Petani Melon di Lamsel Butuh Bantuan Sumur Bor

Editor: Koko Triarko

144

LAMPUNG – Sejumlah petani buah melon dengan luasan lahan mencapai belasan hektare di wilayah Dusun Pegantungan dan Dusun Way Baru Desa Bakauheni, Kecamatan Bakauheni mendambakan bantuan sumur bor.

Khoirul Anam, salah satu petani melon di Dusun Pegantungan, menyebut, selama ini petani hanya memanfaatkan sumur gali yang dialirkan dengan pompanisasi untuk pengairan beberapa hektare lahan pertanian melon. Selain sumur dalam sumber air jenis belik kerap dipergunakan petani untuk pasokan tanaman melon.

Menurut Khoirul, sebagian besar petani melon di wilayah tersebut merupakan petani dengan sistem sewa lahan di bekas lahan tambak udang dan sawah.

Akibat pasokan air yang kurang, membuat petani sawah beralih menanam komoditas hortikultura jenis buah melon, semangka, tomat, gambas, cabai merah. Pemanfaatan air dengan sistem sedot diakui Khoirul sudah berlangsung beberapa tahun akibat tidak adanya saluran irigasi.

“Selain dengan memanfaatkan sumur pompa, kami juga menggunakan embung yang menyimpan air, lalu kami sedot dengan mesin agar bisa dimanfaatkan untuk penyiraman tanaman melon dan sayuran,” terang Khoirul Anam, Jumat (18/5/2018).

Usulan pembuatan sumur bor diakui Khoirul Anam pernah disampaikan kepada pihak UPT Dinas Pertanian Tanaman Pangan dan Hortikultura dan Perkebunan (DPTPHBun). Namun, akibat belum adanya kelompok tani (Poktan) sebagai syarat pengajuan bantuan membuat usulan tersebut belum bisa terealisasi.

Saat ini, masih ada lebih dari sepuluh penanam komoditas hortikultura di wilayah tersebut, namun sebagian belum bergabung dalam poktan.

Sebagai solusi untuk pengairan, Khoirul Anam juga melakukan penampungan air hujan di sejumlah drum plastik. Sejumlah kolam buatan di tengah lahan sengaja dibuat sebagai penampung air saat hujan turun, dan dipergunakan untuk penyiraman sekaligus pemberian pupuk cair dengan sistem kocor.

Sebagian petani disebutnya juga masih mengandalkan bantuan sumur bor dari pemilik tambak yang ada di wilayah tersebut.

Penanam 6.000 tanaman melon tersebut mengaku menunggu proses panen pada awal Juni mendatang. Pasokan air yang penting untuk proses pembuahan diakuinya membuatnya menggunakan selang besar untuk proses pemompaan.

Air selanjutnya dibendung dalam guludan dan disiramkan mempergunakan gayung.

Kebutuhan akan pasokan air memadai juga diakui oleh Mukti, petani melon lainnya, di area yang sama. “Salah satu kendala kami dalam budi daya tanaman hortikultura adalah pasokan air yang pada bulan tertentu harus menyedot dari sumur yang jauh,” papar Mukti.

Salah satu sumur yang dipergunakan untuk memasok pengairan lahan pertanian disebutnya berasal dari sumur milik SMPN 2 Bakauheni.

Sekolah yang memiliki satu sumur tersebut bahkan kerap menjadi tumpuan pasokan air diambil dari Sungai Pegantungan, meski harus menyiapkan selang sepanjang 2.000 meter untuk penyaluran air. Kekurangan air untuk pengairan diakui Mukti diprediksi akan terjadi bulan Juni hingga Agustus mendatang.

Sebagai upaya menyiasati keterbatasan pasokan air, keberadaan embung pun dimaksimalkan.

Setelah menanam melon yang diperkirakan akan habis dipanen pada dua pekan sebelum Idul Fitri, Mukti dan sejumlah petani akan beralih menanam gambas, tomat dan cabai, kacang panjang dan sayuran lain.

Penanaman beberapa jenis komoditas hortikultura tersebut diakuinya sangat cocok saat musim kemarau karena tidak membutuhkan air banyak.

Meski belum ada bantuan sumur bor, Mukti dan sejumlah petani lain memaksimalkan potensi lahan bekas tambak untuk budi daya komoditas pertanian secara berselang.

Selain menjaga kesuburan tanah penanaman secara berselang juga dilakukan untuk memutus mata rantai organisme pengganggu tanaman dan menyesuaikan kebutuhan air.

“Akhir Mei petani dipastikan akan mulai beralih ke komoditas lain yang konsumsi airnya tidak banyak, karena pasokan air di sini terbatas,” cetus Mukti.

Sebagai kawasan yang sulit memperoleh pasokan air wilayah tersebut diakuinya justru menjadi sentra sayuran dan buah. Selain tanaman melon, sebagian petani bahkan mengembangkan komoditas jagung manis, timun, serta berbagai komoditas sayuran yang bisa dipanen usia dua bulan dan dipergunakan untuk memasok pasar lokal Lampung Selatan.

Sebagian komoditas bahkan dikirim ke wilayah Serang Banten untuk memenuhi kebutuhan akan buah dan sayuran segar.

Lihat juga...

Komentar Anda

Alamat email anda tidak akan disiarkan.