Regulasi Sebabkan Produksi Ikan Nelayan Pemana Menurun

Editor: Mahadeva WS

261

MAUMERE – Regulasi dari pemerintah pusat menyebabkan jumlah tangkapan nelayan di pulau Pemana kabupaten Sikka mengalami penurunan. Pulau Pemana adalah daerah dengan jumlah nelayan terbanyak di Kabupaten Sikka.

Data terakhir menyebut, jumlah nelayan di Pulai Pemana mencapai 2.500 orang. “Waktu yang seharusnya dipergunakan nelayan untuk melaut terpaksa dipergunakan mengurus surat rekomendasi pembelian bahan bakar di kantor Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) Sikka serta ijin berlayar di Kantor Syahbandar dan Otoritas Pelabuhan (KSOP) Laurens Say Maumere,” sebut Kepala desa Pemana kecamatan Alok La Ampo, Rabu (23/5/2018).

Kepala desa Pemana kecamatan Alok kabupaten Sikka,La Ampo. Foto : Ebed de Rosary

Karena harus ke Maumere mengurus berbagai surat tersebut, nelayan harus mensiasati waktu untuk melaut. Terkadang sehari melaut dan sehari lainnya dipakai untuk mengurus berbagai surat tersebut.

Data di desa setempat, di 2014 produksi ikan nelayan di desa Pemana mencapai 8.000 ton lebih. Sementara di 2017 turun menjadi 7.000 ton. Belum lagi saat bulan purnama, banyak nelayan Pole and Line tidak mendapatkan umpan sehingga libur melaut.

Di desa Pemana ada 74 kapal Pole anda Line dengan kapasitas 25 sampai 30 Gross Ton (GT). Kemudian 87 kapal berukuran di bawah tiga GT. Rata-rata nelayan Pemanan adalah pemancing ikan tuna dan cakalang. Hasilnya untuk dijual ke berbagai pabrik ikan di kota Maumere serta ke penampung lainnya.

“Saya selalu mendorong warga saya agar giat melaut sebab hanya potensi ini yang ada di pulau Pemana dimana hampir semua penduduknya berprofes sebagai nelayan. Lahan pertanian sangat terbatas sekali dan hanya dimanfaatkan kalau cuaca tidak memungkinkan nelayan mencari ikan,” tambahnya.

Sementara itu, pertumbuhan penduduk di desa Pemana, sangat pesat. Setiap tahun ada penambahan sekira 40 Kepala Keluarga (KK). Kondisi tersebut dikhawatirkan akan semakin mengurangi keberadaan lahan pertanian karena kebutuhan perumahan. Tercatat saat ini masih ada 25 persen lahan di daerah tersebut yang dipergunakan untuk pertanian.

Sekretaris Dinas Kalautan dan Perikanan (DKP) kabupaten Sikka Paulus H. Bangkur menyebut, Kabupaten Sikka menempatkan perikanan sebagai sektor unggulan dari 3 sektor pembangunan jangka pendek yang dimiliki. Hal tersebut tidak terlepas dari kondisi wilayah lautan di Sikka yang lebih luas dibandingkan dengan daratan.

“Berdasarkan status nelayan di seluruh NTT, kabupaten Sikka menempati urutan pertama dilihat dari tingkat sumber daya nelayan dan sarana prasarana yang dimiliki oleh nelayan Sikka,” paparnya.

Sikka menjadi pemasok ikan bagi daerah lain di Pulau Flores. Sektor perikanan memberikan sumbangan PAD untuk kabupaten yang cukup besar. “Dari 21 kecamatan di Kabupaten Sikka, 16 kecamatan berada di pesisir pantai. Dan dari 147 desa serta 13 kelurahan 66 desa ada di pesisir,” pungkasnya.

Baca Juga
Lihat juga...