Petani Tembakau di NTB Kesulitan Air

Editor: Koko Triarko

313
LOMBOK – Musim kemarau yang telah berlangsung selama beberapa bulan terakhir, menyebabkan berkurangnya debit air sungai dan embung serta bendungan di Pulau Lombok. Beberapa di antaranya mengalami kekeringan.
Akibatnya, banyak di antara petani belum bisa menanam tembakau hingga sekarang, padahal bibit tembakau yang banyak telah disemai sudah cukup umur dan siap ditanam.
“Belum bisa menanam, karena debit air sungai yang hendak disedot untuk kebutuhan penanaman tembakau, sangat kecil, sementara banyak petani yang membutuhkan air”, kata Mustakim, petani tembakau Kabupaten Lombok Timur, Senin (28/5/2018).
Sementara ini, agar mendapatkan air, proses penyedotan air sungai menggunakan mesin diesel maupun pengairan air bendungan harus dilakukan secara bergiliran dengan petani lain.
Menurutnya, untuk kebutuhan penyiraman bibit tembakau saja, petani harus menggunakan air selokan yang mengalir dari pembuangan rumah warga, sisa dari air mandi dan mencuci.
Darsiah, petani lainnya, mengatakan, debit air sungai maupun bendungan dalam beberapa tahun terakhir cepat sekali mengecil, bahkan sampai mengering.
“Padahal, kalau dulu petani tidak pernah mengalami kekurangan air seperti sekarang, kebutuhan pengairan tanaman selalu tercukupi, baik air sungai maupun embung dan bendungan”, katanya.
Darsiah menduga, cepatnya debit air sungai dan sungai mengecil, selain karena cuaca kemarau yang lebih panas, juga akibat tertutupnya sumber mata air sungai akibat tumpukan sedimentasi.
Ditambahkan, tanaman tembakau sebenarnya termasuk jenis tanaman tidak membutuhkan banyak air, hanya tahap awal penanaman saja butuh air banyak untuk menyiram tanah, supaya gembur, setelahnya keperluan air sangat sedikit untuk pemupukan maupun pengairan, hingga masa panen tiba.
Baca Juga
Lihat juga...