Tabur Puja Tunas Mandiri Berencana Dirikan Koperasi

Editor: Mahadeva WS

232
Ketua Kelompok Tunas Mandiri Usman Effendi/Foto: M. Noli Hendra

SOLOK – Setelah resmi berdiri pada Februari 2018, Kelompok Tabur Puja Tunas Mandiri yang berada di Jorong Air Tawar Utara, Nagari Kampung Batu Dalam, Kecamatan Danau Kembar, Kabupaten Solok, Sumatera Barat, berencana mendirikan koperasi.

Ketua Kelompok Tunas Mandiri Usman Effendi mengatakan, di daerahnya cukup banyak petani yang menginginkan pinjaman modal usaha dengan nilai yang cukup besar. Karena pinjaman awal Tabur Puja, dinilai kurang mencukupi kebutuhan petani untuk berkebun komoditas hortikultura.

Saat ini Tabur Puja, mencoba untuk merangkul anggota baru untuk bergabung dan menjadi bagian dari Tunas Mandiri. Hal itu dilakukan, untuk mendukung rencana pendirian koperasi. “Saya memang bercita-cita untuk mendirikan koperasi. Maka dari itu saya berharap sangat Tabur Puja ada di daerah saya ini. Kedepan rencana saya, kalau Tunas Mandiri telah menjadi koperasi, maka untuk pembinaan dapat dilakukan oleh Tabur Puja Solok,” katanya, Rabu (23/5/2018).

Keinginan tersebut mempertimbangkan, perputaran uang di daerah Sentra Bawang Merah itu sangat bagus. Per minggu, cukup banyak pengumpul yang datang untuk membeli hasil perkebunan komoditas hortikultura. Namun, hasil perkebunan tersebut belum semuanya bisa terbeli secara total.

Usman mengatakan, jika telah ada koperasi yang pembinaannya dilakukan oleh Tabur Puja, akan diterapkan sistem pinjaman kepada anggota dengan jangka waktu satu pekan atau tujuh hari saja.

Caranya, dengan pinjaman modal awal Rp5 juta, nantinya koperasi memberikan waktu selama tujuh hari untuk mengembalikan pinjaman tersebut dengan bunga pinjaman sebesar Rp200 ribu. Namun sebelum diberikannya pinjaman modal awal Rp5 juta, akan ada bentuk kerjasama koperasi dengan sejumlah pengumpul dan petani yang mengajukan pinjaman.

“Saya optimis, kalau cara itu diterapkan, kemungkinan besar tidak ada yang menunggak. Karena di kawasan Sentra Bawang Merah ini, perputaran uangnya per hari. Tapi di Tabur Puja saya tidak bisa menerapkan hal itu,” ungkapnya.

Di Tabur Puja telah ada aturan dan mekanisme pengajuan pinjaman modal usaha, dan jumlah pimjaman yang diberikan. Untuk pinjaman awal Rp2 juta, kemudian secara bertahap akan dinaikan menjadi Rp3 juta, Rp4 juta, dan barulah sampai ke angka Rp5 juta.

Namun untuk mencapai jumlah yang besar itu, butuh proses yang panjang, dan harus menjalani tahap demi tahap peminjaman. Berdasarkan pemetaan lokasi yang merupakan kawasannya Kelompok Tabur Puja Tunas Mandiri, ekonomi masyarakat yang ada didaerah setempat bukan hanya sebagai petani. Tetapi juga menjalani usaha berdagang atau pengumpul. Pengumpul di sini ialah menampung sejumlah penjualan hasil perkebunan, dan dijual ke berbagai daerah.

Untuk menjalani usaha pengumpul membutuhkan modal yang besar. Alasan masyarakat yang menjalani usaha pengumpul itu, karena tidak semua penduduk di daerah tersebut yang memiliki lahan perkebunan. Masyarakat yang tidak memiliki lahan, memilih menjadi pengumpul.

“Dikarenakan banyak pertanian komoditas hortikultura di sini yakni sayur-sayuran, buah-buahan, dan begitu juga untuk cabe dan bawang, maka menjalani usaha pengumpul cukup menjanjikan,” tambahnya.

Saat ini dari 30 orang anggota Tabur Puja, 10 orang diantaranya menjalani usaha pengumpul. Meski pinjamannya baru mencapai Rp2 juta, tapi setidaknya uang Rp2 juta dapat diputarkan sebagai modal untuk mengembangkan usaha tersebut. Hanya saja, apabila kondisi tersebut dikelolah oleh koperasi, maka ekonomi diyakini akan terkembang dengan baik, dengan waktu yang cukup singkat.

Sementara kalau dilihat dari sisi hadirnya Tabur Puja, meski dinilai bisa membantu perekonimian masyarakat yang bekerja sebagai petani. Akan tetapi membutuhkan waktu yang lama, sehingga benar-benar terasa pengembangan ekonomi penduduk.

Baca Juga
Lihat juga...