‘Rahwana Angkara Murka’ Pukau Pengunjung TMII

Editor: Koko Triarko

198

JAKARTA – Pagelaran sendra tari Ramayana episode “Rahwana Angkara Durka” digelar di Candi Bentar Taman Mini Indonesia Indah(TMII), Jakarta Timur, Minggu (6/5/2018) malam.

Dengan sentuhan kaloborasi yang apik dengan penataan akustik yang unik, pagelaran ini mengisahkan seorang raja bernama Prabu Janaka dari kerajaan Mathili. Sang raja mengadakan sayembara, barang siapa yang bisa mengangkat busur pusaka dari Prabu Janaka, dialah yang berhak atas Dewi Shinta, putrinya.

Banyak para raja dari seluruh penjuru dunia melamar  dan mengikuti sayembara. Namun, yang berhasil memenangkan adalah seorang satria dari Ayodya bernama Raden Ramawijaya. Setelah memohon restu, Rama Wijaya memboyong Dewi Shinta ke Ayodya.

Sutradara dan Koreografer Sendratari Ramayana “Rahwana Angkara Murka” Elly D.Luthan (baju coklat/kiri) menerima penghargaan dari Manager Informasi, Budaya dan Wisata TMII, Dwi Windyarto di Candi Bentar TMII, Jakarta, Minggu (6/5/2018) malam. -Foto: Dok. TMII/ Sri Sugiarti

Di Alengka, seorang raja yang mempunyai sifat serakah, arogan dan angkara murka bernama Rahwana sedang mencari titisan Dewi Widowati. Lalu, datang Sarpokenoko yang tak lain adalah adiknya memberi kabar sang Widowati berada di hutan dandaka yang menitis ke dalam raga Dewi Shinta.

Mendengar kabar tersebut Rahwana, sangat gembira, lalu  segera pergi menuju hutan dandaka bersama Kalamarica.

Raden Ramawijaya, Dewi Shinta dan Lesmana, adiknya Ramawijaya, dalam perjalanan dan telah memasuki hutan dandaka. Dewi Shinta sangat senang melihat keindahan hutan dandaka.

Di hutan dandaka, Rahwana terus memantau mereka, dan menggunakan tipu muslihatnya mengecoh Rama menjauh dari Dewi Shinta. Hingga Rahwana berhasil menculik Dewi Shinta.

Rahwana mengutus Kalamarica untuk berubah menjadi kijang kencana, agar Ramawijaya dan Lesmana menjauhi Dewi Shinta.

Melihat kecantikan kijang kencana, Dewi Shinta memohon Ramawijaya menangkap kijang itu untuk dirinya. Lalu, Ramawijaya menitipkan Dewi Shinta kepada Lesmana.

Dewi Shinta khawatir akan Ramawijaya, dan meminta Lesmana untuk menyusulnya. Sebelum pergi, Lesmana memasang lingkaran mantra sakti untuk melindungi Dewi Shinta dari siapa pun. Dia pun berpesan pada Dewi Shinta untuk tidak keluar dari lingkaran tersebut.

Melihat Dewi Shinta sendiri, Rahwana mencoba mendekatinya, namun gagal karena lingkaran mantra dari Lesmana.

Rahwana kembali mengatur siasat menjadi orang tua untuk menarik Dewi Shinta keluar lingkaran. Melihat seorang kakek tua seorang diri, akhirnya Dewi Shinta merasa iba dan membantu kakek itu dengan tanpa disadari dia keluar dari lingkaran mantra sakti.

Melihat kejadian tersebut, Rahwana langsung menarik Dewi Shinta dan membawa terbang untuk di boyong ke negara Alengka.

Dalam perjalanan menuju Alengka, Rahwana dihalangi oleh Jatayu, yakni burung raksasa yang baik hati. Burung itu dapat berbicara layaknya manusia.

Jatayu mendengar suara meminta tolong dari angkasa. Dia mencoba mencari suara tersebut, ternyata adalah seorang putri yang diculik Rahwana.

Jatayu dan pasukannya berusaha untuk merebut sang putri dari cengkraman Rahwana, peperangan pun terjadi. Namun berkat kesaktiannya, Rahwana berhasil mengalahkan Jatayu hingga tak berdaya. Lalu, Rahwana melanjutkan perjalanan menuju Alengka.

Pagelaran garapan sutradara dan koreografer Elly D. Luthan, mampu membius penonton yang hadir di Candi Bentar TMII, Minggu (6/5/2018) malam. Tak bisa dipungkiri, pentas sendratari Ramayana membuat TMII punya daya tarik bagi pengunjung.

Elly mengatakan, suksesnya sendratari Ramayana ini adalah semangat para penari yang bergabung dari beberapa diklat seni anjungan yang berperan menyukseskan gelaran ini.

Di antaranya Diklat Anjungan Nusa Tenggara Timur TMII, Bina Seni Atmaja Pelangi Nusantara TMII, Anjungan DKI Jakarta TMII, Diklat Matra Etnika Anjungan Sumatera Utara TMII, dan Sanggar Mawar Budaya Jakarta.

“Penari Ramayana ini dari berbagai diklat, kita kumpulkan untuk dilatih mendukung pentas sendratari ini,” ujar Elly kepada Cendana News.

Memang, kata Elly, ada kesulitan saat berlatih, mengingat mereka bukanlah penari Jawa, tapi penari ragam daerah, yang tentu harus disatukan jiwanya agar menyatu menciptakan sebuah gerakan tari Jawa yang harmonis.

“Sendratari Ramayana episode “Rahwana Murka” ini tidak sulit. Hanya saja kendalanya, karena materinya dari berbagai anjungan, yang mereka tidak sepenuhnya penari Jawa,” jelasnya.

Sehingga, lanjut dia, dengan penyatuan jiwa bagaimana dirinya harus memasukkan filosofi tari ini dengan baik. Lalu, pihaknya juga berusaha mendukung kemampuan para penari dari berbagai anjungan tersebut untuk hadir sebagai penari Jawa.

“Bagaimana sendratari Ramayana ini jadi milik mereka. Bukan kami yang memberikan, tapi mereka butuh, mereka rindu untuk pentas,” tutupnya.

Lihat juga...

Komentar Anda

Alamat email anda tidak akan disiarkan.