Rubaca Akar Pelangi dan Peternak Lampung Timur Kembangkan Biogas

Redaktur: ME. Bijo Dirajo

337

LAMPUNG — Rumah Baca (Rubaca) Akar Pelangi di Desa Labuhan Ratu 9 yang berjarak sekitar 90 kilometer dari kota Bandarlampung memanfaatkan potensi luasnya lahan pertanian, perkebunan di wilayah kecamatan Labuhan Ratu kabupaten Lampung Timur untuk meningkatkan perekonomuan masyarakat.

Rudi Hartono (28), pengelola Rumah Baca Akar pelangi yang berada di RT 07 RW 02 tersebut mengungkapkan, masyarakat yang tinggal di dekat kawasan taman nasional Way Kambas mayoritas merupakan petani. Saat ini jumlah penduduk 1800 jiwa dengan 80 persen di antaranya adalah petani singkong dan peternak. Ternak yang dibudidayakan

Sebagian besar merupakan ternak ruminasia jenis sapi, kerbau, kambing dan sejumlah ternak unggas jenis ayam, bebek, entok,” terang Rudi Hartono saat dikonfirmasi Cendana News, Senin (28/5/2018).

Keberadaan sektor peternakan yang menghasilkan limbah kotoran sapi mendorong Rubaca Akar Pelangi untuk memberikan nilai tambah kepada masyarakat.

“Rubaca Akar Pelangi memfasilitasi masyarakat dalam pemanfaatan sektor pertanian dan peternakan agar masyarakat memiliki nilai tambah secara ekonomi,” terang Rudi Hartono.

Melihat potensi melimpahnya kotoran sapi, pihaknya mulai mengadakan pelatihan pembuatan biogas dan difasilitasi oleh Yayasan Pendidikan Konservasi (YAPEKA) beberapa waktu silam. Kerja sama dilakukan dalam pemanfaatan kotoran ternak sapi terintegrasi dengan pertanian dan sektor rumah tangga.

biogas
Rudi Hartono, pengelola Rumah Baca Akar Pelangi memberdayakan masyarakat peternak melalui pelatihan pembuatan biogas [Foto: Ist/Henk Widi]
Ia menyebutkan, awalnya masyarakat menolak dan tidak mau membuat biogas dengan kendala biaya yang begitu mahal terutama dalam penyiapan instalasi. Setelah dilakukan diskusi antara YAPEKA, petani peternak, Rubaca Akar Pelangi titik masyarakat mulai bersedia.

Dijelaskannya pemanfaatan biogas diakuinya memiliki manfaat untuk mendukung upaya sanitasi total berbasis masyarakat (STBM) dari pencemaran limbah kotoran.

“Kita juga menjelaskan upaya pemanfaatan biogas sebagai penekan konsumsi gas yang harus dibeli, artinya bisa menghemat pengeluaran,” cetus Rudi Hartono.

Salah satu warga setempat, Sabarudin (40) menyebutkan, memanfaatkan kotoran ternak sapi untuk biogas menjadi hal baru baginya. Beberapa bulan pasca pelatihan, ia sudah bisa menikmati banyak manfaat dari pemanfaatan limbah kotoran sapi menjadi biogas.

Pembuatan instalasi biogas dibantu masyarakat dengan gotong royong dengan membutuhkan dana sekitar Rp7juta dengan waktu pengerjaan sekitar 10 hari.

“Biaya sebagian ditanggung dengan sistem gotong royong sehingga instalasi bisa dibuat selanjutnya di sebanyak enam rumah warga,” papar Sabarudin.

Sabarudin memastikan selain kotoran sapi bisa dibersihkan dan lingkungan bisa lebih nyaman ia mengaku bisa menghemat pengeluaran. Manfaat dari biogas ia dapat menghemat 200 ribu perbulan untuk membeli gas elpiji.

Selain mendapatkan manfaat dari penggunaan biogas, kotoran yang sudah terfermentasi dipergunakan sebagai pupuk. Pupuk kompos dari sisa fermentasi tersebut dipergunakan sebagai pupuk pertanian singkong dan padi sawah. Selanjutnya hasil pertanian bisa dipergunakan sebagai pakan ternak.

Baca Juga
Lihat juga...