Umat Buddha Rayakan Tri Suci Waisak 2562 di TMII

Editor: Mahadeva WS

467

JAKARTA – Ratusan umat Buddha merayakan hari raya Tri Suci Waisak 2562 Buddhis Era 2018 di Wihara Arya Dwipa Arama Taman Mini Indonesia Indah (TMII), Jakarta, Selasa (29/5/2018).

Direktur Umum TMII Taufik Sukasah berharap, perayaan Waisak tahun ini menjadi momentum menyucikan diri dan membersihkan hati untuk memperteguh serta mempererat hubungan antar umat beragama. “Selamat Hari Raya Waisak bagi umat Buddha. Waisak ini momen menyucikan dan bersihkan hati untuk kedamaian serta kebahagiaan,” kata Taufik saat menyampaikan sambutannya perayaan Tri Suci Waisak 2562 di Wihara Arya Dwipa Arama TMII, Jakarta, Selasa (29/5/2018).

Direktur Umum TMII, Taufik Sukasah pada perayaan Tri Suci Waisak 2562 Buddhis Era 2018 di Wihara Arya Dwipa Arama TMII, Jakarta, Selasa (29/5/2018). Foto : Sri Sugiarti.

Menurutnya, kedamaian untuk mempererat hubungan antar agama sangatlah jelas digambarkan dalam pesan sang Buddha. Dengan demikian, semoga di Waisak kali ini, umat Buddha bisa meresapi hadirnya cinta kasih untuk mempererat harmonisasi persaudaraan.

Ketua Panitia Keluarga Budhis,  Abdi Negara Suyatno mengatakan, ada 300 umat Buddha mengikuti perayaan Waisak di Wihara Arya Dwipa Arama TMII. Mereka yang mengikuti perayaan berprofesi sebagai guru,TNI, Polri dan Aparatur Sipil Negara (ASN) dari Jakarta, Bogor, Depok, dan Bekasi (Jabodetabek).

Perayaan ritual dan ibadah yang dilakukan mencontoh apa yang dilakukan sang Buddha. “Sang Buddha mengajarkan cinta kasih, belas kasih, simpatik, dan ketenangan hati hingga tercipta keharmonisan persaudaraan,” ucap Suyatno.

Usai berdoa, umat Buddha melakukan doa pemberkatan air untuk keselamatan. Ada tiga ribu botol yang dibacakan seribu kali Ratanasutta. Setelah itu, umat Buddha melepaskan binatang ke alam. Tahun ini dilepas 1.000 ekor burung.

Pada intinya, perayaan Waisak kali ini umat Buddha melakukan ritual dengan sembahyang puja bakti bertemakan Bertindak, Berucap dan Berpikir Baik Memperkokoh Keutuhan Bangsa. “Umat Buddha juga melakukan prosesi Pradaksina atau menghormati objek pemujaan (vihara) dengan berputar vihara searah jarum jam sebanyak tiga kali,” ujarnya.

Dijelaskannya, Waisak adalah hari raya umat Buddha memperingati tiga peristiwa penting suci dalam kehidupan guru agung Buddha Gautama atau disebut sebagai Tri Suci Waisak.

Tiga peristiwa tersebut, terjadi tepat di bulan purnama penuh dibulan Waisak. Peristiwanya yaitu, lahirnya bayi Siddharta calon Buddha pada 623 SM Bayi yang dilahirkan mempunyai 32 tanda. Artinya orang besar dan kemudian hari menjadi Buddha.

Iring-iringan umat Budha dipadu oleh bhikshu mengeliling TMIIpada perayaan Tri Suci Waisak 2562 Buddhis Era 2018, pada Selasa (29/5/2018). Foto : Sri Sugiarti

Peristiwa kedua adalah, pertapa  Siddharta Gautama mencapai pencerahan menjadi Buddha pada 588 SM. Dan peristiwa terakhir adalah wafatnya Buddha Gautama pada 543 SM saat berusia 80 tahun. “Ketika wafat,  Buddha Gautama meninggalkan pesan agar siswa-siswanya memandang ajarannya sebagai guru mereka,” jelas Suyatno.

Hari Tri Suci Waisak dirayakan dengan penuh sukacita.  Nyanyian lagu Budhis yang syairnya berupa kutipan ajaran Buddha Dharma mengisi acara. Selain itu di Wihara Arya Dwipa Arama juga dilakukan iring-iringan umat Buddha yang dipandu oleh bhiksu berjalan mengelilingi TMII searah jarum jam.

Iring-iringan dilakukan tanpa menggunakan alas kaki dengan membawa bunga sedap malam sebagai simbol menguji kesabaran hati. Mereka pun terlihat sangat antusias mengikuti proses ritual tersebut.

Baca Juga
Lihat juga...