Rote Ndao Peringkat Pertama Penyakit Kaki Gajah di NTT

Editor: Koko Triarko

324

MAUMERE –   Dari 22 kabupaten dan kota di Provinsi NTT, kabupaten Rote Ndao pada 2002 hingga 2016 menempati peringkat pertama dengan jumlah penderita penyakit filariasis atau kaki gajah terbanyak, yakni 385 orang, disusul kabupaten Sikka dengan jumlah penderita 356 orang.

“Kabupaten Rote Ndao ini sejak 2002 sampai 2016 jumlahnya tetap 385 penderita. Sementara, kabupaten Sikka jumlahnya menurun, sejak 2012 sampai 2015 sebanyak 681 orang, sementara di 2016 hanya tersisa 356 orang,” sebut Joice Tibuludji, SKM, M.Kes., Jumat (18/5/2018).

Kepala Seksi P2PM Dinas Kesehatan NTT, ini juga menyampaikan, penurunan jumlah penderita juga terjadi di kabupaten Sumba Barat Daya, d imana tahun 2002 sampai 2015 sebanyak 758 orang, sementara 2016 hanya terdapat  121 orang.

“Sedangkan kabupaten Sumba Tengah yang sejak 2002 hingga 2015 sebanyak 306 penderita, menurun menjadi 160 penderita di 2016. Juga kabupaten Ende yang hanya tersisa 233 orang di 2016, di mana sebelumnya sejak 2002 sampai 2015 sebanyak 264 penderita,” paparnya.

Kabupaten lainnya yang juga mengalami penurunan jumlah penderita, jelas Joice, terdapat di kabupaten Ngada. Sebelumnya 136 orang hanya tersisa 36 orang pada 2016.

Kabupaten Sumba Barat dari 100 orang turun menjadi 38 orang dan Manggarai dari 41 penderita menurun menjadi 25 penderita tahun 2016.

“Sementara yang mengalami peningkatan jumlah penderita terdapat di kabupaten Manggarai Timur. Sejak 2002 sampai 2015 berjumlah 2 orang, meningkat tajam menjadi 256 orang di 2016. Kabupaten Nagekeo juga sama dari 7 penderita, pada 2016 menjadi 98 penderita,” ungkapnya.

Sedangkan jumlah penderita penyakit kaki gajah yang tidak mengalami perubahan sejak 2002 sampai 2016, selain di kabupaten Rote Ndao dengan 385 penderita, juga terdapat di kabupaten Alor dengan 167 penderita, Belu 54, Lembata 24, Timor Tengah Utara 22, Manggarai Barat 3 dan kota Kupang 2 penderita.

“Kabupaten Flores Timur bertambah satu penderita dari sebelumnya 133 orang menjadi 134 orang di 2016, dan kabupaten Kupang dari 25 penderita menjadi 31 penderita di 2016. Penderita Filariasis tidak terdapat di kabupaten Sabu Raijua,” terangnya.

Pelaksana Tugas Bupati Sikka, Drs. Paulus Nong Susar, menyampaikan, filariasis atau sering disebut penyakit kaki gajah merupakan penyakit menular menahun yang disebabkan oleh cacing filaria dan ditularkan oleh berbagai jenis nyamuk.

Menurut Nong Susar, cacing tersebut berada di kelenjar getah bening, terutama di daerah pangkal paha dan ketiak serta kelenjar getah bening besar lainnya.

Untuk itu penyakit ini harus diatasi agar tidak menimbulkan dampak lainnya yang harus dialami penderita.

“Penyakit ini kalau tidak diobati dapat menimbulkan cacat menetap, stigma sosial, hambatan psikologis dan menurunkan kualitas sumber daya manusia serta menimbulkan kerugian ekonomi. Indonesia menetapkan eliminasi filariasis sebagai salah satu prioritas nasional,”ungkapnya.

Nong Susar mengatakan, pengendalian penyakit menular ini dilakukan dengan menerapkan dua strategi utama, yaitu memutus rantai penularan filariasis dengan program pemberian obat pencegahan massal (POPM) filariasis di kabupaten atau kota endemis filariasis.

“Selain itu, upaya pencegahan serta membatasi kecacatan dilakukukan lewat program penatalaksanaan penderita filariasis. Kami berharap, agar penderita penyakit ini bisa berkurang dengan adanya gebrakan massal mengatasinya,” pungkasnya.

Baca Juga
Lihat juga...