Permintaan Melinjo Meningkat, Tapi Harga Anjlok

Editor: Mahadeva WS

798

LAMPUNG – Panen komoditas melinjo sebagai bahan baku pembuatan emping melinjo di Lampung Selatan tidak diikuti dengan membaiknya harga. Tercatat peningkatan permintaan melinjo dirasakan dalam waktu sebulan terakhir.

Salah satu pembeli buah melinjo asal Kecamatan Palas Lampung Selatan Sumini (30) menyebut, kebutuhan melinjo untuk pembuatan emping meningkat satu bulan sebelum Idul Fitri. Permintaan yang tinggi ditandai dengan jumlah pesanan yang mengalami peningkatan.

Jika semula pesanan melinjo hanya sekira 200 kilogram perbulan. Setiap mendekati Idul Fitri, jumlahnya meningkat menjadi 700 kilogram. Emping melinjo sering dipergunakan pemilik usaha kuliner sebagai camilan saat bersantai. Saat lebaran, emping melinjo sering disajikan sebagai hidangan tradisional.

Imbas permintaan bahan baku melinjo meningkat membuat Sumini bersama suaminya harus mencari ke sejumlah pemilik pohon melinjo di beberapa desa untuk membeli melinjo. Setiap pohon dibeli Rp100ribu hingga Rp150.000 untuk dipetik buahnya.

Sumini (kanan) melakukan pemetikan buah melinjo yang akan dimanfaatkan sebagai bahan pembuatan emping melinjo [Foto: Henk Widi]
“Proses pembelian buah melinjo dilakukan dengan sistem borongan setelah melakukan estimasi buahnya lebat atau kurang sehingga bisa disepakati pemilik kebun dan pembeli,” terang Sumini saat ditemui Cendana News di Kecamatan Penengahan, Kamis (24/5/2018).

Buah melinjo sebelum bulan Ramadan bisa dijual dengan harga Rp15.000 perkilogram dalam kondisi terkupas. Namun menjelang Ramadan, meski permintaan meningkat harga melinjo perkilogram hanya Rp12.000. Imbasnya sebagai pembeli sistem tebas borongan perpohon, Sumini bisa membeli perpohon hanya Rp6.000 perkilogram.

Perbedaan harga tersebut memperhitungkan jumlah permintaan emping melinjo saat hari biasa dengan selama Ramadan hingga lebaran. Harga yang anjlok berbanding terbalik dengan permintaan bahan baku dikarenakan faktor selama Ramadan sejumlah rumah makan mengalami penurunan penjualan.

Permintaan melinjo yang belum dikupas banyak berasal dari tempat pembuatan emping dengan harga Rp10.000 perkilogram. Hasil pembuatan emping akan dijual ke sejumlah pembuat kue serta toko oleh oleh untuk diolah lebih lanjut menjadi camilan rasa gurih, manis, pedas maupun bumbu balado.

Sebagai tambahan penghasilan, selain buah melinjo kupas bahan emping, Sumini juga menjual kulit melinjo. Kulit melinjo dijual sebagai bahan sayuran dijual Rp4.000 perkilogram.

Pembuat emping Warga Desa Merambung Suharti (42) menyebut, membuat melinjo dengan sistem tradisional menggunakan alat penumbuk. Pembuatan dimulai dengan memipihkan melinjo yang telah digorang sangrai menggunakan pasir. “Warga yang ingin emping melinjo biasanya membawa bahan baku untuk dibuat emping ukuran kecil maupun ukuran besar,” terang Suharti.

Setiap hari selama Ramadan Suharti mampu membuat lima kilogram emping. Emping mentah siap goreng yang sudah dijemur banyak dijadikan oleh-oleh serta disimpan untuk digoreng ketika hari raya Idul Fitri.

Harga melinjo dalam kondisi gelondongan akan kembali naik sesudah lebaran. Hal itu terjadi seiring sudah buka secara normalnya rumah makan. Permintaan bahan emping kering siap goreng disebut Suharti didominasi oleh pembuat kue tradisional serta kue kering untuk dijual sebagai kue lebaran.

Selain sebagai kue lebaran, emping melinjo menjadi oleh-oleh bersama camilan lain seperti keripik singkong dan pisang. Harga melinjo yang anjlok meski permintaan meningkat dikarenakan bersamaan dengan panen raya melinjo. Panen yang bertepatan dengan bulan Ramadan membuat jumlah bahan baku melimpah sehingga harga semakin anjlok.

Baca Juga
Lihat juga...