Perpusdes Desa Kerinjing Turut Majukan Sektor UKM

Editor: Koko Triarko

223

LAMPUNG — Upaya pengembangan literasi pedesaan sekaligus sebagai pusat kegiatan masyarakat terus dilakukan oleh Perpustakaan Desa (Perpusdes) Wahana Ilmu Desa Kerinjing, Kecamatan Rajabasa, Lampung Selatan.

Selain kegiatan membaca buku, pelatihan komputer, kegiatan pengolahan hasil pertanian menjadi produk usaha kecil terus dilakukan Perpusdes Wahana Ilmu.

Peri Gunawan (28), penanggungjawab Perpusdes Wahana Ilmu, menyebut keberadaan perpustakaan desa sejak awal bertujuan mendorong pemberdayaan masyarakat, salah satunya di sektor usaha kecil.

Pengolahan hasil pertanian berupa bayam, pisang, singkong, melinjo, kopi robusta serta produk pertanian lainnya terus dilakukan oleh anggota Perpusdes. Sejumlah produk olahan hasil pertanian, menjadi salah satu mata pencaharian masyarakat untuk meningkatkan nilai jual.

Perpusdes Wahana Ilmu terus mendorong sejumlah pemilik usaha tersebut untuk melakukan variasi produk, rasa, kemasan serta pemasaran dengan memanfaatkan internet.

Peri Gunawan menyebut, melalui strategi pengembangan perpustakaan, ia dan pengurus dilatih untuk bisa memberi dampak positif dari adanya perpustakaan.

Program pengembangan dilakukan dengan ikut memberdayakan masyarakat di sekitar perpustakaan, salah satunya usaha kecil berbasis pertanian. Sejumlah produk olahan berupa keripik daun bayam, emping melinjo, keripik pisang, keripik singkong, bubuk kopi dan olahan lain terus dibuat.

“Selama ini hasil olahan masyarakat dikemas dan dijual di warung desa, namun dengan adanya perpustakaan desa kami terus mengembangkan sistem pengemasan produk menarik, hingga sistem pemasaran online melalui media sosial memanfaatkan internet,” terang Peri Gunawan, Selasa (22/5/2018).

Menggandeng para ibu rumah tangga yang memiliki lahan pertanian, Peri Gunawan bersama pengurus Perpusdes Wahana Ilmu
berkreasi menciptakan produk makanan.

Ia menyebut, selama ini produk makanan yang diolah secara tradisional masih kalah dengan produk olahan dengan cara modern meski bahan baku sama. Sebagian petani bahkan menjual bahan baku singkong, pisang, melinjo yang diolah oleh pabrik menjadi makanan ringan.

Ia mengatakan, Beberapa produk olahan hasil pertanian telah dipersiapkan oleh Perpusdes Wahana Ilmu untuk kegiatan Peer Learning Meeting (PLM) dan Perpuseru Award pada 4-7 Juli mendatang di Yogyakarta.

Berbagai produk usaha kecil hasil pertanian masyarakat desa Kerinjing akan diikutsertakan dalam kegiatan tersebut. Pemanfaatan keberadaan Perpusdes dimaksimalkan dalam proses peningkatan nilai jual produk usaha kecil.

Pemanfaatan Perpusdes dilakukan melalui buku-buku resep masakan, pengolahan produk pertanian sekaligus strategi pemasaran. Fasilitas komputer di Perpusdes dimanfaatkan dalam pembuatan desain kemasan, sekaligus mencari ide varian rasa makanan ringan yang disukai masyarakat melalui internet.

“Kami akan bertemu dengan seluruh Perpusdes dari Indonesia dan beberapa produk usaha kecil yang sudah ada kami kembangkan sekaligus menciptakan produk baru,” terang Peri Gunawan.

Varian rasa keripik singkong, pisang yang beragam, di antaranya coklat, strowberi, keju, balado, pedas manis, ikut meningkatkan nilai jual. Ditambah kemasan menarik khusus untuk pisang dengan kemasan Banana-S dan ciri khas, produk yang biasanya hanya dijual seharga Rp10.000 isi 100 gram, bisa dijual seharga Rp25.000.

Peningkatan nilai jual tersebut tidak lepas dari kualitas rasa dan kemasan menarik yang dilakukan oleh anggota Perpusdes Wahana Ilmu.

Perpustakaan Wahana Ilmu yang merupakan salah satu perpustakaan desa dengan konsep perpustakaan seru (Perpuseru), kata Peri Gunawan, memiliki koleksi buku cukup beragam.

Buku tersebut kerap dimanfaatkan oleh anak-anak dan orang dewasa di desa tersebut untuk dipinjam, dibaca di rumah masing-masing dan di perpustakaan desa. Khusus untuk bulan suci Ramadan, Peri Gunawan menyebut buku keagamaan cukup diminati oleh anak-anak.

Selain buku keagamaan, beberapa kategori buku yang disiapkan di antaranya keterampilan dan kreasi kerajinan, kewirausahaan, pertanian dan budi daya, sastra dan bahasa, teknologi tepat guna, aneka olahan, kesehatan dan anak anak.

Berbagai jenis buku yang sudah ditempatkan khusus pada rak khusus sudah dikategorikan sesuai tema yang ada. Pengkategorian buku-buku tersebut selain memudahkan pembaca memilih sesuai dengan minat memudahkan pengurus melakukan penataan buku yang dikembalikan paska dipinjam.

Selain bisa membaca buku, saat menghabiskan waktu luang jelang berbuka puasa, anak-anak juga bisa berlatih komputer. Beberapa program komputer di antaranya Microsoft Power Point, editing video serta aplikasi lain bisa dipelajari dengan komputer yang sudah disediakan.

Sugeng Hariyono, fasilitator Perpuseru Lampung Selatan, menyebut keberadaan perpustakaan desa mitra Perpuseru bisa menjadi pusat kegiatan masyarakat.

Ia menyebut, keberadaan perpustakan sebagai sarana pendidikan informal menyesuaikan dengan kondisi dan pekerjaan masyarakat setempat. Keberadaan Perpusdes ikut menjadi kunci dalam pengembangan ekonomi kerakyatan sesuai dengan keunggulan wilayah setempat.

“Dampak langsung dari perpustakaan desa tentunya bertujuan meningkatkan derajat hidup yang baik, salah satunya dalam bidang ekonomi melalui usaha kecil,” papar Sugeng Hariyono.

Mengadopsi sejumlah wilayah pedesaan di Lampung yang sukses memaksimalkan hasil pertanian, Sugeng Hariyono terus mendorong petani bersinergi dengan perpustakaan desa. Fasilitas gratis buku dan komputer disebutnya sangat membantu masyarakat dengan beragam profesi meningkatkan potensi yang ada.

Produk pertanian yang dibuat melalui proses belajar di perpustakaan termasuk proses pemasaran sistem online diakuinya terdukung atas adanya perpustakaan.

Sugeng Hariyono menyebut, sejumlah perpustakaan desa dengan konsep perpuseru telah menunjukkan perkembangan yang membanggakan. Selain menjadi tempat membaca buku, sejumlah perpustakaan telah menjadi pusat pengembangan usaha kecil dan berbagai bidang.

Menurut Sugeng Hariyono, sejak 2012 hanya ada 34 perpuseru berada di bawah CCFI dan terus berkembang menjadi 104 mitra Perpuseru di tingkat kabupaten, serta 570 perpuseru di desa di sebanyak 18 provinsi di Indonesia.

Baca Juga
Lihat juga...