Agar Asap Dapur Tetap Mengepul Watini Terpaksa Hadapi Jurang Terjal

Redaktur: ME. Bijo Dirajo

251

YOGYAKARTA — Sejak pagi Watini (39) nampak sibuk dengan pekerjaannya. Bermodal sebuah kain gendongan, ia tak henti menaiki dan menuruni lereng jurang terjal hampir setinggi 25 meter.

Bukan hasil panen atau kayu bakar yang ia bawa. Melainkan bongkahan-bongkahan batu berukuran cukup besar yang ia ambil dari dasar kali.

Warga dusun Watu Belah, Sidomulyo, Pengasih, Kulonprogo, Yogyakarta itu memang berprofesi sebagai penambang batu kali. Ia mengaku terpaksa menjalani pekerjaan berat itu demi memenuhi kebutuhan keluarga sehari-hari.

“Setiap hari saya angkut batu dari dasar kali ke tepi jalan. Biasanya dari pagi hingga sore hari bersama suami. Tapi karena suami ada pekerjaan lain, maka saya kerjakan sendiri,” katanya.

Di kawasan perbukitan Menoreh, Pengasih, Kulonprogo ini memang banyak terdapat aliran sungai di dasar-dasar jurang. Saat kemarau, air sungai biasanya menyusut sehingga batu-batu dapat mudah diambil.

“Karena lereng jurang terlalu curam, maka kendaraan tidak bisa turun. Harus diambil secara manual. Kebetulan rumah saya berada di dekat sungai ini. Jadi saya biasa menambang batu untuk dijual,” katanya.

Watini
Watini nampak tengah mengangkut batu kali dari lereng jurang untuk dijual sebagai pondasi. Foto : Jatmika H Kusmargana

Ibu satu anak itu mengaku menjalani profesinya sebagai penambang batu sejak berumur 22 tahun. Setelah terkumpul, batu yang ia angkut satu per satu itu, biasanya ia jual ke pemesan untuk bahan pondasi bangunan.

“Satu kubik batu biasa dijual Rp100 ribu. Untuk mengumpulkan batu sebanyak itu biasanya saya butuh waktu 3 hari. Sampai tersusun 2 x 1 meter setinggi 0,5 meter,” katanya.

Selain kerap mendapat pesanan dari orang yang tengah membangun rumah, Watini juga biasa mendapat pesanan dari pekerja proyek perumahan. Dalam beberpa minggu bekerja ia biasanya mampu menjual hingga 20 kubik.

“Biasanya batu saya angkut secara estafet dua kali. Jadi tidak langsung dari dasar kali ke tepi jalan. Agar lebih mudah, karena jaraknya cukup jauh dan cukup tinggi,” katanya.

Saat tak ada pesanan, Watini mengaku tetap menambang batu untuk dikumpulkan di sekitar rumahnya. Di sela pekerjanya ia juga mengaku biasa membuat kerajinan tas untuk dijual.

“Tidak tahu sampai kapan (menjadi penambang batu). Ya dijalani sekuatnya dan semampunya,” pungkasnya.

Baca Juga
Lihat juga...