Tingkatkan Komoditas Cengkih, Petani Gunakan Pupuk Organik

249

LAMPUNG — Kendala dalam mendapatkan pupuk jenis NPK dan SP-36 untuk merangsang pertumbuhan tanaman cengkih disiasati petani di desa Tamanbaru kecamatan Penengahan Lampung Selatan dengan menggunakan pupuk organik dari campuran pupuk kandang, limbah kulit kakao, serabut kelapa dan kiambang.

Jafar (70) salah satu petani cengkih di desa Tamanbaru menyebutkan, untuk mendapatkan pupuk bersubsidi saat ini terkendala akan adanya pendistribusian dengan billing system melalui kelompok tani.

“Salah satu kendala kami dalam penyediaan pupuk bersubsidi karena tidak menjadi anggota kelompok tani, tapi justru ini membuat saya bisa berkreasi menciptakan pupuk organik tanpa harus membeli memanfaatkan potensi yang ada untuk ketersediaan pupuk,” terang Jafar salah satu petani penanam cengkih di kaki Gunung Rajabasa saat ditemui Cendana News, Kamis (17/5/2018)

Pada lahan satu hektar miliknya Jafar menyebut menanam sekitar 500 batang cengkih, 200 batang kelapa dan di sela sela tanaman tersebut ditanam 300 tanaman kakao.

Jafar menyebut cara menanam cengkih agar berbuah lebat tidak terlepas dari pengolahan lahan yang baik. Pada tahap penyiapan bibit dua bulan sebelum ditanam disiapkan lahan dengan lubang yang diberi pupuk kandang. Setelah tanaman tumbuh dengan baik pemberian pupuk dilakukan secara berkala setiap 4 bulan sekali sekaligus penanganan hama dengan pestisida.

“Proses penggemburan tanah dan juga pemberian pupuk di sekeliling tanaman dilakukan dengan memanfaatkan limbah pertanian,” sebutnya.

Tanaman cengkih
Tanaman cengkih menjelang masa panen yang akan dilakukan saat sudah mulai bunga mekar pada awal bulan Juni [Foto: Henk Widi]
Pengolahan pupuk organik dibantu anaknya dengan menyiapkan lokasi khusus untuk pencampuran limbah pertanian. Limbah pertanian berupa sabut kelapa, kulit kakao, kotoran ternak kambing dicampurkan dalam satu lubang besar.

Selama pupuk diolah dalam lubang besar ia juga mempersiapkan lubang berjarak satu meter di sekeliling perakaran cengkih. Lubang tersebut selanjutnya diberi campuran pupuk yang sudah jadi sekaligus menjadi lubang sampah agar kebun miliknya tetap bersih.

“Cara ini sudah saya lakukan sejak puluhan tahun silam sehingga hasil produksi cengkih yang saya tanam maksimal dari pemanfaatan pupuk organik,” terang Jafar.

Selain mempergunakan pupuk organik di dua lahan miliknya, sebagian tanaman yang sudah berusia di atas 50 tahun peninggalan keluarga mulai diregenerasi.

Regenerasi tanaman disebutnya disediakan dengan membuat semaian bibit dari pohon yang sudah berusia tua dan memiliki hasil panen cukup baik. Beberapa pohon tak produktif sengaja ditebang diganti tanaman baru yang bisa dipanen saat usia lima tahun.

“Regenerasi tanaman mutlak dilakukan agar produksi bisa berkelanjutan untuk memberi hasil yang melimpah,”papar Jafar.

Pohon yang mulai berbunga pada bulan Maret hingga April diakui Jafar sudah bisa dipanen pada awal bulan Juni mendatang secara bertahap.

Saat ini rata rata berusia lebih dari 10 tahun bisa menghasilkan 5 kilogram sekali petik dan bisa dipanen hingga 6 kali. Saat ini harga per kilogram dalam kondisi kering dijual seharga Rp90.000 bahkan bisa mencapai Rp130.000 dalam kondisi kering.

“Jika dikalkulasi dalam angka memang sangat besar hasilnya namun perawatan dan penjagaan harus kami lakukan siang malam apalagi jelang panen karena rawan pencurian,” terang Jafar.

Baca Juga
Lihat juga...