Trilogi Pembangunan, Panduan Partai Berkarya Membangun Indonesia

Editor: Satmoko

330
Priyo Budi Santoso, Sekjen Partai Berkarya, Foto. M. Fahrizal

DI tengah situasi kebangsaan Indonesia yang sedang tidak stabil dalam bidang ekonomi dan keamanan nasional, Sekjen Partai Berkarya Priyo budi Santoso mengajak seluruh bangsa Indonesia, khususnya seluruh kader Partai Berkarya, untuk membangun Indonesia lebih baik. Yaitu melalui konsep Trilogi Pembangunan yang pernah dicanangkan oleh Pak Harto. 

Bagi Priyo, Trilogi Pembangunan merupakan ajaran Pak Harto yang positif dan bisa dijadikan panduan untuk penyelamatan bagi bangsa dan negara Indonesia. “Agar negeri ini tidak masuk dalam tubir jurang yang membahayakan,” jelas Priyo, di Gedung Granadi, pada akhir pekan kedua bulan Ramadhan ini.

Menurut Priyo, Trilogi Pembangunan merupakan konsep yang pernah diterapkan oleh Pak Harto dalam menentukan kebijakan politik, ekonomi, dan sosial, sehingga menjadikan Indonesia bertata kehidupan yang toto-titi-tentrem kerto raharjo, murah sandang, murah pangan, murah papan.

Trilogi Pembangunan tersebut, pertama, yaitu terpeliharanya stabilitas nasional yang dinamis. Kedua, yaitu terjadinya pertumbuhan ekonomi yang tinggi. Dan ketiga, yaitu terjadinya pemerataan pembangunan berikut hasil-hasilnya. “Trilogi Pembangunan ini akan kami jadikan patron dalam pergerakan sehari-hari Partai Berkarya,” ujar Priyo.

Dengan Trilogi Pembangunan tersebut, Priyo mewacanakan penerapan kembali konsep Trilogi Pembangunan menjadi langkah strategis sekaligus mantra bagi pembangunan.

Bagaimanapun, Trilogi Pembangunan merupakan pintu masuk untuk melakukan delapan jalur pemerataan yang pernah dicoba oleh Pak Harto selama menjadi mandataris MPR.

Delapan jalur pemerataan itu mencakup; (1) pemerataan pemenuhan kebutuhan pokok rakyat banyak, khususnya pangan, sandang dan papan; (2) pemerataan kesempatan memperoleh pendidikan dan pelayanan kesehatan; (3) pemerataan pembagian pendapatan; (4) pemerataan kesempatan kerja; (5) pemerataan kesempatan berusaha; (6) pemerataan kesempatan berpartisipasi dalam pembangunan khususnya bagi generasi muda dan kaum wanita; (7) pemerataan penyebaran pembangunan di wilayah tanah air; dan (8) pemerataan kesempatan memperoleh keadilan.

Dalam amatan Priyo, Trilogi Pembangunan dan delapan jalur pemerataan ini, saat diterapkan oleh Pak Harto selama memimpin, pernah menjadikan Indonesia disebut sebagai “Macan Asia”, melebihi kondisi Republik Rakyat China (RRC) saat itu.

Dengan Trilogi Pembangunan ini, terbukti, Pak Harto bisa mengaplikasikan dengan baik dalam Program Rencana Pembangunan Lima Tahun (Repelita), serta mengejawantahkannya dalam Garis-Garis Besar Haluan Negara (GBHN).

“Trilogi Pembangunan akan menjadi visi, misi, dan platform Partai Berkarya yang nasionalis, religius, serta mengedepankan kerja dan karya,” tandas Priyo.

Ketika Pak Harto memimpin Indonesia, kata Priyo, dengan adanya Rencana Pembangunan Lima Tahun (Repelita), siapa pun pemimpin negara ataupun menteri, dapat terlihat capaian-capaiannya atau kekurangan-kekurangannya selama lima tahun berjalan.

Kemudian, dengan adanya GBHN, menjadi sangat jelas, ke mana arah dan tujuan bangsa Indonesia selama lima tahun, 10 tahun, atau mungkin dalam satu periode. Ukuran pencapaian konsep Repelita dan GBHN sangat bisa dilihat bersama.

Selama Priyo mengunjungi berbagai daerah bersama Ketua Umum Partai Berkarya Hutomo Mandala Putra (Tommy Soeharto), ia melihat secara langsung berbagai wujud kerinduan masyarakat terhadap kepemimpinan Pak Harto yang sukses membangun Indonesia.

Ketika Priyo dan Tommy Soeharto masuk pasar, simbok-simbok bakul (ibu-ibu pedagang pasar) banyak yang teriak histeris melihat kedatangan Tommy Soeharto yang merupakan putra dari Pak Harto, lalu berbondong-bondong mengajak bersalaman dan berfoto.

Selain di Pasar, di berbagai tempat lain, banyak kalangan masyarakat yang histeris ketika bertemu Tommy Soeharto. “Ini ya, mas Tommy, putranya Presiden Soeharto,” begitulah Priyo menirukan luapan perasaan para ibu-ibu pedagang pasar dan masyarakat akar rumput di berbagai tempat.

“Saya merasakan sendiri, dulu, ketika bertemu langsung dengan Pak Harto, senyum khas dari Pak Harto membuat sejuk, dan terlihat sangat berwibawa. Dan untuk pertama kalinya ketika saya menjadi anggota DPR, saya mengetahui tentang gagasan-gagasan beliau dari berbagai lini/sektor. Dan saya menaruh hormat yang tinggi kepada beliau atas prestasi-prestasi yang beliau capai ketika memimpin negeri ini. Kekurangan dari beliau telah tertutupi dengan sedemikian besar jasa-jasa yang beliau capai,” ungkapnya.

Dalam membangun Partai Berkarya, Priyo memiliki perhitungan yang matang. Ia yakin, Partai Berkarya lolos dari Parliamentary Treshold, bahkan jauh di atas Parliamentary Treshold. Harapannya, Partai Berkarya bisa menjadi 5 besar dalam perolehan suara nasional.

Bagi Priyo, tidak ada skenario tidak lolos ataupun kalah. Sebagai Partai yang mengusung Trilogi Pembangunan Pak Harto, menurut Priyo, Partai Berkarya yang dipimpin langsung oleh Hutomo Mandala Putra sebagai putra Presiden Soeharto ini, merupakan Partai yang dilahirkan dengan tujuan mensejahterakan rakyat.

Tagline Berkarya, yakni, “partai berkarya menang, rakyat makmur”, menurut Priyo, merupakan ide orisinil dari Tommy Soeharto. Tagline tersebut memiliki arti, bahwa Partai Berkarya ingin bekerja penuh untuk memakmurkan negeri, kesejahteraan rakyat, memperbaiki ekonomi, memberikan perhatian penuh terhadap kaum-kaum yang terpinggirkan, bekerja penuh untuk membela kaum-kaum papa dan miskin yang selama ini tidak mendapatkan perhatian secara maksimal karena situasi dan tata aturan undang-undang tidak memihak kaum miskin.

“Saya sudah bertemu Mbak Tutut, Mbak Titiek, Mas Sigit Harjoyudhanto, serta berbagai unsur keluarga lainnya. Saya berkesimpulan, Mas Tommy tidak akan sendirian dalam bergerak membangun bangsa dan negara ini. Jika saatnya tiba, Mbak Tutut akan ikut bicara. Ditunggu saja momentum waktunya,” pungkas Priyo.

Baca Juga
Lihat juga...