Posdaya Bahari Dapat Bantuan Mesin Jahit dari Disnakertrans

Editor: Satmoko

227
Ketua Posdaya Bahari Dewi Anggriani/Foto: M. Noli Hendra

PADANG – Posdaya Bahari yang berada di Kelurahan Pasia Nan Tigo, Kecamatan Koto Tangah, Padang, Sumatera Barat, semakin mantap dalam hal menjalankan pilar Yayasan Damandiri untuk memberdayakan masyarakat prasejahtera.

Hal itu, berawal dari hasil usaha dan perjuangan Posdaya Bahari yang bekerjasama dengan Kelompok Usaha Bersama (Kube), yang telah mengusulkan bantuan pemerintah untuk mesin jahit bagi masyarakat di Pasia Nan Tigo.

Ketua Posdaya Bahari, Dewi Anggriani mengatakan, pengusulan pemberian bantuan mesin jahit itu telah dilakukan sejak tahun 2017 lalu. Hasilnya, pengusulan itu baru terjawab pada tahun ini, dan direncanakan mesin itu akan diterima Kube dalam waktu dekat.

“Dari surat yang saya terima, yang datang dari Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi Kube akan mendapatkan 10 unit mesin jahit, 30 unit mesin lubang kancing, dan 30 unit mesin lagi yang bisa digunakan untuk press mata ikan,” jelasnya, Minggu (27/5/2018).

Dewi menyebutkan, khusus untuk Kube yang anggotanya juga merupakan anggota dari Posdaya Bahari memiliki 20 anggota yang aktif. Usaha jahit yang dijalaninya ialah membuat tas dari barang bekas. Serta juga ada usaha menjahit pakaian.

Menurutnya, mengingat jumlah mesin jahit yang mungkin bisa mencapai 10 unit, sementara anggota aktif hanya 20 orang, direncanakan apabila bantuan dana hibah itu sah diterima, maka cara pembagiannya adalah membagi satu mesin untuk dua orang.

“Rencana saya satu mesin jahit itu kita serahkan untuk dua orang. Jadi mereka akan bertanggung jawab terhadap mesin jahit itu. Tapi, soal rencana itu, kita lihat ke depan, bagaimana sistem pemakaian mesin jahitnya,” katanya.

Ia mengaku jika mesin jahit itu hanya diletakkan di rumah ketua saja, maka akan sangat berisiko menjadi aset yang menumpuk di rumah. Untuk itu, pembagian mesin ke setiap anggota adalah langkah yang tepat.

“Kita di Kube ini tidak memiliki uang kas. Karena akhir-akhir ini pemesanan pembuatan tas lagi sepi. Maka kita berharap betul dengan adanya bantuan mesin jahit, akan membuat kinerja anggota Kube lebih baik lagi,” ucapnya.

Dewi menjelaskan, di Posdaya Bahari usaha jahit yang paling dikenal orang ialah membuat tas dari barang bekas. Untuk membentuk tas, dibutuhkan mesin jahit. Setelah itu barulah ada langkah penggunaan barang bekas untuk menjadi hiasan dan pelapis dalam tas tersebut.

Ia mengaku para anggota Kube sudah lama menanti adanya bantuan mesin jahit tersebut. Karena jika dibeli secara pribadi, akan menghabiskan banyak uang. Sehingga upaya mengharapkan bantuan dari pihak pemerintah harus dilakukan para anggota Kube.

“Yang saya inginkan nanti, jelas ekonomi masyarakat yang menjahit itu lebih baik lagi, serta dapat memiliki pasar yang bagus,” harapnya.

Lihat juga...

Komentar Anda

Alamat email anda tidak akan disiarkan.