Angin Kencang, Harga Ikan di Sikka Melambung Tinggi

Editor: Mahadeva WS

208

MAUMERE – Dampak angin tenggara yang bertiup sangat kencang baik siang hingga malam hari di perairan NTT, harga jual ikan di TPI Alok Maumere dan beberapa pasar di Maumere naik pesat.

Kondisi tersebut dikarenakan, nelayan banyak yang memilih libur melaut. Khususnya nelayan yang bekerja dengan perahu motor berukuran di bawah tiga Gross Ton (GT). “Sudah dua minggu terakhir harga ikan yang kami beli dari kapal nelayan yang merapat di TPI Alok mengalami kenaikan. Ikan layang yang biasanya Rp100 ribu satu kantorng plastik, kini bisa dijual Rp150 ribu sampai Rp200 ribu satu kantong plastik,” tutur Aminah, pedagang ikan di Pasar Alok Maumere, Jumat (29/6/2018).

Mahalnya harga ikan dari kapal nelayan, membuat pedagang pengecer terpaksa ikut menaikan harga jual. Hal tersebut dilakukan untuk semua jenis ikan baik selar, layang, tongkol, cakalang dan ikan-ikan laut lainnya. Ikan selar berukuran dua jari orang dewasa yang biasanya dijual Rp10 ribu per-10 ekor, saat ini dijual Rp10 ribu untuk enam ekor.

Jika tidak musim angin kencang, ikan tongkol berukuran kecil dijual seekornya Rp20 ribu. Saat ini dijual seharga Rp50 ribu perekor. Ikan cakalang juga naik dari Rp75 ribu sampai Rp100 ribu perekor, menjadi Rp100 ribu sampai Rp150 ribu perekor.

“Kalau angin sudah reda, biasanya harga ikan kembali normal. Apalagi saat musim bulan gelap, harga ikan yang dibeli dari bagan atau kelong dan juga perahu nelayan bisa lebih murah dari harga biasanya,” tandasnya.

Jalo, salah seorang nelayan di Kampung Buton kelurahan Kota Uneng kabupaten Sikka. Foto : Ebed de Rosary

Jalo, seorang nelayan Kampung Buton mengatakan, nelayan di Kabupaten Sikka untuk sementara berhenti melaut saat siang hari. Hal itu mempertimbangkan tingginya gelombang di perairan Teluk Maumere dan laut Flores. Saat ini tercatat gelombang laut bisa mencapai ketinggian satu hingga 1,5 meter.

“Kalau angin sudah mulai reda kami akan melaut pukul 3 sore tetapi kalau belum reda biasanya kami akan melaut usai Magrib atau malam hari hingga subuh baru kembali. Biasanya angin tenggara akan berhenti setelah 3 minggu sampai sebulan,” tuturnya.

Kalau angin tidak kencang, nelayan berperahu motor di bawah lima Gross Ton (GT) biasanya memancing sore hingga malam hari sejauh satu hingga dua mil. Sementara nelayan yang menggunakan perahu 10 sampai 30 GT, biasanya memancing ikan cakalang hingga ke laut lepas.

“Saat musim angin tenggara yang kencang, nelayan tidak melepas pukat di tengah laut dan memilih melepaskan pukat di sekitar pelabuhan Laurens Say Maumere atau di perairan  teluk Maumere yang hanya berjarak sekira 300 meter dari pesisir pantai,” pungkasnya.

Lihat juga...

Komentar Anda

Alamat email anda tidak akan disiarkan.