Pertumbuhan Ekonomi Meningkat, Angka Kemiskinan di Sikka Bertambah

Editor: Mahadeva WS

235

MAUMERE – Pertumbuhan ekonomi Kabupaten Sikka selalu meningkat meski tidak signifikan. Hal tersebut pada akhirnya kurang berdampak terhadap kemiskinan di daerah tersebut.

Plt.Bupati Sikka Drs.Paolus Nong Susar. Foto : Ebed de Rosary

Data pemerintah setempat menyebut, jumlah penduduk miskin terus mengalami peningkatan. Tercatat antara 2014 hingga 2017, jumlahnya mengalani peningkatan sebanyak dua persen. “Pertumbuhan ekonomi di Kkabupaten Sikka pada 2014 sebesar 4.56 persen tetapi di 2017 tercatat 5,22, persen. Sementara angka kemiskinan di 2014 sebesar 12,27 persen dan di 2017 meningkat menjadi 14,2 persen,” sebut Plt. Bupati Sikka Drs.Paolus Nong Susar, Jumat (25/5/2018).

Di 2014, tercatat dari target pertumbuhan ekonomi sebesar 4,5 persen. Sementara realisasinya mencapai 4,56 persen. Sementara di 2015 dari target 5 persen, realisasi capaiannya 4,40 persen. Di 2016 dari target 4,33 persen realisasi sebesar 4,93 persen dan di 2017 dari target 4,5 persen terealisasi 5,22 persen. Dari capaian sampai 2017 tersebut, jika dibandingkan dengan target akhir tahun RPJMD maka realisasinya mencapai 104,4 persen.

Sementara itu angka kemiskinan di Sikka pada 2014 target mencapai 12 persen atau meningkat 12,27 persen. Di 2015 dari target 11,50 persen terealisasi 14,28 persen, di 2016 dari target 11 persen terealisasi 14,33 persen. Di 2017 ditargetkan 10,50 persen realisasinya 14,20 persen.

“Capaian sampai 2017 dibandingkan dengan target akhir tahun RPJMD sebesar 10 persen, maka realisasinya belum mencapai target karena baru mencapai 70,42 persen saja,” ungkapnya.

Demi menekan angka kemiskinan, Nong Susar menyebut, pemerintah telah melakukan percepatan pembangunan di tiga sektor unggulan. Pertanian, kelautan dan perikanan serta pariwisata yang menjadi unggulan diberikan bantuan modal usaha.

Sementara kelompok-kelompok usaha yang ada di masyarakat mendapatkan pelatihan. “Pemerintah juga telah membangun jalan-jalan poros kecamatan. Namun masih ada 10 jalan poros yang usulannya tidak disetujui pemerintah pusat. Padahal jalan ini untuk membuka isolasi dan meningkatkan pertumbuhan ekonomi,” tambahnya.

Evaluasi dalam hal pengentasan kemiskinan, Nong Susar menilai mental masyarakat masih butuh pembenahan. Kondisi mental masyarakat masih menjadi penghambat. Seperti budaya di kalangan petani yang masih bertani untuk konsumsi dan hanya menyisakan sedikit untuk dijual. Sementara jika ingin meningkatkan kesejahteraan, maka sebagain besar produknya dijual dan hanya sedikit yang dikonsumsi.

“Budaya pesta pora dan perilaku hidup boros juga masih sangat besar di masyarakat. Ini yang masih sulit dihilangkan. Pemerintah selalu menghimbau agar membudayakan hidup hemat dan menabung. Pemerintah juga mendorong didirikan banyak koperasi,” tambahnya.

Baca Juga
Lihat juga...