hut

Petani Lokal Belum Mampu Penuhi Kebutuhan Kedelai

Editor: Koko Triarko

Perajin tempe dan tahu di IKM Somber Balikpapan. –Foto: Ferry Cahyanti

BALIKPAPAN – Industri tahu-tempe di Balikpapan terkena dampak kenaikan harga bahan baku kedelai impor dari Amerika. Kenaikan harga yang cukup tinggi, dari Rp7.200 menjadi Rp8.000 per kilogram, membebani para perajin.

Sebagai langkah untuk memutus ketergantungan perajin dengan kedelai impor, sudah dilakukan oleh Primer Koperasi Produsen Tempe dan Tahu Indonesia (Primkopti) Balikpapan.

“Yakni dengan memanfaatkan kedelai lokal. Tetapi, usaha itu sulit berkembang, karena para petani lokal tak mampu menjaga kualitas dan kuantitas pasokan,” kata pengurus Primkopti Balikpapan, Sa’diah, Selasa (22/5/2018).

Ia mengatakan, petani di beberapa daerah bisa menyediakan kedelai dengan kualitas bagus, tetapi tak mampu menjaga pasokan. “Selain itu, kualitas kedelai yang dijual turun-naik,” katanya.

Primkopti Balikpapan selama ini menyuplai 115 perajin tempe tahu yang berada di kawasan Sentra Industri Kecil Somber. Para perajin tempe ini merupakan pemasok utama di Balikpapan dan sekitarnya. Untuk itu, pasokan bahan baku harus selalu tersedia tepat waktu dengan jumlah yang cukup.

“Kami mencoba siasati kenaikan kedelai impor ini dengan  (kedelai) lokal. Tapi, ya itu tadi. Balik lagi pada kemampuan petani dalam menyediakan stok. Belum lagi distribusi dari petani ke koperasi juga tak murah,” tambah Sa’idah.

Dia juga mengatakan, kedelai lokal yang berkualitas berasal dari petani Muara Komam Kabupaten Paser. Petani di daerah itu menanam kedelai di antara sawit.

Yang mengejutkan, biaya angkut ke Balikpapan ternyata lebih tinggi. Selain itu, hasil panen petani di Muara Komam belum menutupi kebutuhan perajin.

“Pada dasarnya akses mereka lebih dekat ke Kalsel ketimbang Kaltim. Hasil panennya juga tak mampu menutupi kebutuhan kami,” terangnya.

Kedelai asal Bima NTB dan Kebumen di Jawa Tengah pun sebenarnya berkualitas baik, namun disayangkan petani di sana tak mampu menjaga kualitas hasil panennya. Begitu pula dengan kedelai asal Mamuju, Sulawesi Barat.

Pihak koperasi pernah mendatangkan dua kontainer kedelai. Sayangnya, mereka kecewa karena kualitasnya menurun. “Pada transaksi pertama (kedelainya) bagus-bagus, begitu transaksi kedua dan barangnya datang, kualitasnya menurun, kedelainya merah. Kalau dari Mamuju malah bercampur dengan bebatuan kecil, jadi tidak bersih dan bisa merusak mesin penggilingan,” ungkap Sa’idah.

Kebutuhan kedelai untuk perajin di IKM Somber bisa mencapai 12 kontainer dengan bobot maksimal 23 ton per bulan.

Sementara Primkopti hanya mampu menyediakan sekitar 7 sampai 8 kontainer, sehingga perajin menyiasati produksi dengan mengurangi ukuran tempe.

Mahalnya harga kedelai impor salah satunya disebabkan melemahnya rupiah terhadap dolar. Saat ini harga jual kedelai impor sebagai bahan dasar tahu dan tempe sebesar Rp8 ribu dari sebelumnya Rp7.200 per kilogram.

Lihat juga...