Produk Souvenir di Sikka Masih Terkendala Pasar

Redaktur: ME. Bijo Dirajo

240

MAUMERE — Prosuk kerajinan tangan yang ada di kabupaten Sikka sulit dipasarkan di kabupaten Sikka sebab peminatnya masih sangat kurang dan selain itu belum adanya tempat khusus yang menjadi pusat penjualan.

“Sebenarnya di Sikka sendiri banyak pengrajin tetapi produk yang dihasilkan sulit dipasarkan. Kalau mengandalkan penjualan lokal saja tidak dapat membuat pengrajin membiayai kehidupan mereka,” sebut Thomas Alfa Edison, Selasa (15/5/2018).

Pengrajin aneka souvenir pengrajin aneka souvenir berbahan tempurung kelapa, pelepah pisang da dekorasi panggung ini mengatakan, banyak produk yang dihasilkan namun tidak ada pembelian secara rutin dalam jumlah banyak.

“Saya saja paling-paling kalau ada pesanan buat souvenir pernikahan baru mulai memproduksi. Ini yang membuat saya menerima tawaran bekerja di koperasi sebab kalau mengandalkan uang dari penjualan karya seni saja tentu tidak mencukupi,” tuturnya.

Thomas Alfa Edison
Thomas Alfa Edison salah seorang pengrajin aneka souvenir berbahan tempurung kelapa, pelepah pisang dan lainnya. Foto : Ebed de Rosary

Kendala terbesar yang dihadapi pengrajin selain modal kata Thomas yakni pengrajin tidak diikutsertakan untuk berpameran atau mempromosikan kerajinan tangan mereka di luar daerah sehingga bisa mencari peluang pasar.

“Pemerintah harus turun tangan membantu dengan memberikan pelatihan dan juga mengirimkan pengrajin untuk menimba ilmu di luar daerah serta ikut berpameran agar produknya bisa dikenal dan mendapatkan pelanggan,” tuturnya.

Sherly Irawati yang gencar mengajarkan kaum perempuan untuk menghasilkan aneka souvenir dari kain perca pun mengakui, bila hanya mengandalkan penjualan dari toko atau tempat usaha saja tidak akan cukup.

“Ada salah satu pengrajin yang saya ajari dan sudah mulai berhasil mencoa menjualnya langsung dengan menawarkan kepada siapa saja di setiap kantor atau tempat yang didatanginya dan hasilnya lumayan bagus,” tuturnya.

Namun untuk bisa menjual dalam jumlah banyak dan memiliki pelanggan rutin kata Sherly, pengrajin harus mempromosikan melalui internet atau media sosial. Semua itu pasti membutuhkan proses namun ini juga salah satu kiat agar produknya dikenal dan juga biaya promosinya gratis.

“Kiat-kiat pemasaran speerti ini yang harus diajari oleh pemerintah yang bertugas membina para pengrajin. Hal ini mengingat para pengrajin kita banyak yang masih berproduksi dalam jumlah yang kecil karena kesulitan memasarkan karya mereka,” ungkapnya.

Baca Juga
Belgia Kembangkan Investasi Vanili di Flotim KUPANG - Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu (DPM-PTSP) Kabupaten Flores Timur, Nusa Tenggara Timur, memfasilitasi perusahaan Belgi...
Harga Rumput Laut Masih Tergantung Tawar-menawar KUPANG - Pengamat ekonomi, Dr. James Adam, mengatakan pemerintah tidak berwenang mengatur harga jual rumput laut hasil produksi petani nelayan di pasa...
28 Tahun Jatuh Bangun Tekuni Usaha Batako MAUMERE – Keberadaan Usaha Kecil dan Menengah (UKM) di Kabupaten Sikka tidak terlepas dari, salah satunya, sosok Lambertus Tae. Seorang lelaki peranta...
Singapura-Filipina Minati Chips Rumput Laut Sumba ... KUPANG - Singapura dan Filipina, berminat untuk membeli chips yang dihasilkan pabrik pengolahan rumput laut di Kabupaten Sumba Timur, Nusa Tenggara Ti...
Kemampuan Bercerita, Kunci Pasarkan Produk MAUMERE – Selama tiga hari sejak Jumat (14/9/2018) hingga Minggu (16/9/2018) para peserta program Kombet Kreatif akan diperkenalkan kemampuan bercerit...
Maumere, Kota Kelima Pendampingan Komunitas Kreati... MAUMERE – Maumere menjadi kota kelima pelaksanaan Pendampingan Komunitas Kreatif Bekraf - Tempo Institute atau Kombet Kreatif. Kegiatan yang dibuka Ju...
Pemda Sikka Diminta Segera Aktifkan Sentra IKM MAUMERE – Ikatan Wanita Pengusaha Indonesia (Iwapi) cabang Sikka, meminta Pemerintah Daerah (Pemda) Sikka untuk segera mengaktifkan sentra Industri Ke...