Potensi Pemanfaatan Limbah Non B3 Menjadi Energi

Editor: Mahadeva WS

321

JAKARTA – Indonesia saat ini masih tergantung pada energy yang tidak terbarukan (unrenewable energy) seperti minyak bumi dan batu bara. Menurut data Kementerian ESDM di 2012, penggunaan minyak bumi mencapai 63% dari total  energy yang digunakan.

Sedangkan cadangan minyak bumi Indonesia tersisa hanya untuk 18 tahun ke depan. Cadangan batubara Indonesia relative lebih besar namun kualitasnya kurang baik pada lingkungan.

Menyadari hal tersebut, energy terbarukan (renewable energy) sangat berpotensi menyokong kebutuhan energy di Indonesia. Beberapa potensi yang dimiliki seperti matahari, angin, air, dan biomassa. Tahun ini Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) bekerjasama dengan enam Kabupaten dan enam perguruan tinggi dalam upaya pemanfaatan limbah non B3 menjadi energy.

Daerah yang terlibat tersebut meliputi Kabupaten Pelalawan, Katingan, Pasangkayu, Deli Serdang, Belitung Timur, dan Kotabaru. Sementara untuk perguruan tingginya Universitas Riau, Universitas Palangkaraya, Universitas Tandulako, Universitas Sumatera Utara, Universitas Banka Belitung, dan Universitas Lambung Mangkurat.

Rosa Vivien Ratnawati, Direktur Jenderal Pengelolaan Sampah, Limbah dan B3 KLHK, menjelaskan pembangunan fasilitas pemanfaatan limbah non B3 Biomassa menjadi energy pada rapat kerja KLHK, Kamis, 17.05.2018. foto KLHK/M Fahrizal

Direktur Jenderal Pengelolaan Sampah, Limbah dan B3 KLHK Rosa Vivien Ratnawati mengatakan, berdasarkan hasil penelitian di Kementerian ESDM pada 2008 lalu, potensi energy Biomassa Indonesia sangat besar. Secara teori diperkirakan mencapai 48.810 MW.

Angka tersebut diasumsikan dengan dasar kadar energy dari produksi tahunan sekira 200 juta ton Biomassa. Didapatkan dari residu pertanian, kehutanan, perkebunan, dan limbah padat perkotaan.

Potensi Biomassa yang cukup besar di Indonesia berasal dari limbah Kelapa Sawit. Data statistic Kelapa Sawit 2015–2017 Ditjen Perkebunan, Kementerian Pertanian menyebut, produksi Kelapa Sawit di 2015 di Kabupaten Deli Serdang mencapai 176.049 ton, Kabupaten Pelalawan 1.562.238 ton, Kabupaten Belitung Timur 126.450 ton, Kabupaten Katingan 168.149 ton, Kabupaten Kota Baru 539.042 ton, dan Kabupaten Pasangkayu 210.600 ton.

Selain dari limbah kelapa sawit, potensi besar juga ada pada tandan kosongnya yang dapat dimanfaatkan sebagai energy, baik gas maupun listrik. Data di 2015 menunjukkan sebesar 35.209,8 ton di Kabupaten Deli Serdang, 312.447,6 ton di Kabupaten Pelalawan, 25.290 ton di Kabupaten Belitung Timur, 33.629,8 ton di Kabupaten Katingan, 107.808,4 ton di Kabupaten Kota Baru, dan 42.120 ton di Kabupaten Pasangkayu.

Menurut Vivian, pembangunan fasilitas pemanfaatan limbah non B3 Biomassa menjadi energy ini bermanfaat dalam mengurangi timbulan limbah B3 sebesar 20 ton/bulan. Prosesnya menjadi sumber energy alternative-gas dan elektrifikasi dengan perkiraan 12 m3/ton/hari setara dengan 5,4 kg LPG/ton/hari.

Dengan program tersebut, meningkatkan pendapatan masyarakat, menciptakan kegiatan ramah lingkungan (methane capture), serta ketahanan pangan dengan budidaya jamur. Fasilitas di enam Kabupaten tersebut diharapkan dapat menjadi percontohan yang baik kemudian bisa direplikasikan di daerah sekitarnya.

Dengan demikian, selain mengelola lingkungan menjadi lebih baik, program tersebut juga membantu masyarakat memperoleh energy, menambah pendapatan, serta mengurangi ketergantungan terhadap energy tidak terbarukan.

“Kegiatan ini merupakan replikasi kegiatan serupa di 2017 lalu. Saat itu KLHK bekerjasama dengan Universitas Lampung. Pembangunan fasilitas pemanfaatan limbah non B3 Biomassa menjadi energy, hasilnya dirasakan langsung oleh 20 Kepala Keluarga di Desa Jatidadar, Kabupaten Lampung Tengah,” jelasnya, Kamis, (17/05/2018).

Baca Juga
Lihat juga...