Populasi Sapi Perah di Kulon Progo Turun

297

KULON PROGO — Populasi sapi perah di Kabupaten Kulon Progo, Daerah Istimewa Yogyakarta, mengalami penurunan dan tidak dapat berkembang karena kondisi geografis yang panas tidak cocok untuk pengembangan sapi jenis tersebut.

Kepala Bidang Peternakan Dinas Pertanian dan Pangan Kulon Progo Nur Syamsu Hidayat di Kulon Progo, Senin, mengatakan pengembangan populasi sapi sejak 1980-an sampai sekarang tidak bisa berkembang, justru populasi sapi mengalami penurunan.

“Pada 1980-an, populasi sapi perah dari 100 ekor, sekarang tinggal 35 ekor. Potensi di Kulon Progo hanya cocok untuk sapi potong (pedaging) yang saat ini menjadi ternak andalan,” kata Nur Syamsu.

Menurut dia, kondisi peternak dan alam di Kulon Progo tidak cocok untuk ternak sapi perah karena kondisi panas. Ternak sapi perah membutuhkan cuaca yang dingin, sehingga dinas tidak mengembangkan sapi perah.

“Kami tidak mendorong peternak memelihara sapi perah, kami mendorong peternak memelihara sapi potong,” katanya.

Dia mengatakan pihaknya sudah melakukan uji coba sapi perah melalui bantuan presiden sejak 1980-an, tapi tidak bisa berkembang. Pada waktu itu, peternak juga melakukan kredit dengan kerja sama dengan Koperasi Warga Mulyo (Sleman). Perkembangannya tidak baik, justru peternak merugi.

“Kami tidak pernah merekomendasikan peternak memelihara sapi perah,” katanya.

Ia mengatakan pada akhir 2017, populasi sapi potong di Kulon Progo sebesar 51.047 ekor, dan populasi kambing PE sebesar 91.811 ekor.

Ia mengatakan populasi sapi potong saat ini mengalami peningkatan dibandingkan pada 2014 sebanyak 49.522 ekor, 2015 sebanyak 49.866 ekor, dan 2016 sebanyak 49.851 ekor per Oktober.

“Pada 2011-2013 populasi sapi di Kulon Progo sangat terendah karena terkena dampak impor sapi. Pada tahun tersebut, harga sapi sanga rendah dan peternak menjual sapi mereka karena takut rugi. Tapi, mulai 2014, populasi sapi kembali menggeliat seiring larangan sapi impor,” kata Nur Syamsu.

Ia mengatakan dari 12 kecamatan di Kulon Progo, ada lima kecamatan dengan populasi tertinggi, yakni Sentolo sebanyak 6.143 ekor, Lendah sebanyak 6.122 ekor, Pengasih sebanyak 5.977 ekor, Wates sebanyak 5.934 ekor, dan Panjatan sebanyak 5.678 ekor.

“Lima kecamatan tersebut merupakan sentra pengembangan sapi potong dan setiap tahun terus meningkat,” katanya.

Salah satu peternak di Kecamatan Sentolo Sumingan mengatakan harga sapi saat ini standar, tidak ada peningkatan. Harga sapi ukuran sedang berkisar Rp8 juga hingga Rp10 juta per ekor.

“Kami senang membesarkan sapi, setelah itu dijual. Kalau dipelihara sampai beranak, keuntungannya sedikit,” kata dia.[ant]

Baca Juga
Lihat juga...