The Gift, Kebersamaan dalam Melepas Kenangan Kelam

Editor: Satmoko

236
Adegan film The Gift (Foto Istimewa/Dok PH Seven Sunday Films)

JAKARTA – Setiap orang tentu punya kenangan kelam, tapi tidak semua orang mampu memahami kenangan kelam itu sebagai terapi untuk ke depan menjalani kehidupan yang lebih baik.

Begitu juga dengan Tiana yang diperankan Ayushita dan Harun (Reza Rahadian) yang sama-sama punya kenangan kelam. Kebersamaanlah yang membuat keduanya kemudian saling membuka diri terhadap kenangan kelam yang dialami masing-masing.

Kebersamaan itu pula yang membuat mereka berdua saling memadu kasih untuk berusaha saling membantu agar dapat saling melepas kenangan kelam, meski tak mudah, tapi itulah hidup yang patut diperjuangkan. Demikian yang mengemuka dari film ‘The Gift’.

Film ini diawali dengan kisah Tiana, seorang novelis yang datang ke Yogyakarta untuk mencari inspirasi demi dapat kembali menulis novel terbarunya. Untuk itu, dia memilih tempat tinggal yang sepi dari ingar-bingar keramaian kota besar, yaitu pada sebuah rumah tua yang memang sepi. Hanya dihuni seorang tuan rumah.

Tapi saat malam tiba, tuan rumah tiba-tiba memperdengarkan musik keras yang membuat Tiara tidak bisa konsentrasi menulis novel, bahkan membuatnya tidak bisa tidur nyenyak.

Tiana tentu saja protes dengan mengetuk pintu keras-keras, tapi dicegah oleh seorang pembantu rumah, karena itu memang kebiasaan dari anak jenderal yang punya rumah kalau sedang suntuk. Sang pembantu yang akan menyampaikan protes Tiana itu pada anak jenderal.

Paginya, Tiana mendapati secarik keras diletakkan pada pintu kamarnya yang berisi permohnan minta maaf. Tiana tampaknya tipe orang pemaaf dan segera membalasnya bahwa permohonan maaf itu diterima.

Tapi tak lama kemudian, di siang yang garang, tuan rumah tiba-tiba memperdengarkan musik keras yang membuat Tiara uring-uringan dan protes dengan mengetuk pintu keras-keras. Tapi urung dilakukan sebab kembali dicegah oleh seorang pembantu rumah.

Besoknya, Tiana kembali mendapati secarik keras diletakkan pada pintu kamarnya yang kali ini berisi undangan untuk sarapan bersama. Tiana tentu menyambut dengan gembira dan sekalian ingin tahu siapa sebenarnya tuan rumah si anak jenderal yang begitu sangat disegani oleh pembantu setianya.

Saat sarapan bersama, Tiana jadi tahu sosok tuan rumah si anak jenderal bernama Harun adalah seorang pria tunanetra yang sinis dan minim simpati. Tapi naluri kenovelisan Tiana malah jadi penasaran. Bahkan ingin tahu lebih banyak sosok Harun yang dianggap penuh misteri itu.

Dari sarapan bersama berlanjut dengan kebersamaan yang semakin saling kenal satu sama lain. Bahwa keduanya punya banyak kesamaan, yakni sama-sama punya kenangan kelam.

Dari kebersamaan itulah, keduanya saling memberikan hadiah, seperti wujud rasa ucapan terima kasih mau mendengarkan kenangan kelam sehingga dapat meringankan beban masalah yang selama ini ditanggung sendiri. Tapi kemudian bisa saling berbagi.

Tiana menghadiahkan sebuah tanaman sebagai simbol untuk menyegarkan pikiran Harun, sedangkan Harun menghadiahkan sebuah kunci gembok agar Tiana bisa membuka pintu yang digembok. Simbol hubungan keduanya kini tidak ada sekat lagi, bahkan Tiana bisa langsung menuju kamar Harun.

Suatu hari, Tiana pergi ke suatu tempat untuk menemui Arie (Dion Wiyoko), teman masa kecilnya, tapi pamit pada Harun kalau dirinya akan menemui Arie yang dikatakannya sebagai orang penerbit yang akan menerbitkan novelnya.

Pada pertemuan Tiana dengan Arie berlangsung biasa sebagai seorang teman yang saling melepas kangen karena sekian lama tidak bertemu. Tapi saat Arie mengantar pulang, Tiana kaget tak terkira karena di depan pintu rumah ternyata Arie tiba-tiba menyatakan diri ingin menikahi dirinya.

Tiana tentu saja kaget dan tak bisa menjawab apa-apa. Tentu butuh waktu untuk memikirkannya. Suara Aria yang keras saat menyatakan diri ingin menikahi Tiana didengar Harun yang membuat Harun sangat kecewa dan besoknya serta merta langsung mengusir Tiana dari rumahnya.

Sejak itu, Tiana dan Harun berpisah. Kemudian, Tiana jadi dekat dengan Arie yang tampaknya akan melanjutkan hubungan yang serius. Tiana harus menemani Harun yang tugas dinas di luar negeri.

Tapi ternyata profesi Arie sebagai dokter yang harus menangani Harun sebagai pasien  membuat Tiana otomatis harus kembali berhubungan dengan Harun. Sebuah hubungan yang sangat dilematis, menjadi kisah cinta segitiga yang terjalin di antara mereka bertiga.

Film ini sederhana dan penuh kedalaman tentang kisah cinta, hadir dari kebersamaan yang sama-sama punya kenangan kelam. Menyutradarai film ini, Hanung Bramantyo pada saat jumpa pers mengaku kembali menjadi diri sendiri.

Memang demikianlah adanya, Hanung akhir-akhir ini lebih banyak menggarap film-film megah-mewah seperti Gending Sriwijaya (2013), Soekarno: Indonesia Merdeka (2013), Rudy Habibie (2016), Surga yang Tak Dirindukan 2 (2017), Kartini (2017), hingga Benyamin Biang Kerok (2018) yang kontroversial.

Publik yang merindukan Hanung yang sederhana dan penuh kedalaman sebagaimana dulu menggarap Brownies (2004), Catatan Akhir Sekolah (2005), hingga Perahu Kertas (2012), kini menemukan Hanung memang kembali menjadi dirinya sendiri.

Terlebih, skenario garapan Ifan Adriansyah Ismail yang baik dan matang dari cerita asli yang digagas Anirudhya Mitra. Sayangnya, ada bagian cerita yang tampak hanya sekedar untuk mendramatisir film ini.

Reza dan Ayushita tampak begitu kompak dalam memerankan karakter yang sama-sama kuat. Keduanya seperti saling memperkuat dan menjalin chemistry dengan sebaik mungkin.

Dengan film ini, Reza seperti kembali membuktikan diri sebagai aktor yang kuat, serius dan matang. Ayushita yang juga termasuk aktris matang menjadi penyimbang, bahkan seperti “mendukung” kembalinya Reza setelah film Benyamin Biang Kerok (2018) yang kontroversial.

Menyaksikan film produksi Seven Sunday Films ini, seperti diingatkan untuk tidak terlalu larut dalam kenangan kelam yang setiap orang pasti mengalaminya. Sebuah film memang tak hanya hiburan semata, tapi juga menyampaikan pesan positif dan baik pada penontonnya.

Istilah anak muda zaman now, kita harus “move on” harus mau bangkit dari kenangan kelam untuk melangkah ke depan menjadi lebih baik.

Baca Juga
Lihat juga...