatangkan dari wilayah lain.
Buah nanas yang bisa dikonsumsi dalam bentuk buah segar dan olahan tersebut, bahkan kerap diburu warga untuk pengobatan beberapa jenis penyakit.
Menurut Karsim, nanas madu memiliki ciri khas buah yang kecil dan memiliki rasa yang manis, kerap dijadikan bahan jus, es buah serta selai.
Selama berjualan nanas, ia menyebut memiliki pelanggan tetap, di antaranya pedagang es buah, jus buah, pedagang roti bakar, pembuat kue kering.
Sementara, harga buah nanas pada hari biasa Rp2.500 per buah, kini menjadi Rp3.500 per buah. Namun, jika membeli dalam jumlah banyak di atas 20 buah, kerap mendapat potongan harga.
Permintaan stagnan akan buah segar nanas disebutnya justru berasal dari pelaku usaha kecil yang mengolah nanas menjadi produk kuliner.
“Saya memiliki pelanggan tetap, sehingga pada hari biasa sudah pasti ada yang membeli untuk dijual kembali dalam olahan produk kuliner,” papar Karsim.
Selain Karsim, pedagang buah di pasar Bakauheni, di antaranya, Yanti (30), menyediakan buah nanas sebanyak 100 buah per hari. Ia menjual nanas bersama buah lain, seperti jeruk, apel, mangga, semangka, salak dan sejumlah buah segar lainnya.
Menurutya, pada bulan Ramadan, permintaan buah nanas terbilang tinggi. Sebab, nanas banyak dibutuhkan warga. Pembeli diakuinya didominasi dari pemilik usaha kuliner es buah dan pedagang musiman selama bulan Ramadan.
Yanti mampu menjual sekitar 40 buah nanas per hari. Saat stok habis, ia mendapat kiriman dari kabupaten Lampung Tengah dan Lampung Timur. Penjualan yang meningkat disebutnya bersamaan dengan penjualan berbagai jenis buah lain yang banyak diminati oleh warga sebagai campuran pembuatan es buah dan selai nanas.
Mistina (50), warga Bakauheni, mengaku membeli 20 buah nanas dari pedagang di pasar Bakauheni. Buah nanas tersebut akan dibuat menjadi selai sebagai campuran pembuatan kue kering nastar. Selai nanas menjadi penambah rasa manis dalam pembuatan berbagai jenis kue, sehingga menambah rasa segar.
Harga buah nanas Rp3.500 per buah, diakuinya cukup murah dibandingkan tahun sebelumnya yang mencapai Rp5.000 per buah. Membanjirnya buah nanas menjadi faktor harga buah turun di sejumlah pedagang.
Baca Juga
Lihat juga...