Pertunjukan Topeng Ini Mempererat Hubungan Indonesia dengan Jepang

Editor: Satmoko

328

GIANYAR – Gubernur Bali Made Mangku Pastika mengapresiasi pertunjukan kesenian Topeng Tradisional Jepang “Hayachine Take Kagura” dalam rangka peringatan 60 tahun hubungan diplomatik antara Indonesia dengan Jepang.

Pertunjukan digelar di Rumah Topeng dan Wayang Setia Dharma Jalan Tegal Bingin, Br. Tengkulak Tengah, Mas, Ubud, Gianyar, Sabtu malam (19/5).

Menurut mantan Kapolda Papua ini, pertunjukan topeng ini memiliki makna yang sangat penting untuk mempererat dan memperteguh hubungan diplomatik kedua negara melalui kesenian.

Gubernur Bali Made Mangku Pastika saat melihat koleksi lukisan topeng di Rumah Topeng dan Wayang Setia Dharma Jalan Tegal Bingin, Br. Tengkulak Tengah, Mas, Ubud, Gianyar, Sabtu malam, (19/6).-Foto: Sultan Anshori.

Lebih jauh, Gubernur Pastika secara pribadi mengaku sangat tertarik dengan seni topeng, mengingat kehidupan setiap orang dalam keseharian selalu berganti peran yang dianalogikan sebagai topeng.

“Setiap hari kita berganti peran yang bisa diartikan sebagai topeng, mulai dari kita tidur melakoni peran suami istri, esok kita bangun melakoni peran bapak, setelah di tempat kerja misalnya saya melakoni peran jadi gubernur. Topeng menjadi keseharian setiap orang, perempuan memakai bedak pun sebuah topeng.

Mari kita lihat topeng tua, kebanyakan penarinya masih muda tetapi gerakannya sangat tua mengikuti topeng yang dikenakan. Itulah makna filosofi seni topeng sangat jauh melebihi jangkauan pikiran kita,” ungkap Pastika.

Gubernur Bali Made Mangku Pastika (tengah), didampingi dengan Konsulat Jendral Jepang, Mr. Shiba (kanan) serta Prof. Dibia usai menonton pertunjukan kesenian topeng tradisional Jepang “Hayachine Take Kagura” dalam rangka peringatan 60 tahun hubungan diplomatik antara Indonesia dengan Jepang. Pertunjukan digelar di Rumah Topeng dan Wayang Setia Dharma Jalan Tegal Bingin, Br. Tengkulak Tengah, Mas, Ubud, Gianyar, Sabtu malam, (19/5).-Foto: Sultan Anshori.

Hal senada disampaikan Konsulat Jenderal Jepang, Mr. Shiba, bahwa penyelenggaraan pertunjukan seperti ini merupakam kali kedua setelah sebelumnya sempat digelar pada bulan September 2015 di ISI Denpasar sebagai pengingat hubungan diplomatik.

Ia pun menjelaskan filosofi tarian dan musik tradisional yang biasanya dipertunjukkan di tempat pemujaan tersebut sebagai bentuk doa ke hadapan Tuhan.

“Tarian tersebut menurutnya telah dilestarikan di negaranya sejak tahun 1976, dan terdaftar sebagai warisan tak benda UNESCO pada tahun 2009,” jelas Mr. Shiba.

Sementara itu, Prof. Dibia menyatakan, acara tersebut sebagai sebuah perayaan jembatan budaya yang telah dibangun sekian lama antara Bali dengan Jepang. Ia pun mengamini pertunjukan tersebut merupakan kolaborasi kesekian kalinya, dan selalu mendapat apresiasi.

“Bali dan Jepang memiliki kesamaan budaya terutama pada seni topeng, sehingga ada benang merah yang gampang dihubungkan. Inilah yang membuat pementasan selalu menarik,” ujar Prof. Dibia.

Ia berharap, pertunjukan tersebut semakin memperkaya pemahaman seniman Bali terhadap seni topeng Jepang, serta memberi inspirasi kepada seniman kreatif untuk menghasilkan karya baru.

Acara yang berlangsung selama satu jam tersebut sukses serta mampu menarik antusias penonton karena berkolaborasi dengan tarian barong.

Lihat juga...

Isi komentar yuk