Putu Mayang, Penganan Gurih Manis Penggugah Selera

Editor: Satmoko

379

LAMPUNG – Siti Amsaroh (34) bersama Solekah (34) terlihat sibuk mempersiapkan berbagai jenis bahan untuk membuat menu berbuka puasa.

Beberapa jenis penganan untuk berbuka puasa Ramadan yang dibuat oleh Siti Amsaroh diantaranya otak otak ikan tenggiri, gorengan, rujak tahu, asinan buah serta es buah.

Berbagai jenis menu tradisional yang dibuat oleh Siti Amsaroh tersebut kerap disajikan saat hari biasa,meski demikian saat bulan Ramadan tiba menu tersebut kerap diburu masyarakat.

Salah satu menu yang muncul dan sengaja dibuat selama bulan Ramadan untuk berbuka puasa disebut Siti Amsaroh adalah kue putu mayang. Penganan terrsebut diakui Siti Amsaroh merupakan jenis kue yang bentuknya seperti mie yang digulung seperti bulatan.

Siti Amsaroh melayani pembeli berbagai menu berbuka puasa [Foto: Henk Widi]
Sebagai ibu rumah tangga warga Penengahan Lampung Selatan yang memiliki pengalaman bekerja di Singapura sebagai buruh migran, kue tersebut kerap dibuat oleh orang Melayu sepanjang bulan Ramadan.

“Ciri khas kue putu mayang dilihat dari bentuk dan warnanya yang menarik seperti benang wol yang digulung dengan warna dominan hijau, merah dan putih dengan cara menyantap menggunakan kuah santan dengan gula merah. Cocok untuk berbuka puasa,” terang Siti Amsaroh, saat ditemui Cendana News dalam proses pembuatan kue putu mayang pada awal puasa Ramadan, baru-baru ini.

Warna menarik dengan bentuk yang unik tersebut diakui Siti Amsaroh kerap disebut juga putu mayam. Nama yang sama persis seperti saat dirinya bekerja di Singapura. Proses pembuatan kue putu mayang disebutnya cukup sederhana dengan bahan baku utama tepung beras, santan kelapa dan gula merah.

Proses pemberian warna dengan tiga warna dominan merah muda, putih dan hijau dibentuk sesuai dengan keinginan pembuat diantaranya seperti kue putu.

Meski demikian, Siti Amsaroh menyebut kue putu mayang lebih banyak dibuat seperti khas orang Betawi yang membuat seperti mie yang digulung. Setelah bahan disiapkan pembuatan bisa dilakukan dengan jumlah bahan sesuai takaran diantaranya tepung beras, garam, air pewarna makanan alami yang bisa diperoleh dari daun pandan, daun suji atau pewarna makanan alami lain.

Daun pandan dengan warna hijau diakui Siti Amsaroh sekaligus menjadi pewangi untuk menggugah selera.

Proses pembuatan menu berbuka puasa diantaranya otak otak, gorengan, putu mayang dan berbagai menu berbuka lain [Foto: Henk Widi]
Setelah bahan baku disiapkan proses pencampuran tepung beras, air, garam dilakukan dalam sebuah wadah khusus. Setelah adonan tercampur sempurna proses pengukusan dilakukan hingga matang.

Sebagai pemisah untuk warna adonan yang sudah matang dipisahkan dalam tiga mangkuk berbeda diberi warna hijau pandan, merah muda dengan buah naga serta putih seperti warna asli tepung.

“Warna merah perpaduan putih dengan merah buah naga menghasilkan merah muda yang menarik selanjutnya dicetak,” cetus Siti Amsaroh.

Proses pencetakan kue putu mayang bersamaan dengan penyiapan panci pengukus. Cetakan kue putu mayang atau petulo dipergunakan untuk menekan adonan sesuai warna yang sudah dipisah dan diberi alas daun pisang kepok.

Proses selanjutnya cetakan adonan yang berbentuk mie melingkar dan digulung dikukus selama kurang lebih 15 menit.

Sembari melakukan proses pengukusan, proses pembuatan ”juruh” atau saus bisa dilakukan. Saus gula dibuat dengan cara mengiris gula merah kelapa atau gula aren dan dicampurkan dengan santan kelapa yang sudah disiapkan dari sebanyak satu butir kelapa.

Gula dan santan kelapa selanjutnya dipanaskan dengan menggunakan api sedang, proses selanjutnya ditambahkan daun pandan yang diremas untuk menciptakan aroma wangi.

“Santan diaduk dengan gula hingga merata jangan sampai pecah santannya agar tercipta rasa saus gula yang sempurna,” beber Siti Amsaroh.

Setelah putu mayang didinginkan Siti Amsaroh, selanjutnya dibantu oleh Solekah mengemas dalam plastik mika dengan jumlah kue sebanyak tiga warna. Selain tiga jenis kue yang sudah disiapkan dalam bungkus mika, saus gula merah yang sudah dingin dibungkus dalam plastik es balon.

Pengemasan dilakukan untuk dijual kepada warga yang berburu menu berbuka puasa menggunakan kue putu mayang dengan harga Rp3.000 per bungkus.

Sugeng Hariyono, salah satu penyuka menu putu mayang menyebut, penganan tradisional dari tepung beras dan berkuah gula santan cocok untuk menu berbuka puasa. Selain bentuknya menarik, tekstur lembut saat dikombinasikan dengan kuah gula santan diakuinya seperti menyantap bubur sumsum.

Setelah seharian berpuasa menu tersebut cocok disantap sebelum melakukan makan dengan makanan lain yang lebih berat.

Warga asal Ponorogo yang kini menetap di Lampung tersebut mengaku, jarang bisa menemukan penganan putu mayang pada hari biasa. Menu putu mayang disebutnya bisa menjadi pilihan untuk berbuka puasa selain dengan mengkonsumsi makanan lain saat berbuka puasa. Saat berbuka puasa bisa memulai dengan makanan kecil bercita rasa manis dan bertekstur lembut.

“Saat menyantapnya rasa manis bisa menjadi pelepas dahaga dan tekstur lembut kue putu mayang membuat lambung mudah mencerna,” ujar Sugeng.

Satu porsi kue putu mayang disebutnya sudah cukup memberikan energi untuk menjalankan ibadah salat Maghrib. Setelah itu kegiatan menjalankan ibadah salat tarawih di masjid.

Selain menggunakan bahan alami makanan tradisional tersebut diakuinya mudah ditemukan di sejumlah pedagang menu berbuka puasa yang marak sepanjang bulan Ramadan.

Baca Juga
Lihat juga...