Terinspirasi Ondel-ondel Betawi, Elisa Budiyanti buat Kostum Kreatif

Editor: Satmoko

338
Elisa Budiyanti (Foto Akhmad Sekhu)

JAKARTA – Melestarikan sebuah kesenian tradisional banyak caranya. Seperti di antaranya, dilakukan Elisa Budiyanti dari tim Jakarta Carnaval. Ia begitu kreatif melestarikan kesenian tradisional Ondel-ondel Betawi dengan wujud kostum yang dikenakan dalam acara Parade Menuju 100 Hari Asian Games.

“Kostum ini terinspirasi dari Ondel-ondel Betawi,” kata Elisa Budiyanti kepada Cendana News seusai mengikuti acara Parade Menuju 100 Hari Asian Games, di Gedung Kementerian Komunikasi dan Informatika Republik Indonesia (Kominfo RI), Jalan Medan Merdeka Barat, Gambir, Jakarta Pusat, Minggu (13/5/2018).

Elisa mengaku membuat sendiri kostum yang dikenakannya, sejak tahun 2012 dan sampai sekarang dipakai terus. Setiap ada event selalu ditambah bahannya.

“Bikinnya sekitar tiga bulan. Semua bahan didapat dari Pemda DKI dan kemudian dibuat sendiri sekreatif mungkin,“ ungkap mahasiswi Semester Enam Jurusan Akuntansi Universitas Gunadarma Jakarta.

Bahan-bahan kostum yang dikenakan Elisa dari alam, seperti di antaranya kulit jagung, kepompong, gandum, waring, karung goni, rotan, kayu, dan lain-lain.

”Semua bahannya dari alam karena memang tema kostumnya alam,“ bebernya.

Elisa mengaku senang ikut memeriahkan Parade Menuju 100 Hari Asian Games.

“Saya senang bisa ikut Parade Menuju 100 Hari Asian Games yang saya rasa tahun ini seru karena acaranya di negara kita tepatnya di Jakarta dan Palembang. Kalau bukan kita yang memeriahkan, lalu siapa lagi,“ ujarnya.

Elisa bersama tim dari Jakarta Carnaval, biasanya tampil di Istana Negara dalam acara memperingati Hari Kemerdekaan RI setiap tahun, dan pernah juga tampil di Danau Toba Festival.

“Satu tim sekitar sepuluh orang, tapi hari ini hanya ada delapan orang karena yang dua orang sedang ada halangan,“ paparnya.

Tim Jakarta Carnaval tidak mempunyai tempat sanggar untuk berkumpul, sehingga kalau ada event barulah mereka berkumpul di salah seorang anggota secara bergiliran.

“Alhamdulillah, kita masih tetap menjaga keutuhan anggota dan kekompakan tim,“ tuturnya penuh rasa syukur.

Elisa ingin tetap berkesenian sebagaimana yang sekarang dilakukan untuk bisa cerita kalau nanti berkeluarga dan kemudian punya anak.

“Agar ada cerita pada anak kalau saya ibunya punya prestasi dalam kesenian,“ harapnya.

Harapan Elisa, pemerintah memperhatikan kegiatan kesenian.

Elisa mengaku ada suka duka dalam berkesenian. Seperti capek dan kalau ada karnaval bahan yang dipakai bisa tiba-tiba lepas sebab ada saja yang iseng narik-narik.

“Tapi daripada dukanya, memang lebih banyak sukanya,“ pungkasnya sumringah.

Lihat juga...

Komentar Anda

Alamat email anda tidak akan disiarkan.