Sutradarai The Gift, Hanung Bramantyo Merasa Jadi Diri Sendiri

Editor: Satmoko

362
Hanung Bramantyo (Foto Akhmad Sekhu)

JAKARTA – Hanung Bramantyo termasuk sutradara film yang patut diperhitungkan. Meski beberapa film yang disutradarainya menuai kontroversi, tapi ia tetap kukuh dalam pendirian.

Ia memang  sudah punya ciri khas dengan gaya penyutradaraan yang dikenal berani dalam mengungkapkan kreativitas. Kini, lewat film produksi Seven Sunday Films berjudul ‘The Gift’ ia merasa kembali jadi diri sendiri.

Sebelum ‘nyemplung’ dalam dunia perfilman, Hanung pernah mengecap pendidikan ekonomi di Universitas Islam Indonesia (tidak selesai) dan kemudian pindah ke Jakarta untuk menimba ilmu film di Institut Kesenian Jakarta (IKJ).

Hanung memang sudah dikenal sebagai pembuat film pendek sebelum menoreh karirnya di film panjang.

“Sejak dari awal saya membaca skenario film ini sudah jatuh cinta dengan ceritanya,“ kata Hanung Bramantyo seusai media screening film ‘The Gift’ di XXI Epicentrum, Kuningan, Jakarta Selatan, Sabtu (19/5/2018).

Lelaki kelahiran Yogyakarta, 1 Oktober 1975 itu menyampaikan ke produser, bahwa ia akan membuat film ini dengan caranya, dengan gaya punyutradaraannya.

“Semua dari saya, Dapur Film, dan percayalah pada saya karena saya dapat menggarapnya dengan sebaik-baiknya,“ ungkap pemilik nama lengkap Setiawan Hanung Bramantyo.

Hanung sangat bersemangat menggarap film ‘The Gift’ karena film ini tidak diangkat dari novel atau urban legend atau sesuatu yang sudah dikenal lebih dulu di masyarakat.

“Tapi benar-benar cerita film ‘The Gift’ ini original love story yang membuat saya semangat membuat film ini,“ beber Sutradara Terbaik di Festival Film Indonesia (FFI) 2005 berkat film ‘Brownies’ dan FFI 2007 berkat film ‘Get Married’.

Kesediaan Hanung menggarap film ini bukan berarti ia tidak mau membuat film yang diangkat atau diadaptasi dari novel.

“Saya ingin menantang diri saya, menantang diri penonton, apakah bisa film dari cerita original, dan akhirnya bisa tumbuh juga penulis skenario baru. Jadi tidak ada menggarap film harus dari novel, kemudian belum lagi penulis novelnya minta ini-itu, agar ceritanya sesuai dengan novelnya,” paparnya panjang lebar.

Hanung ingin memberikan yang terbaik sepanjang karirnya dalam dunia penyutradaraan. Film ‘The Gift’ ini menjadi salah satu film yang menantang dirinya.

“Menyutradarai film ‘The Gift’ saya merasa kembali pada diri saya sendiri,“ tegasnya penuh nuansa filosofi.

 

 

Lihat juga...