Petani Lamsel Panen Buah Melon

Editor: Koko Triarko

539

LAMPUNG — Hasil panen petani buah melon di Dusun Pegantungan, Bakauheni, Lampung Selatan, pada masa panen pertama pertengahan Mei yang berdekatan dengan bulan Ramadan ini, melimpah.

Khoirul Anam (24), salah satu petani melon jenis eksyen di desa setempat, menyebut kondisi cuaca didominasi panas membuat produksi melon pada masa tanam pertama tahun ini, melimpah. Potensi kerontokan yang minim pada masa pembungaan membuat hasil produksi buah melon sebanyak 6.000 pohon bisa menghasilkan 7 ton melon segar.

Khoirul menyebut, pada lahan seluas 5.000 meter persegi, dirinya membutuhkan modal sekitar Rp20 juta untuk bibit, pengolahan lahan, perawatan hingga panen.

Harga bibit per paket isi 550 biji seharga Rp150.000, membuatnya memilih membelinya di Banten dengan harga lebih murah, yakni Rp130.000 per paket, atau Rp2.080.000 untuk 16 paket. Ditambah 14 paket atau 6.000 benih siap tanam dan 2.800 sebagai bibit cadangan untuk penyulaman.

Mukti salah satu petani lain memperlihatkan hasil panen melon yang siap dikirim ke sejumlag wilayah di Lampung [Foto: Henk Widi]
“Cara menyiasati efisiensi bibit dilakukan dengan banyak membandingkan harga benih di wilayah Lampung serta Banten. Lumayan, jika ada selisih harga bisa dipergunakan untuk mengurangi biaya modal,” terang Khoirul Anam, Senin (14/5/2018).

Selain efisiensi modal melalui benih, katanya, pola tanam menggunakan mulsa plastik dan ajir bambu juga digunakan untuk tiga kali masa tanam.

Buah melon varietas eksyen atau kerap dikenal dengan melon madu disebutnya tidak terpengaruh oleh musim, karena permintaan hampir setiap hari ada. Kondisi tersebut berbeda dengan jenis komoditas pertanian lain jenis buah timun suri, blewah yang kerap hanya ditanam jelang Ramadan.

Buah melon pada hari biasa dijual seharga Rp3.000 per kilogram, dan saat jelang Ramadan bisa meningkat menjadi Rp5.000 per kilogram.

Menurutnya, potensi permintaan yang tinggi membuatnya selalu melakukan perhitungan mundur bertepatan dengan hari tertentu.

Pada saat bulan Ramadan belum tiba, ia sudah melakukan penanaman sekitar 60 hari sebelumnya, dengan prediksi saat awal bahkan memasuki bulan Ramadan buah melon bisa dipanen.

Permintaan melon dominan berasal dari wilayah Lampung. Meski permintaan dari wilayah Banten dan Jakarta tinggi, ia memilih memenuhi pasar lokal.

Perhitungan biaya distribusi ke Serang, Banten, dengan biaya transportasi naik kapal sebesar Rp1,5 juta disebutnya cukup tinggi. Sebagai upaya menekan tingginya ongkos distribusi dengan keuntungan lebih tinggi jika dijual lokal, ia memilih menjual ke wilayah Bandarlampung dengan biaya transportasi hanya Rp700 ribu.

Hasil panen sebanyak tujuh ton pada masa panen ini, dengan harga jual Rp5.000 per kilogram, ia mengaku bisa memperoleh omzet Rp35 juta.

Omzet Rp35 juta ini masih harus dikurangi biaya modal sebesar Rp20 juta, dan sebagian dipergunakan untuk membayar biaya tenaga kerja serta lain-lain, yang bisa mencapai Rp4 juta.

Keuntungan disebutnya dipergunakan untuk keperluan pembaharuan ajir, mulsa serta menyewa lahan baru milik petani yang bisa dipergunakan untuk menanam melon. Penggunaan pupuk nonsubsidi disebutnya termasuk salah satu pengeluaran yang tinggi. Sebab, jenis KCL,SP-36 dan Mutiara yang dibeli memiliki selisih rata-rata Rp10 ribu dibanding pupuk subsidi.

“Kami petani melon terkendala belum memiliki kelompok tani, karena melakukan usaha secara mandiri, sehingga harus kuat modal,” terang Khoirul Anam.

Salah satu siasat mencari keuntungan dalam budi daya melon, kata Khoirul, dilakukan dengan pola perhitungan waktu yang tepat. Jelang hari raya dan libur ikut menyumbang tingginya permintaan.

Penanaman buah melon juga disebutnya cukup lancar dengan adanya pengepul langganan di sentra pasar buah yang mengambil ke kebun sebanyak tiga pengepul, dengan rata-rata pengambilan sebanyak 2 ton. Ia berharap, ada pengepul yang siap menampung melon sekali panen untuk dijual ke pengecer, agar panennya bisa sekaligus dilakukan.

Petani melon lainnya, Mukti (40), pada masa pemanenan tahap awal mendapat hasil 10 ton. Harga di tingkat petani pada panen sebelum puasa seharga Rp5.000 diakuinya membuat ia bisa memperoleh hasil Rp50 juta sekali panen.

Beberapa tanaman yang berbuah lebih dari satu buah bahkan masih bisa dipanen tahap kedua dengan hasil bisa mencapai Rp5 juta.

“Pada masa awal panen sebelum Ramadan, permintaan paling banyak dari wilayah Bandarlampung untuk dijual ke pengecer,” papar Mukti.

Pengelolaan masa tanam dengan menghitung penanaman diprediksi pada awal masa Ramadan, pertengahan Ramadan dan akhir Ramadan, membuatnya bisa memperoleh keuntungan berlipat.

Jika pada hari normal, mendapat permintaan dari lima pengepul, saat jelang Ramadan ia mendapat permintaan dari delapan lebih pengepul.

Banyaknya pedagang pengecer musiman saat Ramadan disebutnya ikut menyumbang tingginya permintaan akan buah melon.

Strategi penanaman tanaman melon secara berselang, agar bisa dipanen secara bertahap selama Ramadan sudah diterapkannya selama empat tahun.

Ia menyebut, kondisi tersebut ikut didukung oleh cuaca yang baik, sehingga buah melon yang ditanam terhindar dari risiko busuk buah. Selain sudah menanam 10 ton buah melon, ia mengaku masih menunggu sebagian tanaman lain yang diprediksi akan panen pada pertengahan Ramadan, sekitar awal Juni mendatang. Penanaman dengan pola waktu berselang bisa menjadi strategi untuk memperoleh keuntungan berlipat.

Lihat juga...

Komentar Anda

Alamat email anda tidak akan disiarkan.