Warga Lampung Timur Raup Penghasilan Berlipat dari Pembenihan Ikan

Redaktur: ME. Bijo Dirajo

307

LAMPUNG — Potensi perairan air tawar di wilayah kecamatan Pasir Sakti kabupaten Lampung Timur dimanfaatkan warga untuk budidaya ikan. Mulai dari enis lele, nila, bawal, patin, emas dan gurame.

Muhamad Rozak (38) salah satu warga yang memanfaatkan peluang tersebut mulai menekuninya sejak 2003. Berbagai jenis ikan air tawar tersebut dipijahkan untuk mendapatkan bibit atau anakan yang selanjutnya dijual kepada pembudidaya.

Bermodalkan Rp8 juta dan memanfaatkan lahan di sekitar rumah yang merupakan bekas galian pasir yang terbengkelai dan menjadi tempat pembuangan sampah, ia mulai menyiapkan kolam semen, terpal serta memperbaiki kolam tanah total seluas setengah hektare.

Selain itu, indukan lele sangkuriang dan mutiara serta sejumlah indukan bersertifikat dibeli dari Metro dan Parung Bogor untuk menghasilkan benih bermutu. Lokasi penyiapan larva benih ikan, ia menyiapkan 20 kolam dari semen dengan ukuran panjang 8 meter dan lebar 3 meter.

“Beberapa kolam yang saya miliki merupakan bekas galian pasir sehingga ditumbuhi tanaman air justru menjadi tempat pemijahan ikan yang bagus secara alamiah,” terang Muhamad Rozak saat ditemui Cendana News, Selasa (29/5/2018).

pembibitan lele
Muhamad Rozak menengok kolam indukan untuk pembibitan lele jenis sangkuriang [Foto: Henk Widi]
Ia menyebutkan, permintaan paling dominan dari jenis lele sangkuriang dan lele mutiara. Sementara untuk yang lainnya didominasi oleh pembudidaya lokal yang memanfaatkan bekas galian pasir.

Ketelatenan menjadi kunci dalam menekuni usaha pembenihan ikan sejak usia 22 tahun. Meski awalnya hanya memiliki lima kolam, ia mulai memperbanyak indukan sehingga benih yang dihasilkan juga banyak.

Ikan lele sangkuriang yang dimiliki saat ini mencapai 50 indukan campuran jantan dan betina dan lele mutiara juga 50 ekor campuran. Sementara jenis ikan lainnya mencapai ratusan karena masih hidup secara alami.

“Pemijahan paling rumit hanya pada lele karena harus dikawinkan, dipisahkan saat berbentuk larva hingga usia beberapa minggu, harus telaten,” beber Rozak.

Harga  Rp140 perekor berukuran 5 cm hingga 8 cm diklaimnya sangat murah. Hal tersebut menjadi daya tarik tersendiri bagi pembudidaya. Bahkan karena banyaknya permintaan, ia sudah memiliki agen penjualan bekerjasama dengan adiknya yang tinggal di kecamatan Palas, Lampung Selatan.

“Karena nama saya banyak dikenal, sebagian pembudidaya justru datang langsung ke sini membeli benih sekaligus melihat proses pembenihan,”cetus Rozak.

Rata rata perbulan ia bisa menjual benih ikan lele sangkuriang dan mutiara sebanyak 150.000 benih dengan rata rata harga jual Rp100 per ekor.

“Untuk benih leleh bisa mendapat omzet Rp15 juta per bulan,” sebutnya.

Hasil tersebut belum termasuk jenis ikan lain yang juga bisa memberinya omzet sekitar Rp5 juta per bulan yang dipergunakan untuk biaya operasional.

Agus Siswanto, pemilik kolam ikan bekas galian pasir menyebut semula membeli benih dari milik Rozak. Berkat benih yang dibeli tempat kolam pemancingan bahkan menjadi usaha lanjutan berkonsep tempat wisata.

Potensi lahan bekas galian pasir disebutnya memberi peluang warga membuat keramba jaring apung dan kolam untuk budidaya ikan air tawar memberi penghasilan tambahan bagi warga.

Baca Juga
Lihat juga...