Potensi Budi Daya Jamur Tiram di NTB Belum Dimaksimalkan

Editor: Koko Triarko

353
LOMBOK – Budi daya jamur tiram merupakan salah satu usaha yang belum banyak dikembangkan di Pulau Lombok, Nusa Tenggara Barat. Padahal, usaha budi daya jamur tiram memiliki prospek cukup menjanjikan di pasaran.
Budi daya jamur tiram juga termasuk usaha paling mudah dilakukan, serta tidak membutuhkan modal besar sebagaimana usaha lain, tapi kalau ditekuni serius bisa mendatangkan keuntungan besar.
“Jamur tiram selama ini kebanyakan dikenal masyarakat sebatas dijadikan sebagai sayuran atau lauk makan bersama keluarga, yang biasa dijual di pasar tradisional maupun dijual secara keliling”, kata Safrul Khairi, pemilik budi daya jamur tiram, Desa Kabar, Kabupaten Lombok Timur, Selasa (29/5/2018).
Masyarakat yang menyukai jamur tiram sebagai sayuran atau lauk pun terbatas, tidak semua masyarakat menyukai. Tidak heran kemudian usaha budi daya jamur tiram kurang diminati untuk digeluti dan dijadikan usaha sambilan.
Padahal, selain sebagai sayuran keluarga, jamur tiram juga bisa diolah menjadi aneka makanan olahan dan camilan, salah satunya keripik jamur tiram.
“Jamur tiram kalau diolah jadi camilan ringan, enak sekali rasanya, apalagi kalau yang membuat keripik pandai mengolah dengan takaran bumbu yang pas”, kata sarjana ekonomi Universitas Islam Negeri (UIN) tersebut.
Ia mengaku, sejak merintis usaha jamur tiram, peminat jamur tiram dari masyarakat cukup banyak, terutama sebagai sayuran, ada juga pelanggan yang membeli  jamur tiram miliknya, diolah dan dijadikan sebagai camilan keripik untuk dijual.
Tapi, karena budi daya dikembangkan masih  terbatas, seringkali banyak pembeli yang tidak bisa dilayani. Masa panen jamur tiram sendiri dilakukan setelah tiga bulan.
Hasil panen sebagian besar dijual ke pasar tradisional setiap pagi melalui jasa para pedagang yang ada di sekitar rumah  untuk membawanya ke pasar.
“Satu bungkus atau kresek jamur tiram dijual 1.500 rupiah ke para pedagang, nanti  pedagang biasa menjual dengan harga 2.000 rupiah per bungkus”, katanya.
Diakui Khairi, keuntungan didapatkan saat ini dari usaha budi daya jamur tiram memang belum seberapa, tapi melihat prospeknya, ia berencana mengembangkan budi daya jamur lebih besar.
Mizan, pembudidaya jamur tiram lain mengaku, selama Ramadan ini permintaan jamur tiram juga banyak, termasuk pedagang yang datang lagsung ke lokasi budi daya hendak membeli dalam jumlah banyak untuk dijual kembali, tapi karena hasil panen terbatas, tidak semua permintaan bisa dipenuhi.
“Ada pedagang yang minta membeli dalam jumlah banyak, tapi hasil panen dalam sehari memang terbatas, tidak bisa dipenuhi, sehingga terkadang bingung juga mau kasih ke siapa, karena banyak yang minta”, katanya.
Baca Juga
Lihat juga...