Sutradara Film ‘Prison and Paradise’ Ingatkan Bahaya Terorisme

Editor: Koko Triarko

260
Daniel Rudi Haryanto, sutradara film dokumenter ‘Prison and Paradise’ –Foto: Akhmaf Sekhu
JAKARTA – Daniel Rudi Haryanto, sutradara film dokumenter ‘Prison and Paradise’ tampak begitu tekun, sabar dan sangat bersemangat. Ia sampai harus menghabiskan waktu sekitar tujuh tahun lebih untuk dapat menyelesaikan filmnya.
Sebuah film yang memperlihatkan kedua keluarga pelaku dan korban yang menjalin hubungan baik; antara Titin, istri Mubarok beserta dua putri mereka, dengan keluarga Eka Laksmi; yang suaminya ikut menjadi korban bom Bali.
Jerih payah Rudi pun tak sia-sia, karena filmnya meraih penghargaan berbagai festival film internasional. Di antaranya, penghargaan Director of Guild (penyutradaraan terbaik) pada Yamagata International Documentary Festival (2011).
“Saya bikin film ‘Prison & Paradise’ ini mulai 2003 sampai selesai 2010, kemudian dirilis pada 2010,“ kata Daniel Rudi Haryanto, saat acara diskusi film dokumenter ‘Prison and Paradise’ di Tebet, Jakarta Selatan, Selasa (29/5/2018) malam.
Rudi membeberkan, film ini pertama kali ditayangkan di festival film internasional di Uni Emirat Arab, yakni Dubai International Film Festival. “Hal ini saya lakukan, karena jihad mata airnya dari Timur Tengah. Terjadinya Bom Bali I itu adalah tonggak baru setelah WTC, di mana Indonesia kemudian terseret dalam ruang global konflik terorisme,“ bebernya.
Menurut Rudi, film ini menceritakan tentang dampak Bom Bali I terhadap keluarga korban dan keluarga pelakunya.
“Saya ambil sampling, keluarga korban adalah keluarga Haji Maksum, keluarga yang menggiatkan jemaah Muhammadiyah di Denpasar. Keluarga Haji Maksum ini salah satu keluarga korban, yaitu menantunya, Imam Sarjono, yang menjadi korban Bom Bali I yang namanya dimuat di Monumen Bom Bali I nomer 10,“ paparnya.
Di samping pelaku Bom Bali I, Rudi juga mengangkat keluarga Ali Imron dan keluarga Mubarok. “Karena Mubarok ini punya dua anak, yaitu Qonita dan Asma. Terjadinya Bom Bali, anaknya Iman Sarjono itu umurnya sama dengan Mubarok,“ ujarnya.
Rudi menyampaikan, pada 2010, ia menyampaikan ke publik, bahwa persoalan terorisme ini mestinya dikaji ke arah masa depan. Ketika orang menggunakan legimitasi agamanya untuk melakukan serangan bom bunuh diri, kemudian korbannya beragama yang sama.
“Yang saya fokuskan pada masa depan anak-anak ini, yang sudah tumbuh menjadi remaja 16 sampai 17 tahun. Hari ini, tahun 2018 pascaBom Surabaya, mata kita terbuka kembali, bahwa hari ini bangsa Indonesia hidup di tengah ladang pembantaian,“ ungkapnya.
Rudi tidak tahu siapa yang menjadi musuh, karena orang-orang yang terlibat terorisme atau mempercayai terorisme atas nama agama ini, mungkin ada di sekitar kita.
“Saya melihat pascabom Surabaya, melalui film ini kita bisa membaca, bahwa keluarga Indonesia hari ini dihadapkan pada satu persoalan yang diakibatkan dari rembesan ideologi transinternasional yang disebut terorirme,“ tegasnya.
Dengan film ini, Rudi ingin menyampaikan, bahwa potensi terorisme ada di organisasi agama. “Saya ingin membuka mata publik, bahwa apa yang dilakukan oleh para teroris ini tidak mengakar dan tidak menjadi kesepakatan bersama, bahwa pada akhirnya apa pun aksi terorisme itu mengorbankan keluarga-keluarga Indonesia di dalam penderitaan, baik yang melakukan maupun yang menjadi korban,“ tandasnya.
Baca Juga
Lihat juga...