‘Teater Objek, Pameran Insan Teater’ Perlihatkan Dapur

Editor: Koko Triarko

406
Afrizal Malna –Foto: Akhmad Sekhu

JAKARTA – Afrizal Malna termasuk sastrawan yang jeli mengamati kesenian dari sudut semiotik. Afrizal juga menulis teks pertunjukkan teater yang dipentaskan di berbagai panggung di dalam negeri maupun luar negeri.

Mengenai pameran ‘Teater Objek, Pameran Rupa Insan Teater’, Afrizal menyamakannya dengan para pedagang dan insan teater yang keduanya jarang memperlihatkan dapurnya, dan pameran tersebut menjadi representasi insan teater dalam memperlihatkan dapurnya.

“Di bulan puasa ini, orang-orang datang ke warung-warung makan di pinggir jalan, beberapa pedagang mulai bercerita tentang kampung halaman mereka, karena sebentar lagi mereka akan pulang kampung,” kata Afrizal Malna, sebagai pembicara dalam Diskusi Teater Rupa, di Galeri Cipta II, Taman Ismail Marzuki (TIM), Jakarta Pusat, Rabu (23/5/2018).

Lelaki kelahiran Jakarta, 7 Juni 1957, itu membeberkan, bahwa hal tersebut sebenarnya cerita yang menarik, karena lebaran masih jauh, tapi mereka sudah membicarakan kampung halaman.

“Mereka bercerita bagaimana rumah mereka bisa menampung 50 orang tamu. Artinya, rumah mereka itu besar dan bila kerabat mereka datang bisa nongkrong dan ngobrol sampai pagi ditemani kopi dan kue,“ beber peraih Penghargaan Adibudaya dari Departemen Pendidikan untuk puisi (2006) dan penghargaan SEA Write Award dari Bangkok untuk buku puisi ‘Teman-temanku Dari Atap Bahasa’ (2010).

Menurut Afrizal, cerita tersebut memperlihatkan satu hal yang menarik, bagaimana orang-orang datang ke Jakarta untuk mencari uang bergelut sedemikian rupa selama 11 bulan lebih, tapi pentasnya tetap ada di kampung.

“Hal itu berlangsung lama, kita tidak tahu tradisi kekerabatan seperti apa yang membuat tradisi itu muncul,“ ungkapnya.

Afrizal mengawali pembicaraannya dengan contoh tersebut, karena pameran ‘Teater Objek, Pameran Rupa Insan Teater’ ini juga bergerak hampir seperti itu, yaitu memindahkan teater ke ruang seni rupa. Ada dua hal yang terjadi.

“Bahwa teater selama ini cenderung berorientasi ke pentas, tapi dapurnya tidak pernah ditunjukkan. Sama seperti para pedagang itu, dapurnya bekerja selama sebelas bulan lebih dan kita tidak tahu dapurnya seperti apa. Pameran ini memperlihatkan dapur itu,“ jelasnya.

Afrizal mengatakan, pameran ini berawal dari obrolan sederhana antara dirinya dengan Acep Martin, Di mana Teater Poros yang disutradarai Acep Martin mementaskan Octopus. Ada dua hal yang menarik. Pertama, mereka menggunakan riset dan kedua, mereka menggunakan barang-barang bekas.

“Bagaimana dua hal itu disampaikan tidak dalam pentas teaternya. Riset tidak sebagai background dan barang bekas juga tidak sebagai background. Tapi, riset dan barang bekas sebagai estetika informasi yang diangkat dalam pentas teaternya,“ simpulnya.

Afrizal menyebut, yang terjadi ketika obyek-obyek di atas panggung dipindahkan ke ruang pameran adalah kerja display di pameran yang umumnya normatif itu, mengubah lagi performance mereka.

“Tiba-tiba terjadi semacam pengalihan wacana, dari panggung teater ke galeri pertunjukkan, dan dari galeri pertunjukkan obyek-obyek ini dilumpuhkan oleh model-model display seni rupa, artinya estetika normatifnya tidak menjadi persoalan, yang seharusnya justru menjadi persoalan,“ tegasnya.

Toh, misalnya barang-barang bekas dari Teater Poros dibiarkan begitu saja di sini, kata Afrizal, artinya kita seolah-olah bisa masuk ke satu visualitas yang sebelumnya kita tonton sebagai dua dimensi, tiba-tiba menjadi tiga dimensi, karena kita masuk dan mengalaminya antara obyek dengan tubuh kita secara langsung, dan itu teman-teman lakukan terjebak untuk membuat pameran, sebagaimana para perupa membuat pameran.

“Di sini terjadi banyak keberagaman, teman-teman mendisplay obyek-obyeknya, ada literasi tapi juga ada informasi, ada promosi bagi grupnya, dan lain-lain. Pameran ini jadi nanggung, karya seni tidak, promisi juga tidak,“ tandasnya.

Baca Juga
Lihat juga...